Bencana Alam

Keluhan Sopir Truk: “Tahun Ini Terparah” di Jalur Pantura Semarang–Demak

Semarang, 30 Oktober 2025 – Musibah banjir yang menyerang jalur pantai utara (Pantura) Semarang–Demak pada musim hujan ini menjadi tantangan berat bagi para sopir truk. Banyak kendaraan besar yang mogok, waktu tempuh terhambat, dan kerugian makin menumpuk. Sopir truk mengungkap bahwa kondisi tahun ini paling buruk dibanding musim-musim sebelumnya.


1. Kejadian di Lapangan

Pada Kamis siang, sekitar pukul 12.00 WIB, di ruas jalan Jalan Pantura Semarang–Demak, tepatnya di kawasan depan RS I Sultan Aghung, Kecamatan Genuk, Kota Semarang, tampak banyak truk terparkir di badan jalan karena mogok atau terdampar banjir.
Salah satu sopir truk, Anton (32), mengaku bahwa truknya mengalami kerusakan karena mesin kemasukan air saat menerjang genangan. “Mesinnya kemasukan air, mogok, ditunggu dulu,” katanya.
Rekan seprofesi, Eko (35), asal Pati, menyebut bahwa meskipun truknya belum mogok, ia melihat banyak truk lain yang filter anginnya terendam air banjir. “Saya belum pernah mogok, tapi truk banyak yang mogok karena mesin terendam banjir… kebanyakan sih filter angin terendam,” ujarnya.
Selain kerusakan mesin, Eko memperingatkan bahwa kondisi air banjir di jalur Pantura kali ini makin parah karena bercampur air laut (rob). Akibatnya, setelah menerjang banjir, ia memilih melewati jalur dalam kota agar rem truknya bisa kering terlebih dahulu.


2. Peringatan dari TNI/BNPB setempat

Menurut Babinsa Kelurahan Terboyo Kulon, Sertu Suliman, ketinggian banjir di titik depan RS I Sultan Aghung mencapai 50–90 cm, cukup untuk membuat banyak truk mogok. “Ketinggian banjir saat ini mencapai 50-90 cm, untuk truk-truk banyak yang mogok,” ungkapnya.
Suliman juga menambahkan bahwa truk ukuran besar (roda delapan ke atas) masih bisa melintas dengan aman, sedangkan truk ukuran roda enam dan roda empat yang lebih rendah jalannya relatif rawan mogok.


3. Sulitnya Dampak di Jalur Logistik Pantura

Jalur Pantura memang menjadi nadi logistik dan angkutan barang antar-kota di Jawa. Untuk sopir truk yang rutin dari Jakarta ke Surabaya atau sebaliknya, kondisi banjir seperti ini menimbulkan dampak nyata: peningkatan waktu tempuh, kerusakan mesin, dan biaya tambahan untuk perawatan.
Eko mengakui bahwa sejak memakai truk tronton selama sebulan terakhir membawa muatan motor dari Jakarta ke Surabaya, ia mulai berhati-hati: “Dari 2009 selalu merasakan banjir, tapi tahun ini paling parah di Semarang. Dulu sempat paling parah di Kudus, tapi tahun ini lebih parah di Semarang.”
Sementara sopir lain, Didik (54), juga menceritakan pengalamannya terjebak macet hingga empat jam hanya untuk menempuh jarak 2-3 km karena banjir setinggi itu.


4. Kenapa Tahun Ini Dinilai “Terparah”?

Menurut para sopir, beberapa faktor menjelaskan mengapa banjir kali ini disebut paling buruk:

  • Intensitas air lebih tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya di kawasan Semarang–Demak.
  • Campuran dengan air laut (rob) membuat air banjir lebih agresif dalam merusak bagian mesin kendaraan.
  • Drainase dan pompa belum optimal untuk mengantisipasi kombinasi rob dan hujan lebat, sehingga air cenderung lebih lama menggenang. (Catatan: Gubernur Dion Gubernur Jateng pernah meminta optimalisasi pompa)
  • Truk-truk angkutan barang semakin banyak dan besar, tetapi kondisi jalan dan titik rawan banjir belum banyak perubahan signifikan sejak lama.

5. Implikasi untuk Bisnis Logistik

Dampak banjir terhadap operasional armada truk tak hanya soal kerusakan fisik. Beberapa implikasi nyata antara lain:

  • Biaya perawatan meningkat: mesin kemasukan air, filter angin bocor, rem butuh servis segera.
  • Waktu pengiriman tertunda: macet dan mogok menghambat distribusi barang antar kota.
  • Potensi alih rute: Sopir memilih jalur dalam atau memutar jauh untuk menghindari banjir — yang artinya biaya bahan bakar dan waktu meningkat.
  • Risiko muatan rusak: jika truk terendam cukup parah, muatan bisa basah atau rusak — menambah beban tanggung jawab pengangkut.
    Mengingat Pantura Semarang–Demak adalah salah satu koridor utama, gangguan seperti ini bisa merembet ke rantai logistik yang lebih luas.

6. Tindakan yang Bisa Diambil

Beberapa langkah yang direkomendasikan agar situasi tak terus memburuk:

  • Pemantauan intensif terhadap titik-titik rawan banjir di jalur Pantura oleh instansi terkait, dengan pemasangan sensor atau sistem early-warning banjir.
  • Peningkatan sistem pompa dan drainase di kawasan rob agar air cepat terbuang dan tidak berdampak lama terhadap jalan.
  • Koordinasi antara pengelola jalan, instansi kebencanaan, dan operator truk untuk pemberitahuan dini jika jalur akan terendam.
  • Rute alternatif bagi truk: Operator angkutan bisa mempertimbangkan jalur dalam atau waktu operasi yang berbeda untuk menghindari puncak banjir.
  • Pelatihan sopir tentang bagaimana menangani kendaraan besar saat melintas genangan — seperti memastikan rem kering, mesin aman dari air.

7. Kesimpulan

Banjir di jalur Pantura Semarang–Demak tahun ini menonjol sebagai salah satu yang paling parah dalam beberapa tahun terakhir menurut para sopir truk. Genangan antara 50–90 cm, campuran air laut, dan banyaknya kendaraan yang terjebak atau mogok menandakan bahwa penanggulangan belum memadai. Dampak tersebut tidak hanya bersifat lokal, namun juga memengaruhi logistik nasional melalui jalur Pantura.
Agar kejadian serupa tak terulang, diperlukan sinergi antara otoritas jalan, kebencanaan, dan operator logistik untuk memperkuat sistem antisipasi dan respons banjir. Bagi operator truk, kewaspadaan ekstra, rute alternatif, serta perawatan kendaraan secara rutin menjadi kunci agar bisnis angkutan tetap berjalan meskipun cuaca ekstrem melanda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *