Bencana AlamNasional

Pencarian 5 Jurnalis dan 3 Kru di Anak Krakatau Dihentikan, Pemantauan Tetap Berlanjut

Operasi pencarian jurnalis Anak Krakatau bersama tiga kru kapal yang hilang di kawasan Selat Sunda akhirnya resmi dihentikan. Keputusan tersebut diambil setelah tim SAR gabungan menjalankan operasi selama 10 hari, termasuk masa perpanjangan selama tiga hari, tanpa menemukan petunjuk yang dapat memastikan keberadaan delapan orang maupun kapal yang mereka gunakan.

Rombongan tersebut terdiri atas lima jurnalis dan tiga kru yang berada di kapal Arupadhatu I. Mereka diketahui melakukan perjalanan menuju kawasan Gunung Anak Krakatau sebelum kemudian kehilangan kontak. Operasi pencarian mulai dilakukan pada 8 September 2026, sehari setelah rombongan berangkat ke sekitar kawasan gunung api tersebut.

Penghentian operasi aktif tidak berarti upaya mendapatkan informasi mengenai keberadaan rombongan benar-benar berakhir. Basarnas dan sejumlah unsur terkait masih akan melakukan pemantauan. Operasi SAR bahkan dapat kembali dibuka apabila nantinya muncul informasi atau petunjuk baru yang dianggap cukup kuat.

Pencarian Berlangsung hingga Hari Ke-10

Gubernur Banten Andra Soni menjelaskan bahwa sejak hari pertama sampai berakhirnya masa perpanjangan pencarian, tim gabungan belum memperoleh tanda-tanda yang mengarah kepada kapal maupun orang-orang yang berada di dalamnya.

Keputusan menghentikan operasi kemudian diambil setelah pencarian dinilai tidak lagi efektif dalam bentuk operasi SAR aktif. Sebelumnya, masa pencarian utama telah diperpanjang tiga hari sehingga keseluruhan operasi berlangsung sampai hari ke-10.

Pada hari terakhir, skala operasi bahkan diperbesar. Area penyisiran mencapai sekitar 8.509 nautical mile persegi dan dibagi menjadi 10 sektor. Sebanyak 24 kapal dikerahkan untuk menjangkau wilayah pencarian yang semakin luas.

Penyisiran tidak hanya berfokus pada laut. Tim juga melakukan pencarian di kawasan pesisir, termasuk wilayah dari Carita hingga Pantai Anyer. Informasi mengenai hilangnya kapal turut disebarkan kepada kapal-kapal yang melintas di Selat Sunda dengan melibatkan sejumlah instansi terkait.

Langkah tersebut dilakukan untuk memperbesar peluang memperoleh informasi apabila ada benda, kapal, atau tanda lain yang terlihat di luar sektor utama operasi SAR.

Belasan Benda Ditemukan, tetapi Tak Terkait Kapal

Selama berlangsungnya operasi, tim gabungan sempat menemukan sejumlah benda yang memunculkan harapan adanya petunjuk baru. Total terdapat 13 objek yang diperiksa, antara lain pelampung keselamatan, terpal, helm, serta galon.

Namun setelah melalui pemeriksaan dan konfirmasi pihak berwenang, benda-benda tersebut dinyatakan tidak memiliki keterkaitan dengan kapal Arupadhatu I. Dengan demikian, seluruh temuan tersebut belum dapat digunakan sebagai petunjuk keberadaan delapan orang yang dicari.

Berbagai titik juga diperiksa selama operasi berlangsung. Area pencarian terus berubah dan meluas dengan mempertimbangkan kemungkinan pergerakan objek akibat arus laut, angin, dan gelombang.

Pada hari ke-9, misalnya, tim mengerahkan 22 kapal untuk melakukan penyisiran pada area sekitar 3.439 nautical mile persegi yang dibagi menjadi delapan sektor. Pencarian bahkan dikoordinasikan dengan Basarnas Bengkulu untuk menyisir kawasan Pulau Enggano serta pesisir Bengkulu. Hasil pencarian saat itu juga belum memberikan petunjuk keberadaan rombongan.

