Empat Wilayah di Sulsel Berstatus KLB Campak, 69 Persen Kasus Terjadi karena Belum Imunisasi
Empat Wilayah di Sulsel Berstatus KLB Campak
Empat wilayah di Sulawesi Selatan berstatus Kejadian Luar Biasa (KLB) campak setelah lonjakan kasus penyakit menular tersebut ditemukan dalam beberapa bulan terakhir. Data Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa sebagian besar kasus terjadi karena anak belum mendapatkan imunisasi dasar campak.
Pemerintah daerah mencatat setidaknya 169 kasus positif campak dari 1.304 kasus yang telah diperiksa, dengan sekitar 69 persen kasus terjadi pada anak yang belum menerima imunisasi campak.
Empat daerah yang saat ini berstatus KLB campak adalah Kota Makassar, Kabupaten Sinjai, Kabupaten Luwu, dan Kabupaten Wajo. Pemerintah provinsi bersama dinas kesehatan kabupaten/kota kini mempercepat langkah penanganan untuk mencegah penyebaran lebih luas.
Lonjakan kasus tersebut memicu kewaspadaan pemerintah daerah, terutama karena penyakit campak sangat mudah menular dan berisiko menyerang anak-anak yang belum memiliki kekebalan tubuh.
Lonjakan Kasus Campak di Sulsel
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, Evi Mustikawati Arifin, menjelaskan bahwa peningkatan kasus campak mulai terlihat sejak akhir 2025 dan terus meningkat pada awal 2026.
Dari hasil pemeriksaan epidemiologi yang dilakukan di berbagai wilayah, ditemukan bahwa 1.304 kasus suspek campak telah diperiksa, dan 169 di antaranya dinyatakan positif setelah uji laboratorium.
Kasus tersebut tersebar di sejumlah kabupaten/kota di Sulawesi Selatan. Namun empat daerah mencatat jumlah kasus paling tinggi sehingga ditetapkan sebagai daerah dengan status KLB.
Peningkatan kasus ini juga membuat pemerintah daerah memperketat pengawasan kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit.
Rendahnya Imunisasi Jadi Penyebab Utama
Hasil penyelidikan epidemiologi menunjukkan bahwa rendahnya cakupan imunisasi menjadi faktor utama penyebaran penyakit ini.
Sekitar 69 persen kasus campak terjadi karena anak belum mendapatkan imunisasi campak, sehingga tidak memiliki perlindungan terhadap virus tersebut.
Campak merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dan sangat mudah menular melalui percikan air liur ketika penderita batuk atau bersin. Anak yang belum mendapatkan vaksin memiliki risiko lebih tinggi tertular ketika berada di lingkungan dengan kasus campak.
Para tenaga kesehatan menilai bahwa cakupan imunisasi yang tidak merata menyebabkan terbentuknya celah penularan di masyarakat.
Selain itu, rendahnya kesadaran sebagian orang tua untuk membawa anak mengikuti imunisasi dasar juga menjadi tantangan dalam upaya pencegahan penyakit menular tersebut.
Upaya Pemerintah Menangani KLB Campak
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan bersama dinas kesehatan kabupaten/kota telah melakukan berbagai langkah untuk menekan penyebaran penyakit campak.
Salah satu langkah utama adalah melakukan Outbreak Response Immunization (ORI) atau imunisasi respons wabah di wilayah yang terdeteksi memiliki kasus campak.
Program imunisasi ini menyasar anak usia 9 bulan hingga 59 bulan yang berada di wilayah terdampak maupun daerah yang berisiko tinggi.
Selain imunisasi, pemerintah juga mengeluarkan surat edaran tentang kewaspadaan terhadap campak serta memperkuat sistem pelacakan kasus di lapangan.
Jika ditemukan kasus suspek campak, petugas kesehatan akan segera melakukan verifikasi dan penelusuran kontak melalui puskesmas setempat. Proses ini dilakukan untuk mencegah penularan lebih luas di masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, tenaga kesehatan juga melakukan pendekatan langsung kepada masyarakat melalui edukasi dan kunjungan rumah atau door to door untuk memastikan anak-anak mendapatkan vaksin.
Pentingnya Kekebalan Kelompok
Para ahli kesehatan menekankan pentingnya mencapai herd immunity atau kekebalan kelompok untuk mencegah penyebaran campak.
Ketika sebagian besar anak telah mendapatkan imunisasi, virus akan lebih sulit menyebar di masyarakat karena jumlah individu yang rentan menjadi lebih sedikit.
Sebaliknya, jika cakupan imunisasi rendah, maka virus dapat dengan mudah menular dan menyebabkan wabah di suatu wilayah.
Situasi ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah karena campak tidak hanya menyebabkan demam dan ruam pada kulit, tetapi juga dapat menimbulkan komplikasi serius seperti pneumonia hingga gangguan pada sistem saraf.
Masyarakat Diminta Tingkatkan Kewaspadaan
Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan mengimbau masyarakat, terutama para orang tua, untuk segera melengkapi imunisasi anak sesuai jadwal yang dianjurkan pemerintah.
Selain imunisasi, masyarakat juga diminta menerapkan langkah pencegahan sederhana seperti menjaga kebersihan, mencuci tangan secara rutin, serta menghindari kontak dengan penderita campak.
Orang tua juga diingatkan agar tidak membawa anak yang sedang sakit ke tempat umum atau sekolah untuk sementara waktu hingga kondisi kesehatan benar-benar pulih.
Jika anak mengalami gejala seperti demam tinggi, ruam kemerahan pada kulit, batuk, atau mata merah, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.
Dengan langkah pencegahan yang tepat dan cakupan imunisasi yang tinggi, pemerintah berharap penyebaran campak di Sulawesi Selatan dapat segera dikendalikan.

