Potret Buram Banjir Aceh: Stok Beras Ludes, Warga Terpaksa Bertahan Hidup dengan Labu Rebus
ACEH TAMIANG, kilatnews.id – Di balik laporan surutnya air di beberapa titik jalan lintas nasional, tersimpan kisah pilu dari kantong-kantong pemukiman warga di pedalaman Aceh yang masih terisolasi. Bencana banjir yang merendam wilayah tersebut selama berhari-hari tidak hanya menghancurkan harta benda, tetapi juga memicu krisis pangan yang nyata.
Di sejumlah desa di Aceh Tamiang dan Aceh Utara, warga melaporkan bahwa stok beras dan bahan pokok mereka telah habis total. Bantuan logistik dari pemerintah maupun relawan belum mampu menembus akses jalan yang tertutup lumpur tebal atau masih tergenang air tinggi. Akibatnya, mekanisme bertahan hidup (survival mode) pun dilakukan dengan cara yang menyayat hati: mengonsumsi apa saja yang tersisa dari kebun, termasuk hanya merebus labu kuning (waluh) tanpa nasi.
Sajian Darurat Pengganjal Lapar
Kisah ini mencuat dari penuturan warga yang videonya sempat viral dan dikonfirmasi oleh relawan lokal. Dalam kondisi kedinginan dan tanpa listrik, para ibu di pengungsian mandiri terpaksa mengolah labu air atau labu tanah yang berhasil diselamatkan sebelum membusuk.
“Beras sudah tidak ada, hanyut semua. Bantuan belum masuk karena jalan putus. Ya sudah, kami rebus labu saja, yang penting perut anak-anak terisi hangat sedikit,” ujar salah satu warga dengan nada pasrah.
Labu rebus tersebut dimakan begitu saja, tanpa garam atau lauk pauk lainnya. Bagi mereka, rasa kenyang adalah kemewahan yang langka saat ini. Prioritas utama adalah memberikan asupan energi agar tidak jatuh sakit di tengah kondisi lingkungan yang tidak higienis.
Logistik Menumpuk di Posko Utama, Macet di Distribusi
Ironi terjadi di lapangan. Di satu sisi, gudang logistik di pusat pemerintahan kabupaten dilaporkan penuh oleh bantuan dari berbagai instansi dan donatur. Namun, di sisi lain, distribusi ke titik “nol” bencana di pelosok desa mengalami kendala berat.
Banyak akses jembatan yang putus dan jalan desa yang berubah menjadi kubangan lumpur setinggi pinggang orang dewasa membuat truk pengangkut logistik tidak bisa lewat. Pengiriman menggunakan perahu karet (rubber boat) pun terbatas jumlahnya dan harus melawan arus yang kadang masih deras.
Kondisi ini menciptakan disparitas penanganan. Warga yang berada di pinggir jalan raya utama relatif terjamin pangannya, sementara mereka yang tinggal beberapa kilometer masuk ke dalam harus bertaruh nyawa menahan lapar.
Ancaman Malnutrisi dan Penyakit
Tenaga kesehatan di lapangan mulai mengkhawatirkan dampak jangka panjang jika kondisi ini berlanjut lebih dari sepekan. Konsumsi makanan yang tidak seimbang (hanya serat/karbohidrat rendah tanpa protein) pada anak-anak dan lansia di tengah cuaca ekstrem sangat rentan memicu penurunan daya tahan tubuh.
Diare, demam, dan penyakit kulit mulai menjangkiti para pengungsi. Asupan gizi yang layak sangat dibutuhkan untuk melawan penyakit-penyakit tersebut.
Desakan Percepatan Distribusi Udara
Merespons situasi kritis ini, sejumlah tokoh masyarakat mendesak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan TNI untuk segera mengerahkan helikopter guna melakukan air dropping (penerjunan logistik dari udara) ke desa-desa yang terisolir total.
Metode konvensional lewat darat dan sungai dinilai terlalu lambat untuk berpacu dengan rasa lapar warga. Cerita warga memakan labu rebus seharusnya menjadi tamparan keras bagi manajemen penanggulangan bencana, bahwa kecepatan data laporan harus sebanding dengan kecepatan nasi bungkus sampai ke tangan rakyat.
