Politik

Setelah 5 Tahun Diam, Kim Jong Un Akhirnya Gelar Rapat Tak Biasa

PYONGYANG, KOMPAS.com — Kim Jong Un pada Jumat (20/2/2026) memimpin rapat akbar yang hanya digelar lima tahun sekali, menandai momentum penting bagi arah kebijakan Korea Utara ke depan.

Dalam pidato pembukaannya, Kim secara terbuka menyoroti tekanan ekonomi yang terus menghimpit negara bersenjata nuklir tersebut. Ia menegaskan bahwa sanksi Barat masih menjadi tantangan serius yang memengaruhi pembangunan dan stabilitas nasional.

Rapat tersebut merupakan Kongres Partai Buruh Korea — forum tertinggi partai yang menentukan garis besar kebijakan negara. Di sinilah strategi besar dirumuskan, mulai dari percepatan pembangunan perumahan, penguatan sektor industri, hingga penajaman strategi pertahanan.

Kongres yang berlangsung selama beberapa hari ini juga menjadi momen langka untuk menyoroti dinamika internal Korea Utara, negara yang selama ini dikenal sangat tertutup terhadap dunia luar. Setiap keputusan yang lahir dari forum ini dipastikan akan menjadi penentu arah politik, ekonomi, dan keamanan Pyongyang dalam lima tahun mendatang.

“Hari ini, partai kita dihadapkan pda tugas-tugas bersejarah yang berat dan mendesak untuk meningkatkan pembangunan ekonomi dan standar hidup rakay, serta mentransformasi semua bidang kehidupan negara dan sosial secepat mungkin,” kata Kim dalam pidato pembukaannya, dikutip dari kantor berita AFP.

“Ini mengharuskan kita untuk melakukan perjuangan lebih aktif dan gigih tanpa membiarkan satu momen pun terhenti atau stagnan,” lannjut dia.

  • Ekonomi yang tertekan

Selama puluhan tahun, Korea Utara menempatkan pengembangan senjata nuklir dan kekuatan militer sebagai prioritas utama, bahkan ketika negara itu berulang kali dilanda krisis pangan hingga kelaparan. Arah tersebut semakin mengukuhkan citra Pyongyang sebagai negara bersenjata nuklir yang bertahan di tengah tekanan global.

Sejak mengambil alih kekuasaan pada 2011, Kim Jong Un mulai menekankan pentingnya memperkuat fondasi ekonomi negara yang terisolasi dan miskin tersebut. Namun dalam Kongres Partai Buruh Korea tahun 2021, Kim secara terbuka dan tidak biasa mengakui adanya kegagalan di hampir semua sektor pembangunan ekonomi — sebuah pengakuan langka dari pemimpin tertinggi negara itu.

Sejumlah analis menilai, pernyataan tersebut merupakan langkah strategis untuk meredam ketidakpuasan publik. Krisis pangan yang berkepanjangan, besarnya anggaran militer, serta dukungan terbuka Pyongyang terhadap upaya perang Rusia di Ukraina dinilai memperberat beban domestik.

Dalam pidato terbarunya, Kim menegaskan bahwa Korea Utara telah melewati masa tersulit dalam lima tahun terakhir dan kini memasuki fase baru yang ia sebut sebagai era “optimisme dan kepercayaan diri di masa depan”. Meski demikian, tekanan ekonomi belum sepenuhnya reda. Selama bertahun-tahun, ekonomi Korea Utara terhimpit sanksi Barat yang dirancang untuk memutus aliran dana bagi program senjata nuklirnya — sebuah kebijakan yang terus membentuk arah politik dan ekonomi negara tersebut hingga kini.

Meski terus berada di bawah tekanan internasional, Pyongyang menegaskan tidak akan melepaskan persenjataan nuklirnya. Kim Jong Un bahkan menyatakan bahwa kongres tahun ini akan memaparkan fase lanjutan dari program senjata nuklir Korea Utara—sebuah sinyal tegas bahwa arah kebijakan strategis negara itu tidak berubah.

Ribuan elite partai memadati Gedung Kebudayaan di Pyongyang pada hari pembukaan kongres, menunjukkan konsolidasi penuh di lingkaran kekuasaan. Kongres ini merupakan yang kesembilan di bawah dinasti Kim. Forum tersebut sempat terhenti pada era Kim Jong Il sebelum kembali diaktifkan pada 2016 sebagai instrumen utama penegasan garis politik negara.

Rekaman media pemerintah menampilkan Kim turun dari limusin hitam dan memasuki ruang sidang diapit pejabat tinggi. Delegasi menyambutnya dengan tepuk tangan panjang saat ia mengambil posisi di pusat mimbar besar yang mendominasi ruangan—sebuah penegasan simbolik atas kendali penuh di tangan pemimpin tertinggi. Analis menilai, susunan tempat duduk para pejabat akan menjadi petunjuk penting untuk membaca peta kekuasaan di lingkaran dalam rezim.

Sorotan juga mengarah pada kemungkinan kemunculan putri remajanya, Kim Ju Ae, yang oleh intelijen nasional Korea Selatan disebut-sebut sebagai calon pewaris. Kehadirannya, bila terkonfirmasi, akan memperkuat spekulasi mengenai kesinambungan dinasti.

Kongres ini turut diwarnai pesan persahabatan dari Partai Komunis China dan partai penguasa Rusia, dua sekutu lama Pyongyang. Dukungan tersebut menegaskan bahwa di tengah isolasi dan sanksi Barat, Korea Utara masih memiliki sandaran politik strategis di panggung internasional.

  • Kesimpulan

Kongres kelima tahunan ini menegaskan arah ganda kepemimpinan Kim Jong Un: mendorong pemulihan dan pembangunan ekonomi di tengah tekanan berat, sekaligus mempertahankan bahkan melanjutkan penguatan program nuklir sebagai pilar utama strategi negara. Di satu sisi, Kim berbicara tentang peningkatan kesejahteraan rakyat dan fase baru “optimisme”; di sisi lain, ia menutup rapat kemungkinan denuklirisasi.

Melalui forum tertinggi Partai Buruh Korea ini, Pyongyang menunjukkan konsolidasi internal yang solid, kesinambungan dinasti, serta dukungan dari sekutu tradisionalnya. Namun tantangan nyata tetap membayangi: tekanan sanksi, beban ekonomi domestik, dan sorotan internasional terhadap ambisi nuklirnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *