Longsor di Cisarua: 23 Anggota Marinir TNI AL Tertimbun, 4 Ditemukan Meninggal Dunia
Bandung Barat, Jawa Barat — Sebanyak 23 anggota Korps Marinir TNI Angkatan Laut (TNI AL) menjadi korban bencana tanah longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Informasi ini disampaikan langsung oleh Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL), Laksamana TNI Muhammad Ali, pada Senin, 26 Januari 2026, saat memberikan keterangan kepada wartawan usai rapat kerja di Kompleks Parlemen, Jakarta.
Peristiwa tragis ini terjadi pada Sabtu dini hari, 24 Januari 2026 pukul 03.00 WIB, di wilayah yang berdekatan dengan permukiman dan jalur pelatihan militer. Longsor dipicu oleh hujan deras yang melanda kawasan Cisarua hampir selama dua malam berturut-turut, sehingga memicu runtuhan tanah yang menimpa lokasi latihan.
Korban dan Upaya Pencarian
Dari 23 personel Marinir yang tertimbun setelah longsor, empat di antaranya telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, dan relawan masih terus melakukan operasi pencarian untuk menemukan 19 personel lain yang belum ditemukan.
Menurut KSAL Muhammad Ali, hingga Senin sore baru empat jasad yang berhasil dievakuasi dari timbunan tanah longsor. Identitas empat almarhum belum dipublikasikan secara resmi kepada media, sementara pencarian untuk anggota yang hilang terus diperluas.
Upaya pencarian menghadapi berbagai kendala, termasuk akses medan yang sulit, cuaca hujan, serta belum bisa dilakukannya masuknya alat berat ke lokasi bencana karena kondisi jalan yang sempit dan licin. Untuk itu, tim SAR mengerahkan sejumlah teknologi pencarian seperti drone dengan sensor thermal, serta unit khusus anjing pelacak untuk mempercepat deteksi titik korban di bawah timbunan tanah.
Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, turut menjelaskan perkembangan pencarian. Pada hari ketiga operasi, tim SAR berhasil mengevakuasi empat body bag, sehingga total korban yang diserahkan kepada tim identifikasi hingga saat ini mencapai 29 tubuh secara keseluruhan dari seluruh lokasi longsor. Kejadian ini tidak hanya berdampak bagi prajurit, tapi juga warga sipil yang tinggal di sekitar area longsor.
Setelah evakuasi, seluruh jenazah dibawa ke posko Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat di Puskesmas Desa Pasirlangu untuk proses identifikasi lebih lanjut oleh pihak kepolisian. Proses identifikasi diperlukan untuk memastikan identitas korban sebelum diserahkan kepada keluarga masing-masing.
Kronologi Kejadian dan Kondisi Latihan
Berdasarkan keterangan dari KSAL, saat kejadian para prajurit Marinir tersebut sedang menjalani latihan prajabatan (pratugas) untuk persiapan pengamanan wilayah perbatasan antara Republik Indonesia dan Papua Nugini (RI-PNG). Latihan ini dilaksanakan di wilayah Cisarua, yang walaupun berbukitan, biasa digunakan sebagai lokasi latihan militer karena kontur alamnya yang menantang.
“Saat itu kondisi hujan lebat, hujan sudah turun dua malam berturut-turut. Ini mungkin mengakibatkan tanah longsor yang menimpa area latihan dan desa sekitar,” jelas Muhammad Ali saat memberikan keterangan terbuka kepada media.
Kejadian longsor tidak hanya menimpa para prajurit, tetapi juga mempengaruhi rumah-rumah warga di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, yang berada di bawah kaki Gunung Burangrang. Dampaknya cukup luas karena material longsor menyapu sedikitnya puluhan rumah yang berada di area lereng.
Respons TNI AL dan Tindak Lanjut
Pihak TNI AL bersama instansi pemerintah daerah dan pusat telah menyiapkan langkah darurat terhadap insiden ini, termasuk koordinasi lintas lembaga untuk penanganan bencana, evakuasi korban, serta dukungan logistik bagi operasi SAR. KSAL juga menyatakan dukungan penuh dari TNI untuk keluarga korban dan keamanan personel lainnya.
Dalam pernyataannya, KSAL menegaskan bahwa pencarian akan terus dilakukan sampai semua personel ditemukan. Upaya ini melibatkan berbagai pihak dan menggunakan peralatan canggih untuk mengatasi kendala medan yang berat.
Kesimpulan:
Bencana longsor di Cisarua telah menjadi tragedi besar yang menimpa prajurit Marinir TNI AL. Dengan 23 personel tertimbun, empat telah ditemukan meninggal, dan upaya pencarian masih berlangsung intensif. Cuaca, kondisi medan, dan alat berat yang belum bisa masuk menjadi tantangan utama di lapangan, sementara pihak berwenang terus berkoordinasi untuk menyelesaikan operasi pencarian ini.

