200 Marinir hingga Drone Dikerahkan Cari Anggota TNI AL Korban Longsor Cisarua
JAKARTA / BANDUNG BARAT kilatnews.id — Operasi pencarian korban longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat terus berlanjut dengan pengerahan sumber daya besar oleh TNI Angkatan Laut (TNI AL). Kepada media, Kepala Dinas Penerangan TNI AL, Laksamana Pertama TNI Tunggul, menyatakan bahwa 200 personel Marinir, teknologi drone termal, dan anjing pelacak telah dikerahkan dalam upaya menemukan serta mengevakuasi 19 anggota Marinir yang masih hilang akibat bencana tanah longsor.
Longsor besar ini terjadi pada Sabtu, 24 Januari 2026, ketika hujan deras tanpa henti mengguyur lereng perbukitan di wilayah tersebut selama dua hari berturut-turut. Akibatnya, tanah yang jenuh air bergerak dan runtuh menimbun area permukiman serta lokasi latihan militer. Sebanyak 23 anggota Marinir TNI AL sedang berada di lokasi untuk latihan persiapan tugas pengamanan perbatasan Indonesia–Papua Nugini ketika longsor terjadi.
Skala Pencarian: Marinir, Teknologi, dan Anjing Pelacak
Pihak TNI AL memutuskan untuk mengintensifkan upaya pencarian dengan melibatkan ratusan prajurit. “Kami menerjunkan sebanyak 200 personel Marinir, dilengkapi teknologi drone, thermal imaging, dan anjing pelacak, untuk mencari personel yang masih tertimbun material longsor,” jelas Tunggul dalam keterangannya kepada ANTARA pada Selasa, 27 Januari 2026.
Penggunaan drone dengan sistem termal dimaksudkan untuk mempercepat proses pencarian korban, terutama di area yang sulit diakses oleh alat berat karena kondisi medan yang curam dan rawan longsor susulan. Teknologi ini memungkinkan tim SAR melihat panas tubuh manusia dari udara, sehingga lokasi-lokasi yang diduga masih menyimpan korban dapat diidentifikasi lebih cepat.
Tak hanya teknologi modern, TNI AL juga mengandalkan anjing pelacak (K-9) yang terlatih untuk mendeteksi bau manusia meski berada di bawah tumpukan tanah dan material longsor. Peran anjing pelacak sangat penting karena mereka bisa membantu tim dalam pencarian di area sempit dan penuh reruntuhan yang tidak bisa dimasuki langsung oleh tim penyelamat.
Empat Prajurit Ditemukan Meninggal, 19 Masih Dicari
Sebelumnya, Kepala Staf TNI Angkatan Laut, Laksamana TNI Muhammad Ali, menyampaikan bahwa dari total 23 Marinir yang tertimbun longsor, empat di antaranya telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Sementara 19 prajurit lainnya masih belum ditemukan hingga laporan ini dibuat.
Para Marinir itu berada di lokasi bencana dalam rangka latihan militer, yang menjadi bagian dari persiapan tugas pengamanan di wilayah perbatasan. Ketika mereka melaksanakan latihan, hujan deras selama dua hari menjadikan tanah di lereng perbukitan tidak stabil, yang kemudian memicu longsor besar.
Ali juga menegaskan bahwa pencarian korban akan terus dilakukan hingga seluruh prajurit yang hilang dapat ditemukan, sambil tetap memberikan dukungan kepada keluarga para korban yang telah meninggal maupun yang masih dalam status hilang.
Situasi Medan dan Kendala Operasi SAR
Proses pencarian di lokasi longsor menghadapi tantangan besar karena kondisi medan yang berat. Lereng yang curam dan tanah yang masih labil menimbulkan risiko longsor susulan, sehingga tim SAR harus bekerja dengan sangat hati-hati. Medan ini juga mempersulit penggunaan alat berat secara optimal, sehingga kombinasi antara teknologi drone, termal, dan kemampuan anjing pelacak menjadi semakin krusial.
Selain itu, hujan yang masih turun secara sporadis memperlambat proses pencarian karena tim harus menunggu kondisi yang lebih aman untuk melakukan operasi di lapangan. Hal ini memaksa pencarian dilakukan secara bertahap dan disiplin.
Koordinasi Gabungan Tim SAR dan Instansi Terkait
Operasi pencarian ini melibatkan bukan hanya TNI AL, tetapi juga berbagai instansi lain dalam tim Search and Rescue (SAR) gabungan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Basarnas (Badan SAR Nasional), Kepolisian, serta relawan kemanusiaan turut memberikan dukungan dalam pencarian dan evakuasi korban longsor.
Basarnas, misalnya, sebelumnya telah menurunkan ratusan personel SAR terlatih untuk membantu pencarian korban di kawasan yang luas dan berat. Kolaborasi ini penting untuk memastikan tidak ada korban yang terlewatkan dan agar proses evakuasi dapat dilakukan secara sistematis.
Duka dan Penghormatan kepada Korban
TNI AL memberikan pernyataan belasungkawa kepada keluarga para korban yang gugur dalam bencana longsor. Pihak militer memastikan bahwa hak-hak almarhum dan keluarga akan dipenuhi sesuai dengan ketentuan yang berlaku, termasuk santunan dan pendampingan psikologis.
Selain itu, penghormatan juga dilakukan untuk para prajurit yang sedang berjuang dalam pencarian korban, termasuk peran penting anjing pelacak dan tim drone yang bekerja tanpa henti di medan yang berat. Upaya ini mencerminkan komitmen institusi pertahanan terhadap keselamatan anggotanya serta tanggung jawab terhadap misi kemanusiaan di tengah kondisi bencana.
Imbauan Keselamatan dan Kepedulian Masyarakat
Pihak berwenang juga mengimbau warga sekitar dan masyarakat luas untuk terus memantau informasi resmi terkait perkembangan operasi pencarian. Masyarakat diminta untuk berhati-hati terhadap potensi longsor susulan di daerah pegunungan yang masih diguyur hujan deras.
Masyarakat juga diharapkan memberikan dukungan moral bagi keluarga korban dan relawan yang terlibat dalam operasi pencarian ini, sambil tetap mengikuti arahan dari aparat keamanan serta instansi terkait demi keselamatan bersama.
Makna Lebih Besar dari Upaya Pencarian
Insiden longsor Cisarua menjadi pengingat pentingnya keselamatan dalam latihan militer serta kesiapsiagaan menghadapi bencana alam, terutama di kawasan pegunungan yang rawan bencana saat musim hujan. Kerja sama lintas instansi dan penggunaan teknologi canggih seperti drone dan termal menunjukkan kemajuan dalam operasi SAR modern di Indonesia.
Upaya pencarian yang terus dilakukan juga mencerminkan dedikasi tinggi para personel militer dan SAR lainnya dalam menyelamatkan rekan-rekan mereka serta masyarakat yang terdampak bencana.
Kesimpulan
Sebanyak 200 Marinir, drone termal, anjing pelacak, dan tim SAR gabungan saat ini sedang dikerahkan dalam upaya pencarian 19 anggota TNI AL yang masih hilang akibat longsor di Cisarua. Operasi yang menantang ini dilakukan di medan berat dengan teknologi serta teknik pencarian modern. Korban yang telah ditemukan dan yang masih dicari menjadi fokus utama tim, sementara dukungan kepada keluarga korban terus berlanjut.

