Politik

Peringatan Keras Khamenei: AS Gagal Hancurkan Iran dan Akan Menanggung Konsekuensi

TEHERAN — Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, melontarkan pernyataan tegas terhadap Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa segala upaya Presiden AS Donald Trump untuk melemahkan atau menghancurkan Iran dipastikan tidak akan pernah berhasil.

Dalam pidatonya, Khamenei menyatakan Iran bukan negara yang bisa ditekan atau dipaksa tunduk melalui ancaman, sanksi, maupun tekanan politik. Menurutnya, strategi tekanan maksimum yang selama ini digaungkan Washington justru semakin memperkuat ketahanan nasional Iran.

Ia juga menekankan bahwa Republik Islam Iran telah melewati berbagai tantangan berat sejak revolusi 1979, mulai dari perang, embargo ekonomi, hingga isolasi internasional. Namun, seluruh tekanan tersebut, kata dia, tidak mampu menggoyahkan fondasi negara maupun tekad rakyatnya.

Pernyataan keras Khamenei ini kembali mempertegas sikap konfrontatif Teheran di tengah ketegangan berkepanjangan dengan Washington. Di saat hubungan kedua negara berada pada titik sensitif, pesan yang disampaikan jelas: Iran menolak tunduk dan siap bertahan menghadapi segala bentuk tekanan eksternal.

“Dalam salah satu pidatonya baru-baru ini, Presiden AS mengatakan bahwa selama 47 tahun, AS belum berhasil menghancurkan republik Islam,” kata Khamenei dalam pidatonya, dikuti dari AFP, Selasa (17/2/2026).

“Saya katakan kepada Anda, Anda pun tidak akan berhasil,” Sambungnya.

Pernyataan keras ini muncul tepat saat Teheran dan Washington memulai putaran kedua pembicaraan diplomasi di Jenewa pada Selasa.

Putaran pertama perundingan telah digelar pada awal Februari lalu, setelah jalur diplomasi sebelumnya terhenti akibat memanasnya konflik Iran–Israel tahun lalu. Meski dialog kembali dibuka, situasi di lapangan menunjukkan ketegangan belum sepenuhnya mereda.

Ketegangan terbaru semakin meningkat setelah Washington mengerahkan gugus tempur kapal induk ke kawasan Teluk. Langkah tersebut disebut sebagai respons atas tindakan keras pemerintah Iran dalam menangani gelombang demonstrasi di dalam negeri. Kehadiran armada militer AS di wilayah strategis itu dinilai sebagai sinyal tekanan tambahan terhadap Teheran.

  • Iran Bisa Tenggelamkan Kapal AS di Teluk

Dalam pidato yang sama, Ayatollah Ali Khamenei menyampaikan peringatan keras. Ia menegaskan bahwa kapal-kapal perang Amerika Serikat yang beroperasi di Teluk berada dalam jangkauan kemampuan militer Iran. Khamenei mengisyaratkan bahwa negaranya memiliki kapasitas untuk menyerang dan bahkan menenggelamkan armada tersebut apabila terjadi konfrontasi.

Pernyataan itu mempertegas posisi Iran yang menolak intimidasi militer dan menegaskan kesiapan pertahanan mereka. Di tengah diplomasi yang rapuh, retorika keras dari kedua pihak menandakan bahwa kawasan Teluk kembali berada dalam bayang-bayang eskalasi.

“Kita terus-menerus mendengar bahwa mereka telah mengirimkan kapal perang ke arah Iran,” ungkapnya.

“Kapal perang tentu saja merupakan senjata berbahaya, tetapi yang lebih berbahaya lagi adalah senjata yang mampu menenggelamkannya,” tambahnya.

Selain melontarkan peringatan militer, Khamenei juga secara terbuka mempertanyakan efektivitas jalur negosiasi dengan Washington. Ia menyiratkan ketidakpercayaan terhadap komitmen Amerika Serikat dalam setiap proses diplomasi yang pernah dijalankan sebelumnya.

Khamenei secara khusus mengkritik syarat-syarat yang diajukan AS, terutama tuntutan agar Iran sepenuhnya menghentikan dan meninggalkan program nuklirnya. Menurutnya, permintaan tersebut tidak realistis dan bertentangan dengan hak Iran untuk mengembangkan teknologi nuklir untuk tujuan damai.

Pernyataan ini memperlihatkan bahwa, di tengah upaya membuka kembali dialog, jurang perbedaan antara kedua negara masih sangat lebar. Ketidakpercayaan yang mendalam terhadap niat Washington menjadi hambatan utama bagi tercapainya kesepakatan yang berkelanjutan.

“Jika memang akan ada negosiasi, menentukan hasil negosiasi sebelumnya adalah sebuah kesalahan dan kegilaan,” tambah Khamenei.

  • Sengketa Uranium

Selama perang 12 hari antara Iran dan Israel pada Juni 2025, Amerika Serikat turut terlibat dengan melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas nuklir utama Iran. Keterlibatan tersebut semakin memperdalam ketegangan dan mempersempit ruang kompromi di meja perundingan.

Salah satu isu paling krusial yang terus menjadi sumber perselisihan adalah persediaan uranium Iran yang telah diperkaya hingga tingkat kemurnian 60 persen sebelum konflik pecah. Bagi Washington, angka tersebut dinilai mendekati ambang sensitif dan memicu kekhawatiran serius. Pemerintah AS berulang kali menuntut pengayaan uranium nol, sekaligus mendorong pembahasan lebih luas yang mencakup program rudal balistik Iran serta dukungannya terhadap kelompok bersenjata di kawasan.

Namun, Teheran bersikap tegas. Iran menyatakan bahwa haknya untuk memperkaya uranium adalah bagian dari kedaulatan nasional dan tidak dapat dinegosiasikan. Pemerintah Iran juga menolak perluasan agenda pembicaraan di luar isu nuklir, menegaskan bahwa program pertahanan dan kebijakan regionalnya berada di luar ruang lingkup negosiasi.

Perbedaan mendasar inilah yang membuat proses diplomasi berjalan di atas garis tipis—di antara upaya meredakan ketegangan dan risiko eskalasi yang sewaktu-waktu dapat kembali meningkat.

“Pernyataan presiden AS yang terkadang mengancam dan terkadang mendikte apa yang harus dan tidak boleh dilakukan, menunjukkan keinginan untuk mendominasi bangsa Iran,” tegas Khamenei.

  • Kesimpulan

Pernyataan keras Ayatollah Ali Khamenei menegaskan bahwa Iran tidak akan tunduk pada tekanan militer maupun politik Amerika Serikat, bahkan di tengah upaya diplomasi yang kembali dibuka di Jenewa. Retorika tegas yang disampaikan Teheran mencerminkan sikap defensif sekaligus peringatan bahwa setiap bentuk intimidasi akan direspons dengan kesiapan militer.

Di sisi lain, Washington tetap bersikukuh pada tuntutan penghentian penuh pengayaan uranium serta pembahasan isu rudal dan kebijakan regional Iran. Perbedaan mendasar mengenai hak pengayaan uranium dan lingkup negosiasi menjadi hambatan utama yang membuat pembicaraan berlangsung dalam suasana saling curiga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *