Curhat Siswa SD Usai TKA Numerasi: Gampang-Gampang Susah, Pecahan Jadi Tantangan
Curhat siswa SD usai TKA numerasi menjadi sorotan setelah pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026. Sejumlah siswa mengaku soal matematika yang mereka hadapi terasa “gampang-gampang susah”, terutama pada materi pecahan yang dinilai paling menantang.
Pelaksanaan TKA jenjang sekolah dasar dimulai pada April 2026. Ujian ini menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk memetakan kemampuan akademik siswa, khususnya dalam literasi dan numerasi.
Curhat Siswa SD Usai TKA Numerasi: Antara Mudah dan Sulit
Sejumlah siswa dari SDN Rawabuntu 03, Tangerang Selatan, mengungkap pengalaman mereka setelah menyelesaikan soal TKA numerasi.
Salah satu siswa, Bunga Saskia, menilai tingkat kesulitan soal cukup beragam. Ia menyebut beberapa soal terasa mudah, namun tidak sedikit yang sulit.
“Lumayan gampang-gampang susah,” ujarnya usai ujian.
Pengalaman serupa juga disampaikan siswa lain. Mereka sepakat bahwa meski sebagian soal bisa dikerjakan, ada bagian yang membutuhkan pemahaman lebih dalam.
Soal Pecahan Jadi Tantangan dalam TKA Numerasi
Materi Pecahan Paling Sulit
Dalam curhat siswa SD usai TKA numerasi, materi pecahan muncul sebagai tantangan utama. Beberapa siswa mengaku kesulitan memahami dan menyelesaikan soal terkait pecahan.
“Yang susah kayak pecahan,” kata salah satu siswa.
Pendapat ini juga diamini siswa lain yang menyebut soal pecahan cukup banyak muncul dalam ujian. Hal ini menunjukkan bahwa materi tersebut masih menjadi titik lemah bagi sebagian siswa sekolah dasar.
Selain pecahan, beberapa siswa juga menyinggung soal berbasis analisis seperti diagram dan statistik yang membutuhkan kemampuan berpikir logis.
Curhat Siswa SD Usai TKA Numerasi: Soal Sesuai Kisi-Kisi
Materi Tidak Jauh dari Latihan
Meski ada kesulitan, siswa mengaku soal TKA numerasi masih sesuai dengan kisi-kisi yang telah dipelajari sebelumnya.
Beberapa siswa menyebut bentuk soal mirip dengan latihan yang ada di buku atau bank soal. Hal ini membantu mereka lebih percaya diri saat mengerjakan ujian.
“Lumayan ada di buku TKA,” ujar salah satu peserta.
Kesesuaian ini menjadi faktor penting yang membuat siswa tetap mampu menyelesaikan soal meski awalnya merasa tegang.
Rasa Tegang Berubah Jadi Percaya Diri
Dari Takut Jadi Lebih Tenang
Curhat siswa SD usai TKA numerasi juga menggambarkan perubahan emosi selama ujian berlangsung. Banyak siswa mengaku awalnya merasa gugup dan takut tidak bisa menjawab soal.
Namun setelah melihat soal, rasa cemas tersebut perlahan berkurang.
“Awalnya tegang, tapi pas lihat soal jadi lebih mudah,” ungkap salah satu siswa.
Hal ini menunjukkan bahwa faktor psikologis turut memengaruhi performa siswa dalam ujian.
Persiapan Siswa Hadapi TKA Numerasi
Belajar Mandiri dan Latihan Soal
Dalam menghadapi TKA, siswa melakukan berbagai persiapan sederhana. Mayoritas mengaku belajar melalui:
- membaca materi
- mengerjakan latihan soal
- merangkum pelajaran
Beberapa siswa juga menekankan pentingnya fokus saat belajar agar materi dapat dipahami dengan baik.
Mereka mengandalkan buku latihan dan bank soal yang disediakan untuk memperdalam pemahaman sebelum ujian.
TKA Dorong Kemampuan Berpikir Analitis
Pelaksanaan TKA tidak hanya menguji kemampuan menghitung, tetapi juga mendorong siswa berpikir analitis.
Soal-soal dirancang dalam bentuk naratif dan membutuhkan pemahaman logika, bukan sekadar hafalan rumus.
Pendekatan ini bertujuan mengukur kemampuan siswa dalam:
- memahami soal cerita
- menganalisis data
- menarik kesimpulan
Dengan demikian, TKA diharapkan dapat memberikan gambaran lebih komprehensif tentang kemampuan akademik siswa.
Struktur dan Jadwal TKA SD 2026
TKA SD 2026 terdiri dari dua mata pelajaran utama:
- Matematika/Numerasi
- Bahasa Indonesia/Literasi
Masing-masing mata ujian terdiri dari 30 soal dengan waktu pengerjaan sekitar 75 menit.
Pelaksanaan TKA dilakukan dalam beberapa gelombang, dengan total jutaan siswa mengikuti ujian ini secara nasional.
Kesimpulan
Curhat siswa SD usai TKA numerasi menggambarkan realitas di lapangan: soal tidak sepenuhnya sulit, tetapi tetap menantang. Materi pecahan menjadi salah satu hambatan utama, sementara soal berbasis analisis juga menguji kemampuan berpikir lebih dalam.
Meski begitu, kesiapan melalui latihan dan kesesuaian dengan kisi-kisi membantu siswa tetap mampu menyelesaikan ujian. Pengalaman ini sekaligus menunjukkan bahwa TKA tidak hanya mengukur kemampuan akademik, tetapi juga kesiapan mental dan daya pikir siswa.

