News

Pejabat AS Frustrasi: Senjata UAE Perpanjang Genosida Sudan, Drone China Jadi Senjata Mematikan RSF

Jakarta, 1 November 2025 — Di tengah gemuruh perang saudara Sudan yang sudah telan 150.000 nyawa dan gusur 12 juta orang, tuduhan keras datang dari pejabat AS: Uni Emirat Arab (UAE) jadi biang kerok yang perpanjang genosida di Darfur dengan banjiri senjata canggih ke Pasukan Dukungan Cepat (RSF). Menurut laporan Wall Street Journal (28 Oktober 2025), intelijen AS catat UAE kirim drone China, senjata ringan, artileri, dan amunisi ke RSF sejak musim semi, lewat rute smuggling via Libya, Chad, dan Uganda. “Perang ini berakhir kalau bukan karena UAE,” kata Cameron Hudson, mantan utusan AS untuk Sudan, yang frustrasi karena Abu Dhabi tak henti dukung RSF—kelompok paramiliter yang dituduh genosida terhadap etnis non-Arab Masalit. Bagi rakyat Sudan seperti Amina (32), pengungsi di El Fasher, ini bukan politik jauh—ini nyawa keluarga yang hilang di tengah krisis kemanusiaan terburuk dunia.

Konflik Sudan meledak April 2023 antara Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) di bawah Abdel Fattah al-Burhan dan RSF di bawah Mohamed Hamdan Dagalo (Hemedti). RSF, lahir dari milisi Janjaweed penjahat perang Darfur 2003, kuasai tambang emas dan pelabuhan Merah, yang 90% ekspornya mengalir ke UAE (data UN, 2024). Laporan WSJ, berdasarkan DIA dan Biro Intelijen Departemen Luar Negeri AS, catat peningkatan pasokan senjata UAE ke RSF: drone China seperti CH-95 (bisa terbang 24 jam, bawa presisi senjata), senapan mesin berat, kendaraan lapis baja, mortir, dan amunisi. Rute: kargo lewat Chad (dari Tripoli Libya) dan Uganda, hindari embargo PBB 2005.

Ini bukan tuduhan baru. Sejak Januari 2024, Middle East Eye laporkan UAE kirim senjata via Libya, Chad, Uganda—termasuk misil permukaan-ke-udara. Amnesty International (14 November 2024) temukan Nimr Ajban APC (buatan UAE dengan mesin Cummins Inggris) di posisi RSF, langgar embargo PBB. RSF, yang kuasai 70% Darfur, dituduh genosida: serangan Zamzam camp (April 2025) tewaskan 1.500, gusur 400.000, dan blokir bantuan. Guterres (30 Oktober 2025) sebut jatuhnya El Fasher (28 Oktober) “eskalasi mengerikan,” dengan 1.850 tewas dan 460 pasien/staf rumah sakit mati.

Pejabat AS frustrasi karena UAE tolak tanggung jawab. Hudson bilang, “UAE untung dari emas Sudan—$115 miliar emas Afrika tak terdeklarasi masuk Dubai dalam 10 tahun.” RSF, dengan dukungan UAE, kuasai tambang emas Darfur, ekspor 3 ton/tahun via Emiral Resources (joint venture Kush E&P dan Sudamine). UAE, anggota Quad (dengan AS, Saudi, Mesir), blokir resolusi akhir pengepungan El Fasher atau kutuk serangan masjid RSF (75 tewas). Pada 23 Maret 2025, Komandan Yasir al-Atta ancam serang bandara Chad (N’Djamena, Amdjarass) sebagai balasan dukungan UAE ke RSF.

UAE bantah keras: “Kami tak dukung kelompok mana pun di Sudan,” kata juru bicara (3 Oktober 2025), dan umumkan $100 juta bantuan kemanusiaan via Port Sudan. Tapi, panel ahli PBB (Januari 2024) konfirmasi “rotasi berat kargo UAE ke RSF,” termasuk senjata dari Haftar Libya. AS, meski frustrasi, lanjut jual senjata ke UAE: $23 miliar pada 2024, meski Biden sanksi 7 perusahaan UAE Januari 2024 atas dukung RSF.

Bagi rakyat Sudan, ini tragedi. Amina, pengungsi El Fasher, cerita ke Al Jazeera: “RSF bunuh ayah saya di Zamzam. UAE kasih senjata, tapi kami yang mati.” Krisis kemanusiaan: 12 juta gusur, 25 juta butuh bantuan, kelaparan Zamzam (Agustus 2024). RSF, lahir Janjaweed (genosida Darfur 2003, 300.000 tewas), kini kuasai semua kota Darfur, ancam partisi Sudan.

Di Indonesia, ini relevan: kita punya pengalaman proxy war di Papua atau Aceh, dan embargo senjata PBB 2005 untuk Sudan ingatkan pentingnya netralitas. Seperti kata Hudson: “UAE perpanjang genosidan Sudan untuk emas dan pengaruh.” Bagi dunia, ini panggilan: tekan UAE, paksa damai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *