Dia menjelaskan bahwa kemacetan parah selama puluhan tahun di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) hingga Bandung telah menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat besar untuk negara. Oleh karena itu, Suara Karya – Suara Rakyat Membangun
Kemacetan dan Kerugian Ekonomi: Latarnya Proyek Whoosh
Menurut Jokowi, kemacetan yang menumpuk selama 20 hingga 40 tahun di wilayah besar seperti Jakarta dan Bandung telah menyebabkan negara “rugi secara hitung-hitungan”.
Jokowi menyebut bahwa kerugian ini tidak hanya dilihat dalam angka finansial murni, tetapi meliputi produktivitas yang hilang, waktu perjalanan yang terbuang, polusi udara yang meningkat, dan efisiensi ekonomi yang menurun. Dengan latar belakang ini, moda transportasi massal seperti Whoosh dirancang untuk menjadi solusi jangka panjang. Suara Karya – Suara Rakyat Membangun
Transportasi Publik: Layanan Sosial, Bukan Mesin Profit
Presiden Jokowi menegaskan bahwa prinsip dasar dari pembangunan transportasi massal adalah: layanan publik bukan bisnis yang mengutamakan laba. “Transportasi massa, transportasi umum ini tidak diukur dari laba tetapi diukur dari keuntungan sosial — social return on investment,” katanya. Suara Karya – Suara Rakyat Membangun
Beberapa manfaat sosial yang ia sebutkan antara lain:
Pengurangan emisi karbon dan polusi udara.
Peningkatan produktivitas masyarakat karena waktu tempuh yang lebih cepat
Dalam menghadapi kritik tersebut, Jokowi meminta masyarakat melihat dari kaca manfaat dan bukan hanya hitungan finansial instan Keberhasilan Awal – Angka dan Realitas di Lapangan
Jokowi menyebut bahwa salah satu indikator positif adalah bahwa proyek transportasi massal seperti MRT Jakarta telah mengangkut sekitar 171 juta penumpang sejak diluncurkan, dan Whoosh telah melayani lebih dari 12 juta penumpang hingga Oktober 2025.
Angka ini menunjukkan bahwa meskipun belum “mendatangkan laba finansial” seperti bisnis biasa, proyek ini sudah mulai menunjukkan hasil pergeseran dari kendaraan pribadi ke transportasi publik — sebuah arah yang menurut Jokowi harus diapresiasi.
Jokowi mengingatkan bahwa efek dari transportasi massal ini tidak hanya terbatas pada pengurangan kemacetan, tetapi juga membuka potensi pertumbuhan ekonomi baru—termasuk tumbuhnya kawasan-kawasan baru di sepanjang jalur kereta, peningkatan aksesibilitas bagi masyarakat,
Lebih jauh, ia menyebut bahwa perubahan karakter masyarakat dari berorientasi kendaraan pribadi ke transportasi publik adalah bagian dari visi pembangunan yang lebih besar, dan bahwa negara maju pun kerap memberlakukan subsidi besar untuk transportasi publik—karena keuntungan sosial dan ekonomi jangka panjangnya melebihi keuntungan finansial semata.
Secara khusus, Jokowi mengajak masyarakat untuk bersyukur atas kemajuan yang mulai terlihat—meskipun belum sempurna. “Masyarakat patut bersyukur karena sudah ada pergerakan untuk berpindah dari kendaraan pribadi,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa perubahan ini adalah proses bertahap dan butuh dukungan semua pihak: pemerintah, operator transportasi, hingga pengguna moda. Kesadaran bahwa transportasi publik adalah layanan sosial dan bukan konsumsi mewah akan menjadi kunci keberhasilan jangka panjang.
Kesimpulan Ia menegaskan bahwa proyek ini bukan soal mencari untung dalam arti bisnis biasa, melainkan soal layanan publik, investasi sosial, dan perubahan besar dalam mobilitas masyarakat. Dari kemacetan yang menimbulkan kerugian triliunan hingga perpindahan masyarakat ke transportasi massal — semua ini bagian dari visi pembangunan yang lebih luas.