Revolusi Baterai Mobil Listrik: Era Baru dengan Teknologi Garam
Industri kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) kembali mencatat tonggak teknologi penting pada awal tahun 2026. Produsen otomotif besar dari Tiongkok, Changan Automobile, bersama penyedia teknologi baterai raksasa CATL, resmi meluncurkan sebuah mobil listrik yang menggunakan baterai berbasis garam (sodium-ion) untuk pertama kalinya di dunia. Langkah ini menandai fase baru perkembangan baterai EV yang berpotensi mengubah arah industri kendaraan ramah lingkungan secara global.
Peluncuran Mobil dengan Baterai Sodium-Ion
Pada 5 Februari 2026, Changan memperkenalkan model Nevo A06, yang dilengkapi dengan baterai sodium-ion buatan CATL. Kendaraan ini disebut sebagai mobil penumpang produksi massal pertama yang ditenagai baterai sodium-ion, bukan sekadar prototipe riset. Baterai tersebut dipasarkan di bawah merek Naxtra dan secara resmi akan tersedia di pasar konsumen pada pertengahan 2026.
Naxtra memiliki kapasitas sekitar 45 kWh dengan sistem integrasi Cell-to-Pack (CTP) generasi ketiga yang dikembangkan CATL. Berdasarkan uji internal, mobil ini mampu menempuh jarak lebih dari 400 kilometer dalam sekali pengisian berdasarkan standar pengujian China CLTC.
Mengapa Baterai Garam Jadi Terobosan?
Berbeda dengan baterai lithium-ion yang kini dominan pada mayoritas mobil listrik, baterai sodium-ion (garam) menggunakan sodium — unsur yang jauh lebih melimpah dan mudah diperoleh dibandingkan lithium. Ini menjadikan teknologi ini berpotensi menurunkan biaya produksi baterai serta mengurangi ketergantungan pada pasokan lithium, yang harganya sering volatile dan dipengaruhi oleh gejolak pasar global.
Selain aspek biaya, baterai sodium-ion juga menunjukkan keunggulan dalam performa di suhu rendah. Uji ketahanan menunjukkan bahwa baterai ini dapat mempertahankan lebih dari 90% kapasitasnya bahkan pada temperatur ekstrem hingga −40°C, dan tetap berfungsi normal pada kondisi ekstrem mencapai −50°C, menunjukkan stabilitas termal dan performa yang sangat baik.
Hal ini membuka peluang penggunaan EV di wilayah beriklim dingin, sekaligus meningkatkan kepercayaan konsumen di pasar dengan cuaca ekstrem — sesuatu yang sering menjadi tantangan bagi baterai tradisional.
Keamanan dan Standar Industri
Selain performa, aspek keamanan baterai menjadi perhatian utama. Teknologi Naxtra telah diuji melewati berbagai skenario tekanan fisik ekstrem seperti tekanan multi-arah, penetrasi dengan bor listrik, dan pemotongan sel baterai dalam kondisi pengisian penuh. Meskipun mengalami kondisi ekstrem tersebut, baterai tetap tanpa asap, api, atau ledakan, dan tetap bisa mengalirkan energi secara normal.
Selain itu, baterai sodium-ion telah lolos national safety standard China terbaru untuk baterai EV (GB 38031-2025), menjadi bukti keandalan dan kesiapan teknologi ini untuk produksi massal.
Tantangan dan Prospek Industri
Meski inovatif, teknologi baterai sodium-ion masih menghadapi beberapa tantangan. Energi per kilogram (energy density) baterai sodium-ion saat ini umumnya lebih rendah dibandingkan baterai lithium-ion terbaik. Ini berarti baterai garam sering kali memberikan jangkauan sedikit lebih pendek untuk ukuran kapasitas yang sama.
Namun, para insinyur percaya bahwa kombinasi antara lithium-ion dan sodium-ion (dikenal sebagai dual-chemistry system) bisa menjadi strategi ideal, di mana baterai lithium-ion tetap dominan untuk jangkauan panjang dan pengisian cepat, sedangkan baterai sodium-ion menjadi pilihan untuk pasar dan aplikasi tertentu seperti suhu dingin atau kendaraan entry-level yang terjangkau.
Dampak pada Pasar dan Lingkungan
Jika baterai sodium-ion bisa diproduksi secara massal secara efisien, dampaknya terhadap supply chain global diprediksi besar. Teknologi ini dapat mengurangi tekanan pada pasokan lithium, membantu diversifikasi sumber energi, dan menurunkan biaya bagi konsumen. Selain itu, sodium lebih mudah didapat dari bahan baku garam yang tersebar luas di seluruh dunia, sehingga lebih berkelanjutan dalam jangka panjang.
Secara keseluruhan, peluncuran Changan Nevo A06 dengan baterai garam bukan hanya sebuah langkah produk baru, tetapi pertanda transformasi industri EV menuju era baterai yang lebih murah, lebih aman, dan lebih adaptif terhadap lingkungan ekstrem. Teknologi ini berpotensi mempercepat adopsi kendaraan listrik secara global dalam dekade mendatang, selama tantangan teknis terus diatasi dan infrastruktur pengisian serta produksi baterai terus berkemban

