Politik

Terungkap! 5 Alasan Mengapa Israel & AS Tak Pernah Tenang dengan Khamenei

KilatNews.id, Jakarta – Ali Khamenei kembali menjadi sorotan utama setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada Sabtu (28/2/2026). Namanya langsung mendominasi pemberitaan internasional di tengah eskalasi konflik tersebut.

Sejumlah media Israel melaporkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran itu tewas dalam serangan yang menghantam wilayah Iran. Namun hingga kini, kabar tersebut belum mendapatkan konfirmasi resmi dari pihak berwenang mana pun.

Media Israel, mengutip sumber pejabat setempat, menyatakan Khamenei terputus dari komunikasi sejak serangan terjadi. Keberadaannya disebut tidak diketahui, dan kondisinya masih belum dapat dipastikan.

Walla melaporkan sejumlah pejabat Israel gagal menghubungi Khamenei pasca-serangan. Sementara Channel 12 Israel menyebut keyakinan di kalangan pejabat Israel bahwa Khamenei tewas semakin menguat.

Mengutip sumber pemerintah Israel, Channel 12 juga melaporkan bahwa Khamenei setidaknya mengalami luka akibat serangan Tel Aviv terhadap sebuah bangunan yang diyakini sebagai kediamannya.

Meski berbagai klaim telah beredar, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari Israel maupun Amerika Serikat terkait kondisi Khamenei ataupun hasil akhir serangan di Teheran.

  • Kebijakan Ali Khamenei

Pada akhir 1996, Khamenei mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa pendidikan musik bagi anak-anak di bawah 16 tahun di fasilitas publik bersifat menyesatkan dan merusak moral. Kebijakan ini berdampak langsung pada penutupan sejumlah sekolah musik di Iran.

Pada 1999, ia juga mengeluarkan fatwa penting yang memperbolehkan penggunaan donor gamet pihak ketiga (sperma dan ovum) bagi pasangan infertil. Bahkan, fatwa tersebut memperkenankan penggunaan gamet donor meski pendonor telah meninggal dunia. Keputusan ini menjadi salah satu kebijakan keagamaan paling progresif di bidang reproduksi dalam konteks hukum Islam Syiah di Iran.

  • Perbedaan Tugas dan Peran Presiden dan Pemimpin Tertinggi Iran

Berdasarkan konstitusi Republik Islam Iran, Presiden Iran adalah kepala eksekutif yang dipilih secara langsung melalui pemungutan suara rakyat. Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran merupakan otoritas politik dan agama tertinggi dalam struktur kekuasaan negara.

Pemimpin Tertinggi—sering disebut juga sebagai Pemimpin Agung—dipilih oleh Majelis Ahli (Assembly of Experts), bukan melalui pemilihan umum langsung. Karena itu, secara hierarki kekuasaan, Presiden berada di bawah Pemimpin Tertinggi.

Saat ini, jabatan Pemimpin Tertinggi Iran dipegang oleh Ali Khamenei.

Fungsi Presiden dan Pemimpin Tertinggi Iran

  • Presiden Iran memiliki kewenangan:
  1. Menandatangani perjanjian dan kesepakatan dengan negara lain serta organisasi internasional.
  2. Mengajukan dan menunjuk menteri, duta besar, serta gubernur (dengan persetujuan parlemen).
  3. Memimpin kabinet dan pemerintahan.
  4. Menjabat sebagai Ketua Dewan Keamanan Nasional.
  5. Menunjuk para Wakil Presiden.
  6. Mengirim dan menerima duta besar asing.

Memimpin Dewan Revolusi Kebudayaan.

Sementara itu, Pemimpin Tertinggi memiliki kewenangan yang lebih luas dan strategis, termasuk mengendalikan angkatan bersenjata, menunjuk kepala lembaga penting negara, serta menentukan arah kebijakan utama negara, baik dalam bidang politik, pertahanan, maupun keagamaan.

Kewenangan Pemimpin Tertinggi Iran

Ali Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran memegang otoritas paling tinggi dalam struktur kekuasaan negara. Kewenangannya melampaui Presiden dan mencakup kendali strategis atas politik, militer, yudikatif, serta kebijakan nasional.

  1. Kewenangan Pengangkatan Jabatan Strategis

-Pemimpin Tertinggi berhak menunjuk sejumlah pejabat kunci negara, antara lain:

-Panglima dan komandan angkatan bersenjata

-Kepala staf gabungan militer

-Panglima tertinggi angkatan bersenjata

-Kepala otoritas kehakiman Iran

-Jaksa agung

-Ketua Mahkamah Agung

12 anggota Guardian Council (Dewan Wali), termasuk para fuqaha (ahli hukum Islam)

-Direktur jaringan radio dan televisi nasional

-Kepala yayasan-yayasan keagamaan besar

-Pemimpin salat di masjid-masjid utama kota

-Anggota Dewan Keamanan Nasional

  1. Kewenangan Politik dan Kenegaraan

-Pemimpin Tertinggi juga memiliki otoritas untuk:

-Merancang dan menetapkan kebijakan umum negara

-Mengawasi pelaksanaan kebijakan sistem pemerintahan

-Mengeluarkan keputusan mengenai referendum nasional

-Menandatangani pengesahan hasil pemilu

-Mengeluarkan pengampunan atau pengurangan hukuman bagi terpidana

  1. Kewenangan Militer dan Keamanan

-Sebagai panglima tertinggi, ia memegang komando penuh atas angkatan bersenjata, termasuk:

-Menyatakan perang atau damai

-Memerintahkan mobilisasi militer

-Mengendalikan kebijakan pertahanan dan keamanan nasional

-Menangani urusan strategis luar negeri dan pertahanan

  1. Kewenangan terhadap Presiden

Pemimpin Tertinggi memiliki posisi lebih tinggi daripada Presiden. Bersama dukungan dua pertiga mayoritas anggota parlemen, ia dapat memberhentikan atau memakzulkan Presiden yang sedang menjabat sesuai mekanisme konstitusional.

  • Kesimpulan

Ali Khamenei kembali menjadi pusat perhatian dunia setelah serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran memicu laporan spekulatif mengenai kondisi dirinya. Meski sejumlah media Israel menyebut ia tewas atau setidaknya terluka, hingga kini belum ada konfirmasi resmi yang memastikan kabar tersebut. Ketidakjelasan informasi ini semakin mempertegas sensitivitas situasi politik dan keamanan di kawasan.

Terlepas dari spekulasi tersebut, posisi Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran menunjukkan betapa krusial perannya dalam sistem pemerintahan Republik Islam Iran. Ia bukan sekadar simbol religius, melainkan pemegang otoritas tertinggi negara dengan kendali atas militer, yudikatif, kebijakan strategis, hingga pengangkatan pejabat kunci, termasuk anggota Guardian Council.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *