Timor Leste Resmi Gabung ASEAN: Momen Bersejarah di KTT Kuala Lumpur, Dampak untuk Indonesia dan Kawasan
Jakarta, 25 Oktober 2025 — Di tengah hiruk-pikuk KTT ASEAN ke-47 yang akan bergulir di Kuala Lumpur Convention Centre mulai besok, 26 Oktober, satu momen akan mencuri perhatian dunia: Timor Leste resmi menjadi anggota ke-11 ASEAN. Setelah 14 tahun mengajukan keanggotaan sejak 2011 dan dua tahun sebagai pengamat sejak 2022, negara termuda di Asia Tenggara ini akhirnya bergabung, menandai akhir perjuangan panjang dari kolonialisme Portugis, invasi Indonesia, hingga referendum berdarah 1999. Presiden Timor Leste Jose Ramos-Horta menyebut jalan ini “lebih sulit daripada menuju surga,” tapi manfaatnya besar: akses pasar 680 juta orang, dukungan ekonomi, dan suara lebih kuat di forum regional. Bagi Indonesia, ini bukan sekadar berita tetangga—ia adalah peluang kolaborasi maritim, tapi juga pengingat luka sejarah Timor Timur yang masih membekas.
KTT ASEAN ke-47, yang digelar 26-28 Oktober di Kuala Lumpur, bukan acara biasa. Selain upacara pembukaan pada Minggu pagi, agenda mencakup 25 pertemuan krusial: KTT ASEAN Plus 1 dengan mitra seperti China, AS, dan Jepang; KTT Asia Timur; serta KTT ASEAN-PBB. Upacara penerimaan Timor Leste akan jadi highlight, dihadiri pemimpin 10 negara anggota plus tamu undangan. Bendera Timor Leste akan dikibarkan, Deklarasi Penerimaan ditandatangani, dan pidato Ramos-Horta akan resmikan era baru. Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, sebagai tuan rumah, sebut ini “momen persatuan kawasan,” sementara Sekjen ASEAN Kao Kim Hourn tambah: “Timor Leste akan perkuat suara ASEAN di forum global, sambil amankan kepentingan strategisnya melalui jaringan ekonomi dan diplomatik yang ada.”
Sejarah Timor Leste menuju ASEAN adalah kisah ketangguhan. Jajahan Portugis sejak 1520, sempat dikuasai Jepang dan Belanda, berakhir pada 1975 dengan deklarasi kemerdekaan dari Fretilin. Tapi, dua hari kemudian, tiga partai pro-Indonesia deklarasikan integrasi ke RI, jadi legitimasi Orde Baru untuk Operasi Seroja pada 7 Desember 1975. Invasi itu telan 200.000 nyawa (estimasi Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Timor Leste, 2008), picu sanksi internasional, dan referendum 30 Agustus 1999 di mana 78% pilih merdeka. Pada 20 Mei 2002, Timor Leste lahir sebagai negara berdaulat, dengan Ramos-Horta dan Xanana Gusmao sebagai arsitek perdamaian.
Aju keanggotaan ASEAN pada 2011 lahir dari keinginan integrasi ekonomi. Dengan PDB $3 miliar (2024) dan populasi 1,3 juta, Timor Leste bergantung pada minyak/gas (90% ekspor), tapi rentan fluktuasi harga. Sebagai pengamat sejak 2022, mereka ikut 20+ pertemuan, tunjukkan komitmen. Manfaatnya nyata: akses pasar ASEAN bebas tarif untuk kopi dan pariwisata, bantuan teknis untuk diversifikasi ekonomi, dan suara lebih kuat di isu seperti Laut China Selatan. Perdana Menteri Gusmao bilang, “Ini legitimasi politik dan jaringan dukungan untuk bangun ekonomi kami.” Analis seperti Dewi Fortuna Anwar sebut, “Timor Leste bawa dimensi baru: negara kecil yang fokus perdamaian, lawan dominasi China di ASEAN.”
Bagi Indonesia, ini momen bittersweet. Presiden Prabowo Subianto hadir di KTT, diikuti KTT APEC di Gyeongju, Korea Selatan (30 Oktober-2 November). Menlu Sugiono bilang, “Kami persiapkan agenda kolaborasi ekonomi dan transisi energi,” termasuk jaringan listrik ASEAN. Tapi, sejarah Timor Timur (1975-1999) masih sensitif: invasi Seroja, kekerasan militer, dan referendum berdarah tinggalkan luka. Komunitas Timor di Jakarta, seperti Aliansi Mahasiswa Timor Leste, sambut bergabungnya sebagai “langkah rekonsiliasi,” tapi minta Indonesia akui masa lalu. “Gabung ASEAN bisa jadi jembatan, tapi butuh maaf resmi,” kata koordinatornya, Joao da Silva.
Dampak regional juga luas. ASEAN kini punya 11 anggota, populasi 680 juta, PDB $3,6 triliun—kuat lawan China di RCEP. Timor Leste, dengan pantai 706 km, bantu konektivitas maritim, tapi tantangan ada: ekonomi lemah ($2.000 PDB per kapita) dan tata kelola rentan korupsi. Analis ASEAN Studies Centre bilang, “Timor butuh bantuan transisi, seperti Myanmar, tapi tanpa konflik internal.” Indonesia, sebagai tetangga terdekat, bisa pimpin: investasi di pariwisata Timor (seperti Pantai Atauro) atau energi terbarukan.
Di Kuala Lumpur, Prabowo akan pidato soal “ASEAN sentralitas,” tapi fokus Timor Leste jadi ujian rekonsiliasi. Ramos-Horta, pemenang Nobel Perdamaian 1996, harap ini “halaman baru.” Bagi Indonesia, gabungnya Timor Leste bukan akhir sejarah, tapi awal kolaborasi: dari luka masa lalu ke masa depan bersama di lautan Nusantara.
