Potensi Serangan AS ke Iran di Tengah Negosiasi Nuklir: Tinjauan Terbaru dan Prediksi Waktu
25 Februari 2026
Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Republik Islam Iran berada pada titik kritis, dengan kemungkinan eskalasi militer yang semakin nyata di tengah rundingan nuklir yang sedang berlangsung di Jenewa, Swiss. Setelah putaran perundingan nuklir tak langsung antara kedua pihak, banyak analis internasional mulai memetakan kemungkinan waktu terdekat Amerika Serikat melakukan serangan terhadap Iran jika kesepakatan nuklir gagal. Situasi ini terjadi di bawah bayang-bayang tekanan militer AS yang meningkat signifikan di Timur Tengah serta respons keras dari Iran.
1. Latar Belakang Konflik Nuklir AS–Iran
Ketegangan antara AS dan Iran tidak muncul secara tiba-tiba. Hubungan kedua negara sudah lama tegang menyusul keputusan AS pada 2018 untuk menarik diri dari perjanjian nuklir internasional lama, Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), yang awalnya ditandatangani pada 2015 untuk mengendalikan program nuklir Iran demi imbalan pengurangan sanksi. AS kemudian menerapkan kembali sanksi ekonomi yang ketat, sementara Iran mempercepat kegiatan nuklirnya.
Upaya diplomasi untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir terus berlanjut sepanjang 2025–2026, dengan sejumlah pertemuan tidak langsung antara delegasi Washington dan Teheran di bawah mediasi pihak ketiga. Delegasi AS dipimpin oleh utusan khusus dan staf senior Gedung Putih, sementara Iran dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.
Perundingan ini memiliki dua tujuan utama:
- Membatasi atau menghentikan program nuklir Iran yang dianggap potensial menuju senjata nuklir;
- Mencabut sanksi berat terhadap Iran demi stabilitas ekonomi regional.
Namun, kedua pihak masih memiliki perbedaan tajam dalam pembagian isu-isu penting seperti tingkat pengayaan uranium, inspeksi internasional, dan pembatasan program rudal balistik Iran — aspek yang menurut AS berkaitan erat dengan potensi militer nuklir.
2. Pembicaraan Nuklir dan Ancaman Serangan
Rundingan nuklir antara AS dan Iran telah memasuki putaran ketiga yang dijadwalkan di Jenewa pada Kamis mendatang. Kedua belah pihak menunjukkan sinyal yang bertentangan:
- Iran, melalui Menlu Araghchi dan pejabat lainnya, mengatakan bahwa kesepakatan “sejarah dan adil” masih berada dalam jangkauan jika diplomasi didahulukan. Delegasi Iran menyatakan siap memasuki ruang negosiasi dengan itikad baik dan mencari titik temu yang menguntungkan kedua pihak.
- AS, di sisi lain, sambil mengedepankan pilihan diplomasi, memperkuat kehadiran militer secara signifikan di kawasan dan menegaskan bahwa militer tetap menjadi opsi jika Iran menolak tuntutan inti yang diajukan oleh Washington.
Presiden AS secara terbuka telah memberi ultimatum — menyiratkan kemungkinan tindakan militer jika kesepakatan nuklir ini gagal dalam hitungan hari atau minggu. Pernyataan ini juga datang di tengah peningkatan armada laut dan kekuatan udara AS di wilayah Teluk Persia, termasuk keberadaan beberapa strike group kapal induk dan jet tempur canggih.
3. Prediksi Terjadinya Serangan: Waktu Terdekat
Berdasarkan dinamika terbaru dan pernyataan pejabat di kedua negara, para analis internasional memetakan empat prediksi waktu terdekat serangan AS ke Iran jika negosiasi nuklir tidak membuahkan kesepakatan. Ini bukan prediksi resmi militer, melainkan rangkuman titik-titik waktu yang paling mungkin dari perspektif strategi geopolitik:
A. Dalam 24–48 Jam Setelah Negosiasi Gagal (Besok atau Lusa)
Jika perundingan nuklir berakhir tanpa hasil yang signifikan, sejumlah analis percaya kemungkinan AS akan memilih opsi “serangan terbatas” segera setelah deadline diplomatik berakhir — terutama jika presiden AS ingin menampilkan tegas sebelum agenda politik domestik berikutnya. Skenario ini dianggap mungkin terutama karena tekanan politik di AS sendiri untuk menunjukkan hasil yang nyata dalam isu keamanan nasional.
➡️ Catatan: Titik waktu ini dipicu oleh pengumuman delegasi dan deadline implisit yang sering disebutkan oleh pejabat AS dalam berbagai wawancara dan briefing.
B. Minggu Pertama Setelah Pembicaraan Berakhir
Jika serangan tidak terjadi segera, langkah selanjutnya yang mungkin adalah serangan dalam 7 hari setelah negosiasi gagal. Dalam kerangka operasi militer, perlu waktu logistik tambahan untuk penyusunan target, koordinasi unit udara laut, dan jaringan intelijen lapangan. Deployment kapal induk, pesawat tempur, dan platform satelit bisa digunakan untuk menekan Iran sebelum perintah serangan dikeluarkan.
C. Bulan Pertama Sebagai Deadline Ultimatum Strategis
Sejumlah pejabat tinggi AS telah memberikan indikasi bahwa adanya deadline bangsa Amerika atau sekutu regional dalam hitungan beberapa minggu untuk melihat hasil diplomasi atau menghadapi “konsekuensi serius”. Jika perundingan membuat kebuntuan terus menerus, kemungkinan invasi udara atau operasi berskala kecil terhadap sasaran strategis Iran bisa terjadi dalam rentang waktu 2–4 minggu setelah itu.
D. Tidak Ada Serangan — Diplomasi Menang
Prediksi paling optimis namun realistis juga menyebut kemungkinan negosiasi akhirnya membawa kesepakatan yang menunda atau mencegah operasi militer sama sekali. Potensi ini lebih kuat jika beberapa isu sensitif seperti inspeksi nuklir, pembatasan rudal, dan sanksi ekonomi dapat diselesaikan lewat kompromi. Skenario ini memperhitungkan kekhawatiran global tentang dampak luas perang di Timur Tengah.
4. Konsekuensi Global Jika Serangan Terjadi
Jika AS melancarkan serangan militer terhadap Iran, dampaknya diperkirakan akan sangat luas:
- Kenaikan harga minyak global karena potensi gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah, yang merupakan pusat produksi minyak dunia.
- Peningkatan risiko konflik yang lebih luas, termasuk kemungkinan reaksi dari basis militer Iran atau sekutu regionalnya.
- Ketidakstabilan ekonomi investor di pasar global karena eskalasi geopolitik.
- Tantangan diplomasi internasional, terutama dari negara-negara yang terus mendorong resolusi damai seperti China.
5. Kesimpulan: Antara Diplomasi dan Konflik
Ketegangan AS–Iran saat ini berada di persimpangan antara diplomasi nuklir yang rapuh dan kemungkinan konfrontasi militer langsung. Terlepas dari prediksi waktu terdekat terjadinya serangan, sumber terbaru menunjukkan bahwa kedua pihak masih membuka ruang negosiasi. Skenario terbaik adalah tercapainya kesepakatan damai yang menguntungkan kedua belah pihak dan mencegah konflik berskala besar.
Namun, risiko militer tetap ada jika perundingan menemui jalan buntu dalam hitungan hari — terutama yang berkaitan dengan ultimatum politik dan tekanan strategis yang terus meningkat di kedua kubu.

