NewsTeknologi

Internet Murah 100 Mbps Resmi Meluncur: Surge dan MyRepublic Menang Lelang

Jakarta, Kilatnews.id – Kabar gembira bagi pengguna internet di Indonesia: akses cepat dengan harga terjangkau kini semakin dekat. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) resmi mengumumkan hasil lelang frekuensi 1,4 GHz untuk layanan internet murah berkecepatan 100 Mbps, menjangkau seluruh penjuru negeri. Pengumuman ini menjadi angin segar di tengah kebutuhan akan koneksi stabil untuk kerja, pendidikan daring, hingga hiburan digital, terutama pasca guncangan ekonomi akibat pandemi.

Dua raksasa telekomunikasi, PT Telemedia Komunikasi Pratama (Surge) dan Eka Mas Republik (MyRepublic), menjadi pemenang lelang. Keduanya siap menggelontorkan miliaran rupiah untuk membangun infrastruktur broadband wireless access (BWA), dengan target menekan tarif internet hingga setengah dari harga pasaran saat ini. Langkah ini tak hanya soal bisnis, tapi juga misi sosial: menutup kesenjangan digital yang selama ini memisahkan kota besar dan pelosok desa.

Bayangkan seorang pelajar di Tangerang Selatan, berbagi ponsel dengan orang tua yang bekerja sebagai ojek online, hanya untuk mengikuti kelas daring. Kisah nyata ini, seperti yang terjadi di sebuah warkop di Pondok Aren pada 2020, menjadi pengingat betapa akses internet murah bisa mengubah hidup. Dengan kecepatan 100 Mbps, streaming pelajaran, rapat virtual, atau sekadar menonton video kini bukan lagi barang mewah.

Siapa Dapat Apa di Lelang Frekuensi?

Lelang frekuensi 1,4 GHz ini membagi Indonesia menjadi tiga regional strategis, masing-masing dengan zona cakupan spesifik. Surge, yang sebelumnya dikenal sebagai penyedia layanan WiFi komunitas, memenangkan Regional I dengan tawaran Rp 403.764.000.000. Wilayah ini mencakup Jawa—pusat populasi dan ekonomi—serta sebagian Papua, yang penuh tantangan topografi.

Di sisi lain, MyRepublic, yang sudah malang melintang di layanan fiber optik, mengamankan Regional II dan III. Untuk Regional II (Sumatra, Bali, Nusa Tenggara), mereka membayar Rp 300.888.000.000, sementara Regional III (Sulawesi, Kalimantan) diraih dengan Rp 100.888.000.000. Total investasi ini menandakan komitmen serius untuk memperluas jaringan, meski tantangan logistik di wilayah terpencil masih membayangi.

Berikut rincian zona cakupan:

Regional I (Surge):

  • Zona 4: Banten, Jakarta, Kota dan Kabupaten Bogor, Depok, Kota dan Kabupaten Bekasi.
  • Zona 5: Jawa Barat (di luar Zona 4).
  • Zona 6: Jawa Tengah dan Yogyakarta.
  • Zona 7: Jawa Timur.
  • Zona 9: Papua, Papua Barat, Papua Selatan, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua Barat Daya.
  • Zona 10: Maluku dan Maluku Utara.

Regional II (MyRepublic):

  • Zona 1: Aceh, Sumatra Utara.
  • Zona 2: Sumatra Barat, Riau, Jambi.
  • Zona 3: Bangka Belitung, Sumatra Selatan, Bengkulu, Lampung.
  • Zona 8: Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur.
  • Zona 15: Kepulauan Riau.

Regional III (MyRepublic):

  • Zona 11: Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara.
  • Zona 12: Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah.
  • Zona 13: Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat.
  • Zona 14: Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur.

Komdigi menargetkan layanan ini mulai beroperasi akhir 2025, dengan pendaftaran pelanggan sudah dibuka. Estimasi awal, tarif langganan paket dasar mulai dari Rp 100.000 per bulan, meski angka pasti masih menunggu pengesahan regulasi.

Dari Warkop ke Rumah: Dampak Nyata Internet Murah

Ingat kisah warkop di Pondok Aren yang menyediakan WiFi gratis untuk pelajar pada awal pandemi? Pemiliknya, Rizki, tergerak membantu karena banyak anak tak punya kuota atau perangkat memadai untuk belajar daring. “Mereka boleh belajar tanpa beli apa-apa,” katanya kala itu. Inisiatif seperti itu mencerminkan urgensi akses internet terjangkau, yang kini mulai terjawab lewat program ini.

Bagi masyarakat di daerah terpencil, seperti nelayan di Maluku atau guru di Papua, kecepatan 100 Mbps berarti lebih dari sekadar angka. Itu adalah pintu menuju kelas daring tanpa gangguan, akses pasar digital, atau informasi cuaca terkini. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 menyebut penetrasi internet Indonesia baru 77%, dengan jurang digital antar pulau masih lebar. Frekuensi 1,4 GHz, yang terakhir dilelang pada 2020 untuk spektrum berbeda, kini diharapkan menjembatani kesenjangan itu.

Namun, tantangan tak berhenti di lelang. Pakar telekomunikasi Donny Budi Utomo dari APJII mengingatkan pentingnya infrastruktur pendukung seperti base station, terutama di Regional III yang penuh hutan dan pegunungan. “Investasi besar harus diimbangi eksekusi lapangan yang solid,” ujarnya. Kompetisi antara Surge dan MyRepublic juga bisa memicu inovasi, seperti integrasi teknologi 5G hybrid di masa depan.

Langkah Menuju Indonesia Digital

Menteri Komdigi menegaskan bahwa program ini adalah bagian dari visi Indonesia Emas 2045, di mana akses internet merata jadi fondasi kemajuan. “Kami ingin cerita anak belajar di warkop karena kuota mahal jadi masa lalu,” katanya dalam konferensi pers. Dengan Surge dan MyRepublic di barisan depan, pendaftaran layanan sudah dibuka, lengkap dengan promo khusus untuk keluarga kurang mampu.

Bandingkan dengan lelang 2020, di mana Telkomsel mengamankan frekuensi 2,3 GHz seharga Rp 1 triliun, program kali ini terasa lebih inklusif. Surge dan MyRepublic, dengan pengalaman masing-masing, punya peluang besar mewujudkan janji internet murah. Namun, keberhasilan tergantung pada eksekusi di lapangan—dan tentu saja, respons masyarakat.

Bagi pengguna yang lelah dengan tagihan internet mahal, ini saatnya bersiap. Akankah internet murah 100 Mbps benar-benar mengubah lanskap digital Indonesia? Waktu akan menjawab, tapi langkah ini jelas membawa harapan baru.

(Artikel disusun berdasarkan pengumuman resmi Komdigi dan data pendukung. Informasi lebih lanjut menyusul saat layanan resmi diluncurkan.)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *