Trump Minta Sekutu Ikut Amankan Selat Hormuz, Banyak Negara Pilih Menahan Diri
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memicu perhatian dunia setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, meminta sejumlah negara sekutu untuk turut terlibat dalam upaya mengamankan Selat Hormuz. Jalur laut strategis tersebut menjadi pusat perhatian global setelah konflik dengan Iran memicu gangguan besar terhadap arus perdagangan energi dunia.
Seruan Washington kepada sekutu internasional memicu beragam tanggapan. Beberapa negara menyatakan kehati-hatian, sementara sebagian lainnya secara terbuka menolak keterlibatan militer. Perbedaan sikap tersebut memperlihatkan kompleksitas politik internasional di tengah eskalasi konflik kawasan Teluk.
Selat Hormuz Jadi Titik Kritis Perdagangan Energi Dunia
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global dan sebagian besar gas alam cair internasional melewati jalur sempit yang memisahkan Iran dan Oman tersebut. Gangguan terhadap lalu lintas kapal di kawasan ini dapat berdampak langsung pada stabilitas energi global.
Situasi di kawasan tersebut memanas setelah konflik bersenjjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran meningkat sejak akhir Februari 2026. Serangan militer yang menargetkan fasilitas Iran memicu balasan berupa serangan drone dan rudal ke berbagai wilayah di Timur Tengah, termasuk jalur pelayaran strategis.
Akibatnya, lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz sempat turun drastis. Banyak perusahaan pelayaran internasional menghentikan operasi karena meningkatnya risiko keamanan, sementara sejumlah kapal memilih menunggu di perairan sekitar hingga situasi dinilai lebih aman.
Ketidakpastian tersebut memicu lonjakan harga energi global dan meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak dalam skala besar.
Trump Desak Negara Sekutu Turut Terlibat
Dalam pernyataannya kepada media internasional, Donald Trump menegaskan bahwa negara-negara yang selama ini bergantung pada jalur energi dari Teluk Persia seharusnya ikut bertanggung jawab menjaga keamanan kawasan tersebut.
Ia menilai tidak adil jika Amerika Serikat menjadi pihak utama yang menanggung beban pengamanan jalur perdagangan global tersebut. Menurut Trump, negara-negara yang memperoleh manfaat ekonomi dari kelancaran distribusi minyak melalui Selat Hormuz perlu mengambil peran lebih aktif.
Presiden AS bahkan menyebut masa depan kerja sama keamanan internasional dapat terancam jika sekutu tidak menunjukkan dukungan terhadap upaya Amerika Serikat membuka kembali jalur pelayaran tersebut.
Washington diketahui telah meminta sekitar tujuh negara untuk mempertimbangkan pengiriman kapal perang atau dukungan militer guna menjaga keamanan kapal dagang yang melintas di wilayah itu.
Negara-negara yang disebut-sebut diminta membantu antara lain Inggris, Prancis, Jepang, Korea Selatan, hingga China yang merupakan importir minyak utama dari kawasan Teluk.
Respons Beragam dari Negara Sekutu
Namun respons dari berbagai negara tidak sepenuhnya sejalan dengan harapan Washington. Sejumlah negara memilih bersikap hati-hati karena khawatir keterlibatan militer justru memperbesar risiko eskalasi konflik.
Pemerintah Jerman, misalnya, secara tegas menyatakan bahwa konflik antara Amerika Serikat dan Iran bukanlah bagian dari mandat NATO. Oleh karena itu, Berlin menilai tidak ada alasan bagi aliansi militer tersebut untuk terlibat dalam operasi di Selat Hormuz.
Juru bicara pemerintah Jerman menegaskan bahwa partisipasi dalam operasi pengamanan di wilayah tersebut tidak pernah dipertimbangkan sebelumnya dan tetap tidak menjadi opsi saat ini.
Sikap serupa juga terlihat dari sejumlah negara lain yang memilih pendekatan diplomatik atau dukungan nonmiliter.
Jepang dan Australia Pilih Bersikap Hati-hati
Jepang, yang sangat bergantung pada impor minyak dari Timur Tengah, menghadapi dilema besar terkait permintaan Washington. Di satu sisi, Tokyo membutuhkan stabilitas pasokan energi. Namun di sisi lain, keterlibatan militer di luar negeri merupakan isu sensitif dalam politik domestik negara tersebut.
Karena itu, pemerintah Jepang sejauh ini masih menahan diri untuk mengirim kapal perang ke kawasan konflik.
Australia juga mengambil sikap yang relatif serupa. Canberra dilaporkan belum berencana mengerahkan armada militer ke Selat Hormuz, meskipun tetap memantau perkembangan keamanan di kawasan tersebut secara intensif.
Prancis dan beberapa negara Eropa lainnya memilih mempertimbangkan opsi alternatif yang bersifat defensif, seperti operasi pengawasan atau penyapuan ranjau laut, tanpa terlibat langsung dalam konfrontasi militer.
Tekanan Diplomatik terhadap China
Selain sekutu Barat, Amerika Serikat juga menyoroti peran China dalam situasi ini. Beijing merupakan salah satu negara yang paling bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah, sehingga stabilitas Selat Hormuz menjadi kepentingan strategis bagi negara tersebut.
Trump secara terbuka mempertanyakan apakah China bersedia membantu menjaga keamanan jalur perdagangan energi global.
Ia bahkan mengisyaratkan kemungkinan penundaan pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden China Xi Jinping jika Beijing tidak menunjukkan sikap yang lebih jelas terkait krisis di kawasan tersebut.
Langkah tersebut dipandang sebagai bentuk tekanan diplomatik agar China ikut berkontribusi dalam menjaga stabilitas kawasan.
Dampak Terhadap Pasar Energi Global
Ketegangan di Selat Hormuz berdampak signifikan terhadap pasar energi dunia. Harga minyak sempat melonjak tajam akibat kekhawatiran bahwa konflik dapat mengganggu pasokan energi dalam jangka panjang.
Harga minyak mentah Brent bahkan sempat menembus lebih dari 100 dolar AS per barel, mencerminkan tingginya kecemasan pasar terhadap stabilitas jalur distribusi energi global.
Bagi negara-negara Asia, situasi ini sangat krusial karena sebagian besar impor energi mereka bergantung pada jalur tersebut.
Gangguan berkepanjangan berpotensi memicu kenaikan biaya energi, inflasi, serta tekanan terhadap perekonomian global.
Ketegangan Militer Masih Berlanjut
Sementara itu, konflik militer di kawasan Teluk masih berlangsung. Iran dilaporkan terus melancarkan serangan menggunakan drone dan rudal terhadap berbagai target di kawasan, termasuk wilayah sekutu Amerika Serikat.
Serangan tersebut meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya konflik regional yang melibatkan lebih banyak negara.
Di sisi lain, militer Amerika Serikat juga terus melakukan operasi di sekitar Selat Hormuz untuk mengamankan jalur pelayaran dan mencegah ancaman terhadap kapal-kapal dagang.
Beberapa laporan menyebutkan bahwa armada AS telah menghancurkan kapal-kapal yang diduga digunakan untuk menebar ranjau laut di kawasan tersebut.
Masa Depan Keamanan Jalur Energi Dunia
Perkembangan situasi di Selat Hormuz menunjukkan betapa pentingnya jalur tersebut bagi stabilitas ekonomi global. Ketika akses terhadap jalur ini terganggu, dampaknya langsung terasa pada pasar energi internasional.
Para analis menilai bahwa penyelesaian konflik secara diplomatik menjadi satu-satunya cara untuk mengurangi ketegangan dan memastikan keamanan pelayaran internasional.
Namun hingga kini, belum ada tanda-tanda bahwa pihak-pihak yang terlibat akan segera mencapai kesepakatan.
Dengan meningkatnya rivalitas geopolitik dan kepentingan energi global yang saling bertabrakan, Selat Hormuz kemungkinan akan tetap menjadi salah satu titik paling sensitif dalam peta keamanan dunia.

