News

Pergi Umrah Saat Bencana, Gerindra Resmi Copot Bupati Aceh Selatan dari Ketua DPC

BANDA ACEH, kilatnews.id – Partai Gerindra mengambil langkah disipliner yang keras dan tegas terhadap salah satu kadernya yang menjabat sebagai kepala daerah. Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerindra secara resmi mencopot jabatan Bupati Aceh Selatan dari posisinya sebagai Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerindra Kabupaten Aceh Selatan. Keputusan mengejutkan ini diambil menyusul tindakan sang Bupati yang dinilai tidak memiliki sense of crisis karena memilih berangkat ibadah umrah di saat wilayah yang dipimpinnya sedang luluh lantak diterjang bencana banjir bandang.

Surat keputusan pencopotan tersebut dikeluarkan pada Kamis malam (5/12), merespons gelombang kritik publik dan laporan dari struktur partai di daerah. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa partai berlambang kepala garuda tersebut tidak mentolerir kadernya yang abai terhadap penderitaan rakyat, terutama dalam situasi darurat kebencanaan.

Dinilai Nir-Empati dan Meninggalkan Tanggung Jawab

Informasi yang dihimpun kilatnews.id, keputusan sang Bupati untuk tetap terbang ke Tanah Suci di tengah status tanggap darurat bencana dinilai sebagai tindakan yang mencederai etika kepemimpinan publik. Sebagaimana diketahui, wilayah Aceh Selatan dan sekitarnya saat ini merupakan salah satu titik terparah yang terdampak banjir besar di Sumatra. Ribuan warga mengungsi, infrastruktur rusak, dan akses logistik terputus di beberapa kecamatan.

Sekretaris Jenderal Partai Gerindra, dalam keterangan tertulisnya, menegaskan bahwa seorang pemimpin, apalagi yang lahir dari rahim Partai Gerindra, wajib hukumnya untuk berada di tengah-tengah rakyat saat masa sulit. Kepergian sang Bupati ke luar negeri, meskipun untuk tujuan ibadah, dianggap tidak tepat waktu dan menunjukkan prioritas yang keliru.

“Ibadah itu penting, namun tanggung jawab kemanusiaan dan kepemimpinan saat rakyat menderita adalah ibadah sosial yang tak kalah utamanya. Meninggalkan rakyat yang sedang kebanjiran demi agenda pribadi adalah preseden buruk bagi seorang kader Gerindra,” tegas sumber internal partai yang enggan disebutkan namanya.

Penunjukan Pelaksana Tugas (Plt)

Untuk mengisi kekosongan kepemimpinan partai di tingkat cabang dan memastikan mesin partai tetap bekerja membantu penanganan bencana, DPP Gerindra langsung menunjuk Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPC Aceh Selatan. Pergantian mendadak ini diharapkan dapat mengembalikan kepercayaan publik dan memastikan kader-kader Gerindra di Aceh Selatan tetap solid bergerak di lapangan membantu korban banjir tanpa terbebani oleh polemik pimpinannya.

Langkah cepat Gerindra ini juga dinilai sebagai upaya damage control (pengendalian kerusakan) citra politik. Di era media sosial, kabar mengenai pejabat yang “plesiran” atau pergi ke luar daerah saat bencana dengan cepat memicu amarah publik. Netizen di berbagai platform media sosial sebelumnya ramai mengecam ketidakhadiran sosok kepala daerah di lokasi banjir, yang kemudian terkonfirmasi sedang berada di Mekkah.

Kritik Keras dari Pengamat dan Warga

Keputusan pencopotan ini mendapat respons positif dari pengamat politik lokal Aceh. Teuku Zulkhairi, seorang analis kebijakan publik di Banda Aceh, menyebut langkah Gerindra sudah tepat. Menurutnya, dalam manajemen krisis, kehadiran fisik seorang pemimpin adalah simbol harapan bagi korban.

“Secara administratif mungkin tugas bisa didelegasikan ke Wakil Bupati atau Sekda, tapi secara moral dan psikologis, rakyat butuh melihat pemimpinnya berkeringat bersama mereka, mengangkat karung pasir, atau sekadar menyalami mereka di tenda pengungsian. Absennya Bupati dengan alasan umrah sangat sulit diterima akal sehat publik yang sedang trauma,” ujar Zulkhairi.

Warga Aceh Selatan yang terdampak banjir pun menyuarakan kekecewaan mendalam. Di beberapa posko pengungsian, topik mengenai kepergian Bupati menjadi pembicaraan hangat yang bernada sinis. “Kami di sini berebut mie instan dan tidur di atas lumpur, bupatinya malah pergi jauh. Padahal kami memilih dia untuk mengurus kami,” keluh seorang warga di Kecamatan Trumon Tengah.

Peringatan Bagi Kader Lain

Kasus di Aceh Selatan ini menjadi peringatan keras (warning) bagi seluruh kepala daerah yang diusung oleh Partai Gerindra di seluruh Indonesia. Instruksi Ketua Umum Prabowo Subianto selama ini selalu menekankan keberpihakan pada wong cilik. Tindakan meninggalkan wilayah saat bencana besar dianggap sebagai pelanggaran serius terhadap doktrin partai.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi langsung dari sang Bupati terkait pencopotan dirinya dari jabatan partai, maupun klarifikasi mengenai keputusannya berangkat umrah di tengah bencana. Namun, secara politik, kariernya di internal partai dipastikan telah tamat, dan tantangan berat menanti sekembalinya ia dari Tanah Suci untuk menghadapi konstituen yang kecewa.

Masyarakat kini menunggu apakah sanksi politik ini akan berdampak pada kinerja birokrasi Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan dalam menangani masa pemulihan pasca-bencana yang diprediksi akan memakan waktu lama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *