Fakta Mengejutkan dari Malaysia: Kasus TBC Lebih Banyak Libatkan Warga Lokal
KilatNews.Id, Jakarta – Kasus TBC atau tuberkulosis di Malaysia didominasi oleh warga lokal. Sekitar 85 persen pasien TBC di sana adalah warga Negeri Jiran dan sisanya alias 15 persen merupakan warga negara asing.
Hal ini disampaikan Menteri Kesehatan Malaysia Datuk Seri Dr Dzulkefly Ahmad menanggapi spekulasi yang berhembus tentang banyak warga negara asing yang jadi sumber penularan tuberkulosis di Malaysia.
KilatNews.id, Jakarta – Isu penularan tuberkulosis (TBC) di Malaysia kembali memanas. Di tengah spekulasi yang menyudutkan warga negara asing (WNA) sebagai sumber utama penyebaran, fakta justru berbicara sebaliknya.
Data resmi menunjukkan sekitar 85 persen kasus TBC di Malaysia didominasi warga lokal, sementara hanya 15 persen yang merupakan warga negara asing. Angka ini langsung mematahkan narasi yang selama ini ramai beredar di ruang publik.
Menteri Kesehatan Malaysia, Dzulkefly Ahmad, angkat bicara menanggapi tudingan tersebut. Ia menegaskan bahwa penyebaran TBC tidak bisa serta-merta dikaitkan dengan keberadaan WNA.
“Data jelas menunjukkan mayoritas pasien adalah warga negara kita sendiri,” tegasnya, merujuk pada laporan resmi Kementerian Kesehatan.
Pernyataan ini sekaligus menjadi tamparan bagi berbagai spekulasi yang berkembang, terutama di media sosial, yang menyebut lonjakan kasus TBC dipicu oleh arus pekerja asing. Pemerintah Malaysia menekankan pentingnya melihat persoalan ini secara objektif dan berbasis data, bukan asumsi.
TBC sendiri merupakan penyakit menular yang menyerang paru-paru dan masih menjadi tantangan kesehatan di berbagai negara, termasuk Malaysia. Otoritas kesehatan setempat terus menggencarkan upaya deteksi dini dan pengobatan guna menekan angka penularan.
Dengan fakta yang terungkap, perdebatan soal siapa yang paling bertanggung jawab atas penyebaran TBC di Malaysia kini memasuki babak baru. Data telah dibuka—dan jawabannya ternyata jauh dari dugaan banyak pihak.
“Ini artinya, risiko penularan (TBC) dalam komunitas kita nyata dan tidak boleh dipandang enteng,” kata Dzulkefly di laman Facebook pribadinya pada Rabu, 18 Februari.
Dzulkefly mengatakan bukanlah suatu fenomena baru. Penyakit yang sudah lama ada ini penyebabnya bisa jadi karena faktor sosial ekonomi seperti kepadatan penduduk dan kekurangan gizi.
Ia menjelaskan, kuman penyebab TBC yakni Mycobacterium tuberculosis dikenal sangat bandel dan mampu bertahan lama di dalam tubuh jika tidak segera ditangani. Bakteri ini bisa menyebar lewat udara dan diam-diam menginfeksi tanpa gejala berat pada tahap awal, sehingga kerap terlambat terdeteksi.
Namun di balik ancaman tersebut, ada kabar yang melegakan. TBC bisa dicegah, bisa diobati, dan bahkan dapat disembuhkan sepenuhnya. Kuncinya ada pada deteksi dini dan kepatuhan menjalani pengobatan sampai tuntas. Dengan penanganan yang tepat dan tidak terputus, pasien memiliki peluang besar untuk pulih total dan memutus rantai penularan.
Karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak mengabaikan gejala seperti batuk berkepanjangan, demam, atau penurunan berat badan. Semakin cepat terdeteksi, semakin besar peluang sembuh—dan semakin kecil risiko penularan ke orang lain.
“Pasien bisa sembuh aslak patuh mengonsumsi obat secara rutin minimal 6 bulan,” kata Dzulkefly.
- 503 Kasus Baru TBC dalam Sepekan di Malaysia
Lonjakan kasus kembali terjadi. Dalam kurun 1–7 Februari 2026, tercatat 503 kasus baru TBC ditemukan. Angka ini membuat total kumulatif sepanjang 2026 melonjak menjadi 2.571 kasus hanya dalam hitungan minggu sejak awal tahun.
Menteri Kesehatan Malaysia, Dzulkefly Ahmad, mengakui adanya sedikit peningkatan dibanding periode yang sama tahun lalu. Tahun ini, tercatat 9,2 kasus per 100 ribu penduduk, naik dari 8,4 kasus per 100 ribu penduduk pada 2025.
Namun, ia mengingatkan agar lonjakan ini tidak langsung memicu kepanikan.
“Peningkatan ini harus ditafsirkan dengan hati-hati, karena mungkin dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk peningkatan upaya deteksi kasus aktif, penguatan penyaringan kontak, dan peningkatan sistem pelaporan dan pemberitahuan,” ujarnya kepada New Straits Times, Kamis, 19 Februari 2026.
Artinya, kenaikan angka belum tentu mencerminkan wabah yang tak terkendali—bisa jadi justru menandakan sistem pelacakan yang semakin agresif dan transparan.
- Cegah TBC Sebelum Terlambat
Di tengah peningkatan kasus, pemerintah mengeluarkan peringatan tegas kepada masyarakat agar tidak lengah. Berikut langkah penting yang ditekankan:
1️. Periksa Gejala Sejak Dini
Segera ke klinik jika mengalami batuk lebih dari dua minggu, demam atau keringat malam, serta penurunan berat badan tanpa sebab jelas. Deteksi cepat adalah senjata utama memutus rantai penularan.
2️. Hentikan Stigma
Pasien TBC bukan untuk dijauhi. Dukungan keluarga dan lingkungan sangat menentukan keberhasilan pengobatan. Mengucilkan justru bisa memperburuk situasi.
3️. Perkuat Pencegahan
Pastikan anak-anak mendapatkan imunisasi BCG, terapkan gaya hidup sehat, dan jaga ventilasi rumah tetap baik. Udara bersih dan sirkulasi yang lancar menjadi benteng penting melawan penularan.
- Kesimpulan
Lonjakan kasus TBC di Malaysia membuka fakta penting: mayoritas penderita berasal dari warga lokal, bukan warga negara asing seperti yang selama ini ramai dispekulasikan. Pernyataan Menteri Kesehatan Dzulkefly Ahmad menegaskan bahwa persoalan ini harus dilihat berdasarkan data, bukan asumsi.
Meski terjadi peningkatan kasus pada awal 2026, pemerintah menilai hal itu juga dipengaruhi oleh penguatan sistem deteksi dan pelaporan. Artinya, kewaspadaan meningkat—bukan semata-mata wabah yang tak terkendali.
TBC memang penyakit lama dengan bakteri yang tangguh, namun bukan tanpa solusi. Penyakit ini bisa dicegah dan disembuhkan sepenuhnya jika terdeteksi sejak dini dan pasien disiplin menjalani pengobatan minimal enam bulan.
Pada akhirnya, kunci pengendalian TBC ada pada kesadaran bersama: berani memeriksakan diri saat muncul gejala, menghentikan stigma terhadap pasien, serta memperkuat langkah pencegahan di lingkungan masing-masing. Risiko penularan nyata, tetapi dengan respons cepat dan solidaritas, ancaman itu bisa ditekan.

