Kesehatan

Indonesia Catat Rekor Terendah Angka Kematian DBD, Kemenkes Optimistis Capai Target 2030

Jakarta — Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) kembali mencatat prestasi penting dalam upaya pengendalian penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Pada periode terbaru data nasional, Indonesia berhasil menurunkan angka kematian akibat DBD secara signifikan. Menurut laporan resmi yang dikutip Jumat (13/2/2026), Case Fatality Rate (CFR) atau persentase orang yang meninggal karena DBD turun dari sekitar 0,9 persen pada 2021 menjadi 0,4 persen pada 2025, sebuah capaian yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Pencapaian ini bahkan melampaui target nasional yang ditetapkan yaitu tidak lebih dari 0,5 persen, menunjukkan bahwa strategi penanggulangan DBD yang diterapkan pemerintah makin efektif. Kemenkes menyatakan bahwa dengan tren saat ini, Indonesia berada dalam jalur yang tepat untuk mengejar sasaran “Nol Kematian DBD pada tahun 2030.”


Tren Penurunan Kematian DBD di Indonesia

Angka CFR merupakan indikator penting dalam menilai efektivitas manajemen klinis suatu penyakit. Penurunan angka kematian DBD ini menunjukkan bahwa tidak hanya jumlah kasus yang terus dipantau, tetapi juga kemampuan pelayanan kesehatan dalam menangani pasien DBD mengalami kemajuan signifikan.

Dulu, DBD sering kali menjadi penyakit yang memicu angka kematian tinggi, terutama selama musim hujan ketika nyamuk Aedes aegypti berkembang pesat. Namun dengan penguatan fasilitas kesehatan, pelatihan tenaga medis, serta sistem rujukan yang lebih baik, banyak pasien kini dapat ditangani lebih cepat dan efektif.

Data dari beberapa tahun terakhir menunjukkan jumlah total kasus DBD di Indonesia sangat tinggi. Pada pertengahan 2025, tercatat sekitar 67.000 kasus DBD, dengan wilayah Jawa Barat menjadi salah satu yang paling banyak melaporkan kasus. Angka kematian pada periode tersebut juga masih cukup tinggi, meskipun telah turun dari puncaknya di tahun-tahun sebelumnya.


Upaya Pemerintah dalam Mengendalikan DBD

1. Peningkatan Deteksi Dini dan Penanganan Cepat

Salah satu faktor penting adalah peningkatan kemampuan tenaga kesehatan dalam melakukan deteksi dini dan penanganan cepat terhadap kasus peserta DBD. Dengan pelatihan intensif dan panduan klinis terbaru, fasilitas kesehatan menjadi lebih siap menangani pasien sejak awal gejala muncul.

Selain itu, pemerintah mendorong pemanfaatan data terintegrasi sehingga kasus DBD dapat dipantau secara real-time dan tindakan penanggulangan bisa dilakukan lebih cepat. Program ini melibatkan berbagai puskesmas, rumah sakit, dan dinas kesehatan daerah.


2. Pencegahan Melalui Pengendalian Lingkungan

Bagian penting lain dalam strategi penanggulangan DBD adalah pengendalian lingkungan. Lingkungan yang baik dapat membatasi populasi nyamuk Aedes aegypti, vektor utama penyebaran virus DBD.

Kemenkes secara aktif mengkampanyekan pencegahan melalui gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) seperti 3M Plus — yaitu menguras, menutup, dan mengubur tempat penampungan air yang tidak terpakai, serta penerapan langkah-langkah tambahan seperti pemasangan kelambu, penggunaan repellant, dan fogging di wilayah yang berisiko tinggi.


3. Penguatan Kampanye Edukasi Masyarakat

Penyebaran informasi dan edukasi masyarakat juga menjadi fokus utama pemerintah. Masyarakat diajak untuk aktif terlibat dalam mencegah penyakit ini melalui penyuluhan kesehatan, seminar, dan kampanye media sosial.

Kemenkes menargetkan seluruh lapisan masyarakat dari urban hingga pedesaan untuk memahami tanda dan gejala DBD serta langkah tindakan pertama yang harus diambil ketika seseorang terinfeksi. Kesadaran publik ini juga berkontribusi terhadap penurunan angka fatalitas.


Pencapaian Signifikan: CFR Turun ke 0,4 Persen

Menurut Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Asnawi Abdullah, tren penurunan kasus kematian ini menunjukkan kemajuan nyata dalam penanganan DBD di Indonesia. “Tren ini menunjukkan bahwa meskipun dengue masih menyebar di komunitas kita, semakin sedikit orang yang meninggal karenanya,” kata Asnawi dalam rilis resmi.

Data ini juga menunjukkan kemajuan yang signifikan bila dibandingkan dengan laporan tahun-tahun sebelumnya. Pada pertengahan tahun 2024, Kemenkes mencatat hingga hampir 90.000 kasus DBD dengan lebih dari 600 kematian. Namun, angka fatalitas secara keseluruhan menurun apabila dibandingkan dengan jumlah kasus yang terus bertambah, hal ini menjadi bukti bahwa respons sistem kesehatan semakin efektif.


Tantangan yang Masih Dihadapi

Meski capaian ini menggembirakan, DBD masih menjadi penyakit endemik yang memerlukan upaya berkelanjutan. Wilayah tertentu masih melaporkan kasus dengan jumlah tinggi, terutama di daerah urban yang padat penduduk. Hal ini menjadi tantangan karena mobilitas dan kepadatan kawasan ini memudahkan nyamuk penyebar virus berkembang.

Selain itu, perubahan iklim seperti musim hujan yang lebih panjang dan kondisi cuaca tidak menentu juga dapat memperkuat siklus reproduksi nyamuk. Oleh karena itu, upaya pengendalian lingkungan tetap menjadi prioritas utama untuk mengendalikan angka kasus.


Target Nol Kematian DBD pada 2030

Pemerintah menegaskan bahwa pencapaian rekornya angka fatalitas DBD ini merupakan momentum penting menuju target jangka panjang yaitu Nol Kematian DBD pada tahun 2030.

Visi ini selaras dengan upaya nasional dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, penguatan sistem rujukan, dan pengembangan teknologi kesehatan yang lebih baik untuk mendeteksi dan menanggulangi kasus penyakit tropis menular dengan lebih cepat.

Dengan tingkat fatalitas saat ini yang jauh di bawah target nasional, pemerintah optimis bahwa target tersebut dapat dicapai melalui kolaborasi semua pihak — dari tenaga kesehatan, pemerintah daerah, hingga masyarakat umum.


Peran Masyarakat dalam Menekan Angka Kematian

Kemenkes juga menghimbau masyarakat agar lebih waspada terutama di masa-masa ketika kasus DBD cenderung meningkat seperti menjelang dan selama musim hujan.

Langkah-langkah pencegahan sederhana namun efektif seperti rutin membersihkan dan menutup tempat penampungan air, menggunakan obat anti-nyamuk, serta menjaga kebersihan lingkungan merupakan bagian dari strategi jangka panjang menekan kasus dan fatalitas DBD.

Selain itu, masyarakat juga diimbau segera mencari pertolongan medis ketika mengalami gejala demam tinggi tidak kunjung turun, nyeri otot, atau tanda-tanda trombosit rendah, agar penanganan medis dapat dilakukan lebih awal.


Penutup

Indonesia menunjukkan kemajuan nyata dalam upaya pengendalian DBD dengan pencapaian angka kematian terendah dalam sejarah data nasional. Turunnya angka Case Fatality Rate secara signifikan menjadi kabar positif dalam upaya kesehatan masyarakat, meskipun tantangan seperti perubahan iklim dan potensi wabah lokal tetap ada.

Kemenkes terus memperkuat strategi deteksi dini, penanganan cepat, edukasi masyarakat, serta pengendalian lingkungan untuk memastikan tren positif ini berlanjut dan target Nol Kematian DBD pada tahun 2030 dapat terwujud.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *