KriminalitasPolitikTrending

Putin Murka: Rusia Kutuk Serangan AS ke Venezuela dan Penangkapan Maduro, Ambil Sikap Tegas

MOSKOW kilatnews.id — Reaksi dunia atas operasi militer Amerika Serikat (AS) di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro terus bergulir, namun salah satu respons paling keras datang dari Moskow. Pemerintah Rusia tidak hanya mengecam tindakan Washington, tetapi juga menegaskan dukungan terhadap Venezuela serta menolak intervensi militer sebagai pelanggaran kedaulatan negara merdeka.

Sikap ini mencerminkan hubungan dekat antara Rusia dan pemerintahan Maduro: tidak hanya sekadar sekutu politik, tetapi juga mitra strategis dalam perdagangan minyak dan kerja sama militer. Mantan Presiden Venezuela itu dipandang di Moskow sebagai simbol perlawanan terhadap dominasi Barat di kawasan Amerika Latin.


Kecaman Keras dari Kremlin

Pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Rusia menyebut tindakan serangan AS sebagai “agresi bersenjata langsung” yang tidak memiliki justifikasi hukum internasional yang kuat. Rusia menilai langkah tersebut telah melanggar prinsip dasar kedaulatan negara dan melampaui batas norma internasional.

Selain itu, figur politik senior Rusia seperti Leonid Slutsky, Ketua Komite Urusan Internasional di Duma Negara, juga mengecam keras operasi militer AS, menyebutnya sebagai “coup dengan intervensi eksternal” yang merusak tatanan internasional. Pernyataan itu diikuti oleh partai politik lain di Moskow yang menyamakan serangan tersebut dengan tindakan tak terampuni terhadap sebuah negara yang tidak mengancam keamanan AS.

Putin sendiri, meskipun belum berkomentar penuh secara langsung dalam beberapa pernyataan publik, melalui juru bicaranya menyampaikan kecaman atas apa yang disebutnya sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional dan penyerangan terhadap negara berdaulat tanpa mandat PBB.


Dukungan Rusia untuk Venezuela dan Delcy Rodríguez

Sebagai balasan atas penangkapan Maduro dan aspirasi Amerika, Rusia secara resmi mengumumkan dukungan terhadap Delcy Rodríguez sebagai Presiden Interim Venezuela. Keputusan ini menegaskan posisi Moskow bahwa Venezuela harus menentukan nasibnya sendiri tanpa campur tangan asing.

Rusia menegaskan bahwa menjaga stabilitas dan perdamaian di Venezuela adalah prioritas, dengan menolak apa pun yang dianggap sebagai bentuk “ancaman neokolonialisme” terhadap negara tersebut. Pernyataan tersebut juga mencerminkan sikap keras Moskow terhadap solusi militer di luar kerangka hukum internasional.


Dimensi Geopolitik: Perang Dingin Baru?

Reaksi Rusia terhadap operasi AS tidak hanya bersifat retorika diplomatik. Para pengamat internasional melihatnya sebagai bagian dari pertaruhan besar antara kekuatan global yang tengah bersaing untuk memengaruhi tatanan dunia — suatu tindakan yang mirip dengan “perang dingin baru” di mana konfrontasi langsung tidak lagi terbatas pada blok militer terpisah.

Analisis geopolitik menyebutkan bahwa penangkapan kepala negara oleh kekuatan militer asing tanpa persetujuan internasional merupakan preseden besar yang menimbulkan kekhawatiran di Moskow. Rusia, yang sendiri sedang menghadapi tekanan di Ukraina, Suriah, dan kawasan lain, melihat tindakan ini sebagai ancaman terhadap prinsip non-intervensi yang selama ini ia perjuangkan.


Kerugian Strategis bagi Rusia

Keberhasilan operasi AS di Venezuela juga membawa dampak strategis bagi Rusia. Venezuela selama bertahun‑tahun menjadi sekutu dekat yang tidak hanya menyediakan cadangan minyak besar, tetapi juga menjadi lokasi penting bagi kepentingan ekonomi dan militer Rusia. Kehilangan pengaruh di Venezuela berarti berkurangnya akses terhadap sumber daya penting serta potensi investasi yang bernilai miliaran dolar.

Di sisi lain, operasi AS tersebut juga memberi Moskow bahan retorika untuk membenarkan kebijakan militernya di Ukraina dan upaya mempertahankan “wilayah pengaruh” dari intervensi Barat, walau implementasi nyata dari strategi ini sering kali menemui hambatan dalam praktiknya.


Hubungan Rusia‑AS di Tengah Ketegangan Global

Sikap keras Rusia terhadap serangan AS di Venezuela juga berlangsung di tengah hubungan bilateral kedua negara yang tengah tegang. Washington menuduh Moskow melakukan pelanggaran di berbagai front, sementara Rusia menuding Amerika Serikat sebagai negara yang sering melanggar norma internasional demi kepentingan nasionalnya sendiri.

Fenomena ini turut menciptakan ketegangan baru yang bisa berdampak pada sengketa lain di dunia, termasuk konflik di Ukraina dan rapidnya reaksi negara lainnya terhadap serangan yang dilakukan tanpa persetujuan PBB. Situasi ini berpotensi memperumit kerja sama multilateral dalam isu keamanan internasional ke depan.


Analisis Para Ahli Internasional

Para ahli hubungan internasional menilai respon keras Rusia merupakan cerminan dari kekhawatiran bahwa kekuatan besar bisa saja mengambil tindakan sepihak terhadap negara yang dianggap berseberangan dengan kepentingan mereka. Mereka menyoroti bahwa inisiatif semacam ini dapat melemahkan prinsip hukum internasional serta memicu ketidakstabilan regional yang lebih luas.

Beberapa komentator bahkan menyebut langkah AS sebagai bukti kembalinya pola “might makes right” — di mana kekuatan militer teratas menentukan hasil hukum di panggung global. Ini memberikan Moskow alasan baru untuk mempertahankan pendirian kerasnya di Ukraina, sambil menghadapi kritik atas konflik yang telah lama berlangsung di sana.


Kemungkinan Eskalasi dan Tindakan Balasan

Sejauh ini, Rusia belum mengumumkan langkah militer langsung dalam tanggapan terhadap penangkapan Maduro. Namun, Minggu terakhir memperlihatkan komentar keras bahkan dari politisi senior di parlemen yang menilai bahwa operasi militer AS merupakan ancaman terhadap keseluruhan tatanan global dan mengecamnya sebagai tindakan yang tidak dapat ditoleransi.

Moskow tetap menekankan solusi diplomatik, termasuk kemungkinan membawa isu ini ke forum internasional seperti Dewan Keamanan PBB untuk mendapatkan kecaman lebih luas terhadap AS, serta mendorong pembebasan Maduro dan penghormatan terhadap kedaulatan Venezuela.


Apa Selanjutnya bagi Hubungan Internasional?

Reaksi keras Rusia menunjukkan bahwa dampak penangkapan Presiden Venezuela oleh militer AS akan jauh lebih besar daripada sekadar krisis regional. Ini membuka babak baru dalam hubungan global antara kekuatan besar, serta menimbulkan pertanyaan tentang batas keterlibatan militer antarnegara tanpa mandat internasional yang jelas.

Pengamat memperkirakan bahwa peristiwa ini dapat merubah dinamika politik di Amerika Latin, mengubah hubungan antara kekuatan besar dan sekutu mereka, serta memicu debat tentang peran hukum internasional dalam mengatur tindakan unilateral semacam ini.


Kesimpulan

Respons Rusia terhadap serangan militer AS di Venezuela — yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro — sangat keras dan konsekuen. Dengan mengecam tindakan tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan dan membela prinsip hukum internasional, Moskow berupaya menegaskan posisinya sebagai pembela negara merdeka dari campur tangan asing. Namun di balik pernyataan retoris itu, dampak geopolitik dari peristiwa ini membuka tantangan baru bagi hubungan internasional dan tatanan global yang selama ini berjalan kala kekuatan besar bertindak tanpa batasan yang jelas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *