KriminalitasNews

Horor Razia Narkoba di Rio de Janeiro: 132 Tewas, Tuduhan Eksekusi, dan Sorotan Dunia

Jakarta, 30 Oktober 2025 — Kota Rio de Janeiro, Brasil, berubah jadi medan perang pada 28-29 Oktober 2025, ketika operasi polisi terbesar dalam sejarah kota itu menewaskan sedikitnya 132 orang dalam razia melawan geng narkoba Comando Vermelho. Dengan 2.500 polisi, helikopter, kendaraan lapis baja, dan drone, operasi di kawasan kumuh Complexo da Penha dan Complexo do Alemao ini awalnya dilaporkan tewaskan 64 orang, lalu naik jadi 119, dan kini Kantor Pembela Umum Rio catat 132 korban—115 di antaranya diduga anggota geng, 4 polisi, dan sisanya warga sipil. Tapi, di balik klaim “sukses” Gubernur Claudio Castro, muncul tuduhan mengerikan: eksekusi di luar hukum, jasad dipenggal, dan korban terikat dengan luka bakar. Presiden Luiz Inácio Lula da Silva hingga Sekjen PBB Antonio Guterres soroti operasi ini, desak investigasi cepat. Kisah ini bukan cuma soal perang narkoba, tapi cermin kontradiksi sosial dan kekerasan sistemik di Brasil—dengan pelajaran buat Indonesia dalam hadapi kejahatan terorganisir.

Kronologi Operasi: Dari Baku Tembak Hingga Tuduhan Eksekusi

Operasi dimulai Selasa dini hari (28/10/2025), menargetkan Comando Vermelho, geng narkoba tertua dan terkuat di Rio yang kuasai 60% wilayah kota, termasuk favela Complexo da Penha dan Alemao (Al Jazeera, 2025). Dengan 2.500 polisi, 32 kendaraan lapis baja, dan dukungan udara, operasi ini direncanakan setahun untuk hentikan ekspansi geng jelang KTT Iklim COP30 di Belem, Amazon, November 2025. Comando Vermelho, yang terkenal karena perdagangan kokain (Brasil konsumsi terbesar kedua dunia setelah AS, data 2023), melawan sengit: mereka bajak puluhan bus untuk barikade jalan, bakar mobil, dan luncurkan drone bersenjata granat—pertama kali dalam sejarah Rio (CNN Indonesia, 30/10/2025).

Baku tembak berlangsung hingga sore, warga berhamburan cari perlindungan, toko tutup, dan asap membubung dari favela. Polisi klaim “sukses”: 113 tersangka ditangkap, 91 senjata (termasuk senapan otomatis), dan setengah ton narkoba disita. Gubernur Claudio Castro, sekutu eks-Presiden Jair Bolsonaro, sebut ini “pukulan telak melawan narkoterorisme” (Repelita, 30/10/2025). Tapi, sehari setelahnya, warga temukan pemandangan mengerikan: puluhan jasad di hutan pinggir Complexo da Penha, banyak tanpa baju, beberapa terikat, satu dipenggal, dengan kepala digantung di pohon (AFP, 30/10/2025). Raquel Tomas, ibu korban 19 tahun, menangis: “Mereka eksekusi anak saya tanpa kesempatan bela diri.” Pengacara Albino Pereira Neto, wakili tiga keluarga, laporkan jasad punya luka bakar dan tanda penyiksaan (CNBC Indonesia, 30/10/2025).

Kontradiksi dan Kritik: Sukses atau Pembantaian?

Gubernur Castro sebut operasi ini “terbesar dalam sejarah Rio,” bandingkan dengan razia 2010 yang tewaskan 30 orang. Tapi, angka korban 132—jauh lebih tinggi dari razia Jacarezinho 2021 (28 tewas)—picu kemarahan. Warga dan aktivis HAM tuduh polisi lakukan “eksekusi massal.” Raul Santiago, aktivis lokal, bilang: “Banyak ditembak di kepala atau punggung, ini bukan keamanan publik, tapi pembunuhan” (Tempo, 30/10/2025). Sekretaris Polisi Sipil Felipe Curi klaim jasad tanpa baju karena warga lepas “seragam kamuflase” geng, tapi ini diperdebatkan sebagai upaya tutupi eksekusi (CNN Indonesia, 30/10/2025).

Sekjen PBB Antonio Guterres, via juru bicara Stephane Dujarric, desak investigasi cepat, sebut operasi ini “mengerikan” karena langgar standar HAM internasional (Media Indonesia, 30/10/2025). Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk HAM dan Human Rights Watch panggil jaksa Brasil untuk selidiki setiap kematian. Presiden Lula, yang tolak label “teroris” untuk Comando Vermelho (KR Sumsel, 29/10/2025), seru kooperasi antarlembaga tanpa korbankan warga sipil: “Kejahatan terorganisir hancurkan keluarga, tapi kita perlu pukul akar narkoba tanpa bunuh polisi atau anak-anak” (VOI, 30/10/2025). Tapi, Castro, yang berhaluan kanan, tetap sebut operasi ini “sukses besar,” abaikan tuduhan eksekusi.

Konteks Brasil: Favela, Narkoba, dan Kekerasan Sistemik

Rio de Janeiro, kota turis dengan pantai Copacabana, punya sisi gelap: favela, permukiman kumuh rumah jutaan orang, dikuasai geng seperti Comando Vermelho. Data 2023: Brasil konsumsi 130 ton kokain per tahun, banyak lewat Rio (Rubrik.co.id, 29/10/2025). Operasi polisi di favela bukan hal baru—700 tewas pada 2024, rata-rata 2 per hari (Al Jazeera, 2025). Tapi, skala operasi ini, dengan 132 korban, disebut “angka perang” oleh sosiolog Luis Flavio Sapori (EtIndonesia, 29/10/2025). Ia kritik: “Ini nggak efisien, cuma bunuh bawahan, dalang geng aman.”

Kontradiksi sosial di favela mirip Kutai kuno (SejarahIndonesia.com, 2025): elite (polisi dan politisi) kuasai narasi “keamanan,” tapi rakyat bawah (warga favela) jadi korban. Operasi ini digelar jelang KTT C40 dan Earthshot Prize, hadiri Pangeran William, untuk “bersihkan” Rio dari kriminal jelang sorotan dunia (CNBC Indonesia, 30/10/2025). Tapi, warga seperti Raquel Tomas bilang: “Polisi seharusnya tangkap, bukan bunuh.” Ini cermin ketimpangan: keamanan untuk turis, tapi warga miskin dikorbankan.

Pelajaran buat Indonesia: Hadapi Narkoba Tanpa Kekerasan Berlebih

Indonesia punya paralel: perang narkoba ala Duterte di Filipina (Detik, 31/10/2025) atau razia geng motor di Makassar (Fajar, 30/10/2025). Data BNN 2024: Indonesia hadapi 4,7 juta penyalahguna narkoba, dengan sabu dan ekstasi dominan di kota seperti Jakarta dan Surabaya. Operasi “Bersinar” BNN musnahkan 214 ton narkoba (Fajar, 30/10/2025), tapi pendekatan keras sering korbankan warga miskin, mirip favela. Contoh: razia di Kampung Ambon, Jakarta Timur (2023), tewaskan 3 warga, picu protes HAM.

Pelajaran dari Rio:

  1. Pendekatan Terkoordinasi: Lula sarankan serang akar narkoba (produksi dan distribusi), bukan cuma bawahan. Indonesia bisa tiru: target bandar besar, bukan pengguna kecil.
  2. Hindari Kekerasan Berlebih: Tuduhan eksekusi di Rio ingatkan polisi Indonesia harus patuhi SOP, seperti larangan tembak di tempat tanpa bukti (KPAI, 2024).
  3. Lindungi Warga Sipil: Operasi di kampung padat seperti Tanjung Priok butuh strategi lindungi warga, bukan barikade atau tembakan sembarangan.
  4. Transparansi dan HAM: PBB desak investigasi di Rio; Indonesia perlu badan independen awasi operasi polisi, seperti Komnas HAM diperkuat (2024).

Buat warga Jakarta atau Surabaya, kisah Rio peringatan: narkoba musuh bersama, tapi perangnya jangan korbankan nyawa tak bersalah. Seperti Raquel Tomas, yang kehilangan anak, atau warga Ambon yang protes razia, suara rakyat bawah harus didengar. Brasil, dengan 132 jasad di favela, tunjukkan harga mahal pendekatan brutal. Indonesia bisa pilih jalan lain: tegas, tapi manusiawi.

📌 Sumber: CNN Indonesia, AFP, Al Jazeera, Tempo, CNBC Indonesia, Repelita, Fajar, VOI, Media Indonesia, EtIndonesia, Rubrik.co.id, diolah oleh tim kilatnews.id.

Related Keywords: razia narkoba Brasil, Comando Vermelho, eksekusi polisi Rio, kontradiksi sosial favela, pelajaran HAM Indonesia





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *