AS dan Israel Berselisih soal Iran: Drama di Balik Meja Perundingan Nuklir!
KilatNews.id, Jakarta — Hubungan politik antara Amerika Serikat dan Israel selama puluhan tahun kerap digambarkan sebagai aliansi yang kokoh dan nyaris tanpa cela. Namun setiap kali isu Iran kembali ke meja perundingan, perbedaan strategi di antara dua sekutu itu kembali mengemuka.
Momentum ini menjadi semakin penting menjelang perundingan Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan berlangsung Selasa (17/2) di Jenewa, Swiss. Washington diperkirakan diwakili utusan khusus Timur Tengah Steve Witkoff dan Jared Kushner, menantu Presiden Donald Trump. Sementara Teheran mengirim Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.
Secara prinsip, Washington dan Tel Aviv berdiri di titik yang sama: Iran tidak boleh menjadi kekuatan nuklir dan tidak boleh memperluas pengaruh regionalnya. Namun di balik kesamaan tujuan itu, terdapat perbedaan mendasar dalam kepentingan, tenggat waktu, dan cara bertindak.
Perbedaan tersebut semakin jelas di tengah dinamika internal Iran—gelombang protes pada Januari dan Februari yang ditumpas dengan kekerasan—serta sanksi Amerika yang terus diperketat. Intensitas komunikasi antara Donald Trump dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pun meningkat, menandakan bahwa isu Iran kembali menjadi poros utama diplomasi kedua negara.
- Sepakat Soal Ancaman, Berbeda Soal Langkah
Amerika Serikat dan Israel tidak hanya mempersoalkan program nuklir Iran, tetapi juga pengembangan rudal balistik dan jejaring milisi proksi Teheran di kawasan. Menurut analis politik Reza Talebi dari Leipzig, secara prinsip tidak ada perbedaan mendasar: keduanya ingin mencegah Iran menjadi adidaya nuklir sekaligus membendung ekspansi pengaruhnya di Timur Tengah.
Namun perbedaan muncul pada pertanyaan krusial: bagaimana mencapai tujuan itu, dan sejauh mana risiko siap ditanggung?
Bagi Washington di bawah Trump, prioritasnya adalah membentuk kesepakatan baru dengan Teheran. Strategi yang diusung dikenal sebagai “tekanan maksimum”—kombinasi sanksi ekonomi keras dan sinyal penangkal militer.
Sebaliknya, Israel memandang setiap kesepakatan dengan Iran dengan kecurigaan yang mendalam. Bagi pemerintahan Netanyahu, persoalannya bukan semata isi perjanjian, melainkan asumsi bahwa Iran akan mematuhinya secara konsisten dalam jangka panjang.
- Strategi AS: Tekanan Terkalkulasi
Menurut analis kebijakan luar negeri dan keamanan Timur Tengah Shokriya Bradost, kebijakan Amerika secara jelas diarahkan untuk membuka jalan bagi kesepakatan baru. Untuk memaksa Teheran kembali ke meja perundingan, Washington memperketat sanksi—terutama terhadap sektor minyak Iran—dengan tujuan mengeringkan sumber pendapatan negara dan mempersempit ruang gerak ekonomi.
Tekanan tersebut dirancang untuk memaksa Iran memberikan konsesi signifikan tanpa memicu perang regional berskala luas.
Instrumen militer tetap disiapkan, tetapi berfungsi sebagai penangkal. Penempatan kapal induk di kawasan dan retorika mengenai opsi militer dimaksudkan sebagai sinyal kekuatan. Meski Trump pernah berspekulasi mengenai “pergantian rezim”, Bradost menilai serangan besar-besaran merupakan opsi terakhir. Washington tidak menunjukkan kesiapan untuk terlibat dalam perang panjang atau pendudukan, dan tidak memiliki rencana konkret untuk menggulingkan pemerintahan Iran secara paksa.
- Perspektif Israel: Ketegasan Tanpa Kompromi
Israel memandang waktu sebagai faktor yang semakin mendesak. Dalam pidato di Yerusalem, Netanyahu menegaskan bahwa setiap kesepakatan dengan Iran harus mencakup pembongkaran total infrastruktur nuklir Iran serta pemindahan seluruh uranium yang telah diperkaya—bukan sekadar pembatasan tingkat pengayaan.
Lebih jauh, Israel menuntut agar program rudal balistik Iran dan dukungannya terhadap aktor-aktor proksi di kawasan turut dimasukkan dalam paket perundingan.
Bagi Tel Aviv, pendekatan parsial tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah jaminan struktural dan permanen bahwa Iran tidak akan pernah memiliki kapasitas untuk menjadi kekuatan nuklir—baik hari ini maupun di masa depan.
Pada akhirnya, perbedaan ini tidak menggoyahkan aliansi, tetapi menegaskan realitas politik internasional: bahkan sekutu terdekat pun dapat memiliki kalkulasi yang berbeda. Di tengah perundingan yang akan berlangsung di Jenewa, dunia menyaksikan bukan hanya negosiasi antara Washington dan Teheran, melainkan juga ujian keselarasan strategi antara dua sekutu lama.
“Tak boleh ada kpapasitas pengayaan sama sekali, bukan hanya menghentikan, tapi membongkar peralatan dan infrastruktur yang memungkinkan pengayaan,” tegas Netanyahu dalam konferensi, dirinya skeptis Iran akan mematuhi kesepakatan apa pun dengan Trump.
Jika Washington memilih jalur tekanan bertahap dan terukur, Israel justru mendorong keputusan yang cepat dan tanpa ambiguitas. Netanyahu menilai faktor waktu tidak berpihak pada mereka. Ia khawatir dinamika politik di Amerika Serikat di masa mendatang dapat kembali melunakkan pendekatan terhadap Iran dan, pada akhirnya, memperkuat posisi Teheran. Karena itu, Israel menginginkan keterlibatan Amerika yang lebih langsung—dan tidak menutup kemungkinan opsi militer bila dianggap perlu.
- Kepentingan Politik dan Strategis
Perbedaan pendekatan ini tidak berdiri sendiri. Ia berkelindan dengan kepentingan politik dan kalkulasi strategis yang lebih luas.
Kunjungan Benjamin Netanyahu ke Washington bukan semata membahas Iran. Lawatan itu juga menjadi bagian dari upaya memulihkan citra internasional Israel yang, menurut analis Reza Talebi, tengah tergerus di Amerika dan Eropa. Erosi reputasi tersebut berimplikasi langsung pada ruang gerak diplomatik: semakin besar tekanan internasional terhadap Israel, semakin kecil pula kesiapan Washington untuk memberikan dukungan tanpa syarat—terutama jika Tel Aviv mempertimbangkan langkah militer besar terhadap Iran.
Di sisi lain, kalkulasi Amerika Serikat jauh lebih kompleks. Washington tidak hanya mempertimbangkan keamanan Israel, tetapi juga harus menjaga keseimbangan dengan sekutu-sekutu Eropa, stabilitas pasar energi global, serta risiko eskalasi yang dapat menyeret kawasan ke konflik terbuka.
Dari perspektif Gedung Putih, kesepakatan terbatas dengan Iran mungkin bukan solusi ideal—namun dapat menjadi instrumen untuk membeli waktu, meredam ketegangan, dan mencegah konflik regional yang lebih luas. Pendekatan ini memang tidak sepenuhnya menjawab seluruh kekhawatiran keamanan Israel, tetapi bagi Washington, stabilitas jangka pendek kerap menjadi prioritas strategis yang tak terhindarkan.
Perbedaan inilah yang kini membentuk dinamika hubungan kedua sekutu: satu menuntut ketegasan segera, yang lain memilih kehati-hatian yang terkalkulasi.
- Kesimpulan
Pada akhirnya, perbedaan antara Amerika Serikat dan Israel dalam menghadapi Iran bukanlah soal tujuan, melainkan soal tempo dan metode. Washington memilih tekanan bertahap yang membuka ruang diplomasi, sementara Tel Aviv menuntut kepastian yang cepat, menyeluruh, dan permanen.
Bagi Amerika Serikat, stabilitas regional dan pencegahan konflik berskala luas menjadi pertimbangan utama. Bagi Israel, ancaman dianggap terlalu nyata untuk disikapi dengan kompromi yang setengah hati. Di antara kehati-hatian strategis dan tuntutan ketegasan, perundingan di Jenewa menjadi bukan sekadar dialog nuklir, tetapi juga cerminan perbedaan kalkulasi dua sekutu lama.