Lima Jurnalis Hilang Saat Melakukan Peliputan

Lima jurnalis yang berada dalam rombongan tersebut adalah M Bagus Khoirunnas dari Antara, Arie Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firman Daus dari Anadolu Agency, serta Donal Husni yang merupakan jurnalis lepas.

Mereka berangkat bersama tiga kru kapal menuju sekitar Gunung Anak Krakatau pada Senin, 7 September 2026. Setelah rombongan dilaporkan kehilangan kontak, operasi SAR mulai digelar pada Selasa, 8 September 2026.

Dalam proses pencarian, tim SAR menggunakan berbagai informasi untuk menentukan wilayah penyisiran. Titik komunikasi terakhir, kondisi arus, angin hingga gelombang menjadi bagian dari pertimbangan dalam memperluas zona pencarian. Tim dari Basarnas, TNI AL, kepolisian perairan, otoritas pelabuhan, pemerintah daerah, dan unsur masyarakat turut terlibat dalam operasi tersebut.

Pencarian juga dilakukan melalui udara pada sejumlah kesempatan. Kondisi kabut dan aktivitas Gunung Anak Krakatau menjadi salah satu tantangan bagi tim ketika melakukan pengamatan dari udara di sekitar kawasan tersebut.

Kondisi Selat Sunda Menjadi Perhatian

Pada hari ke-10 pencarian, Basarnas memperoleh informasi bahwa kondisi cuaca di kawasan operasi diperkirakan berawan. Kecepatan angin berada pada kisaran 10 hingga 20 knot, sementara tinggi gelombang dilaporkan berkisar 0,5 sampai 3,5 meter.

Tim juga terus berkoordinasi mengenai perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Pada pagi hari terakhir operasi, tidak dilaporkan adanya erupsi, meskipun pengamatan kegempaan masih mencatat aktivitas vulkanik dangkal.

Sebelumnya, BNPB menyatakan Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga berdasarkan analisis Badan Geologi hingga 11 September 2026. Gunung tersebut sebelumnya mengalami periode erupsi menerus pada awal September.

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang harus diperhatikan selama pengerahan personel serta sarana pencarian di sekitar gunung api aktif itu.

Operasi Aktif Berakhir, Pemantauan Tetap Dilakukan

Meski pencarian jurnalis Anak Krakatau dan tiga kru melalui operasi SAR gabungan telah dihentikan, Basarnas memastikan jalur pemantauan tetap berjalan.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten Al Amrad mengatakan informasi mengenai kapal dan para penumpangnya tetap akan disampaikan melalui jaringan komunikasi pelayaran. Unsur TNI AL, Polairud, serta kapal yang melakukan aktivitas di Selat Sunda juga diharapkan dapat memberikan informasi apabila menemukan sesuatu yang berkaitan dengan kasus tersebut.

Dengan pola tersebut, berakhirnya operasi SAR aktif bukan berarti setiap kemungkinan informasi akan diabaikan. Aktivitas pelayaran dan patroli di kawasan Selat Sunda justru menjadi bagian penting dari fase pemantauan setelah pencarian resmi ditutup.

Basarnas juga membuka kemungkinan untuk kembali mengaktifkan operasi SAR apabila di kemudian hari ditemukan petunjuk yang dapat diverifikasi. Informasi baru mengenai kapal, benda yang berkaitan dengan rombongan, maupun tanda keberadaan orang yang hilang akan menjadi dasar untuk melakukan evaluasi lebih lanjut.

Setelah sepuluh hari pencarian dengan wilayah penyisiran yang terus diperluas dan puluhan kapal dikerahkan, hingga operasi resmi ditutup pada Kamis, 17 September 2026, keberadaan Arupadhatu I beserta lima jurnalis dan tiga kru di dalamnya masih belum diketahui. Kini, upaya beralih dari operasi pencarian aktif menuju pemantauan sambil menunggu kemungkinan munculnya petunjuk baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *