Syarat Baru Iran: Kapal Boleh Lewat Selat Hormuz Asalkan Transaksi Pakai Yuan
Jakarta – Pemerintah Iran sedang merumuskan kebijakan baru terkait blokade jalur maritim strategis di Timur Tengah. Otoritas Teheran mempertimbangkan rencana untuk mengizinkan sejumlah kecil kapal tanker minyak melewati Selat Hormuz. Namun, mereka menetapkan satu syarat mutlak: seluruh pihak harus memperdagangkan kargo minyak tersebut menggunakan mata uang yuan China.
Mengutip laporan jurnalis pada Minggu (15/3/2026), seorang pejabat senior Iran membocorkan rencana strategis ini. Ia menyebut langkah tersebut merupakan manuver terbaru Republik Islam Iran dalam mengelola arus lalu lintas armada tanker di tengah eskalasi konflik militer yang memanas dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Mendobrak Dominasi Dolar AS
Selama beberapa dekade terakhir, pasar energi global mendasarkan transaksi minyak mentah hampir secara eksklusif menggunakan dolar AS. Praktik pengecualian sejauh ini hanya berlaku bagi ekspor minyak Rusia. Akibat sanksi ketat dari negara-negara Barat, Rusia beralih menggunakan rubel dan yuan untuk menjual komoditas energi mereka.
Jika Teheran benar-benar menerapkan syarat transaksi menggunakan yuan ini, para pakar ekonomi menilai langkah tersebut akan memukul keras hegemoni mata uang dolar AS di pasar internasional. Keputusan ini mempertegas poros perlawanan ekonomi Iran terhadap Washington. Sebelumnya, pemerintah Iran juga menuntut negara-negara sahabat untuk segera mengusir duta besar AS dan Israel dari wilayah mereka apabila ingin kapal tankernya melintas dengan aman.
Dampak Penutupan Terhadap Harga Minyak
Militer Iran memblokade Selat Hormuz secara penuh sejak 28 Februari 2026, merespons serangan besar-besaran AS dan Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi mereka, Ayatollah Ali Khamenei. Pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, secara terbuka menegaskan bahwa penutupan jalur perairan ini memegang peran krusial untuk melumpuhkan urat nadi ekonomi negara-negara musuh.
Sebagai jalur utama yang menangani sekitar 20 persen distribusi pasokan energi dunia, penutupan Selat Hormuz langsung memicu kepanikan hebat di pasar komoditas. Pada sesi perdagangan pagi ini, harga kontrak minyak mentah Brent langsung melonjak tajam. Angka tersebut melesat naik sebesar US$8,54 atau sekitar 9,28 persen, menembus angka US$100,52 per barel. Lonjakan ekstrem ini mencetak rekor harga tertinggi sejak Juli 2022.
Karena Selat Hormuz tertutup rapat, perusahaan-perusahaan pelayaran terpaksa mengalihkan rute armada mereka memutari Benua Afrika melewati Tanjung Harapan. Perubahan jalur ini memaksa perusahaan menanggung beban operasional ekstra, yang mencakup penambahan waktu berlayar hingga dua minggu dan pembengkakan konsumsi bahan bakar lebih dari 1 juta dolar AS untuk setiap kali perjalanan.
Ancaman Krisis Kemanusiaan
Manuver militer dan ekonomi Teheran ini tidak hanya mengguncang stabilitas pasar saham, tetapi juga memicu peringatan keras dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Lembaga internasional tersebut menyoroti dampak destruktif pembatasan pelayaran terhadap kelancaran operasi kemanusiaan global.
Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan, Tom Fletcher, menjabarkan konsekuensi fatal dari blokade maritim ini. “Ketika kapal-kapal kargo berhenti bergerak melalui selat itu, konsekuensinya menyebar dengan sangat cepat merambah berbagai sektor,” tegas Fletcher.
Ia menambahkan bahwa rantai pasok kebutuhan pokok dunia akan mengalami kelumpuhan perlahan. Negara-negara akan kesulitan mendistribusikan makanan, obat-obatan, pupuk pertanian, dan persediaan vital lainnya. Dunia internasional kini menanti kepastian dari Teheran terkait penerapan aturan transaksi yuan ini, sembari berharap konflik dapat segera mereda sebelum memicu resesi global.

