EkonomiNews

Hegemoni di Atas Silikon: Mengapa Tuntutan 40 Persen AS Dianggap “Prematur” bagi Taiwan?

Di balik gemerlap layar ponsel pintar dan kecanggihan kecerdasan buatan (AI) yang kita nikmati hari ini, terdapat perang dingin baru yang diperebutkan di atas kepingan silikon berukuran nanometer. Pusat dari badai geopolitik ini adalah Taiwan, pulau kecil yang menguasai lebih dari 90% produksi chip tercanggih di dunia. Namun, ketenangan di Selat Taiwan kini terusik oleh “permintaan paksa” dari sekutu terdekatnya, Amerika Serikat.

Washington, melalui kebijakan yang kian proteksionis, dilaporkan meminta jatah hingga 40% dari kapasitas produksi industri chip Taiwan untuk dialihkan atau diproduksi di tanah Amerika. Tuntutan ini bukan sekadar urusan dagang, melainkan upaya radikal AS untuk mengamankan rantai pasok mereka dari bayang-bayang invasi China. Namun, bagi para pelaku industri di Taipei, angka 40% bukan hanya sulit dicapai, melainkan dianggap sebagai sebuah “ketidakmasukakalan” ekonomi yang bisa merusak ekosistem teknologi dunia.

Tuntutan ini menempatkan TSMC (Taiwan Semiconductor Manufacturing Company), raksasa di balik layar Apple dan NVIDIA, dalam posisi yang terjepit. Di satu sisi, mereka membutuhkan dukungan keamanan dari AS; di sisi lain, memindahkan jatah produksi besar-besaran ke Amerika adalah mimpi buruk logistik, biaya, dan hilangnya keunggulan kompetitif yang selama puluhan tahun dibangun di tanah Taiwan.

Logika Biaya dan “Perisai Silikon” yang Terancam

Mengapa Taiwan begitu resisten terhadap tuntutan Washington? Alasan pertamanya adalah biaya operasional. Membangun dan menjalankan pabrik chip (fab) di Amerika Serikat diperkirakan 30% hingga 50% lebih mahal dibandingkan di Taiwan. Mulai dari upah tenaga kerja ahli, regulasi lingkungan yang kaku, hingga biaya material, semuanya membengkak. Memaksa pemindahan jatah 40% produksi berarti memaksa kenaikan harga chip global yang akan berujung pada inflasi produk teknologi di tangan konsumen.

Selain itu, ada faktor yang lebih mendalam: “Perisai Silikon”. Bagi pemerintah di Taipei, memusatkan produksi chip paling canggih di pulau mereka adalah jaminan keamanan. Selama dunia—termasuk AS dan China—bergantung pada pabrik-pabrik di Taiwan, maka komunitas internasional memiliki kepentingan vital untuk mencegah konflik di wilayah tersebut. Jika 40% produksi pindah ke AS, nilai strategis Taiwan sebagai “perisai” akan melemah secara signifikan.

Banyak analis di Taipei melihat langkah AS ini sebagai upaya “pengurasan otak” dan teknologi secara halus. Washington tidak hanya menginginkan produknya, tetapi juga menginginkan rahasia dapur dan para insinyur terbaik Taiwan untuk menetap di Arizona atau Ohio. Ini adalah pertaruhan kedaulatan bagi Taiwan: apakah mereka akan tetap menjadi pusat gravitasi teknologi dunia atau sekadar menjadi departemen manufaktur bagi kepentingan nasional Amerika?

CHIPS Act dan Ilusi Kemandirian Amerika

Amerika Serikat melalui CHIPS and Science Act memang telah mengucurkan subsidi puluhan miliar dolar untuk menarik pabrik chip kembali ke daratan mereka. Namun, subsidi tersebut dianggap sebagai “pemanis” yang tidak cukup untuk menutupi kerugian jangka panjang. Masalah utama di AS bukanlah modal, melainkan ketiadaan ekosistem pendukung yang selengkap di Taiwan.

Di Taiwan, sebuah pabrik chip didukung oleh ribuan pemasok komponen kecil yang jaraknya hanya sejauh perjalanan satu jam menggunakan kereta cepat. Di Amerika, ekosistem seperti ini belum terbentuk. Meminta jatah 40% produksi tanpa adanya ekosistem pendukung yang matang adalah resep bagi ketidakefisienan. “Anda tidak bisa sekadar memindahkan pabrik dan berharap ia bekerja dengan keajaiban yang sama seperti di tempat asalnya,” ujar seorang pengamat industri senior.

Washington tampaknya sedang terjebak dalam ilusi kemandirian. Mereka ingin memastikan bahwa jika perang pecah di Pasifik, militer dan industri mereka tetap berjalan. Namun, dengan memaksakan kehendak pada industri Taiwan, AS justru berisiko merusak hubungan dengan mitra paling krusialnya. Alih-alih menciptakan keamanan, kebijakan ini bisa menciptakan keretakan di aliansi demokrasi yang selama ini solid menghadapi pengaruh Beijing.

Reaksi Pasar dan Masa Depan Semikonduktor

Pasar modal global merespons kabar ini dengan kegelisahan. Ketidakpastian mengenai masa depan TSMC dan industri pendukungnya di Taiwan membuat harga saham sektor teknologi menjadi fluktuatif. Jika Taiwan dipaksa tunduk pada kuota 40% tersebut, efisiensi produksi yang selama ini menjadi mesin penggerak revolusi digital bisa melambat. Inovasi mungkin akan terhambat karena energi dan dana perusahaan habis terkuras untuk urusan relokasi politik ketimbang riset dan pengembangan.

Di sisi lain, China mengamati pergeseran ini dengan seksama. Keretakan hubungan AS-Taiwan dalam urusan chip adalah peluang bagi Beijing untuk menawarkan alternatif atau mempercepat kemandirian teknologi mereka sendiri. Perang chip ini bukan lagi soal siapa yang lebih pintar membuat transistor kecil, melainkan siapa yang lebih lihai dalam melakukan diplomasi tekanan.

Masa depan industri semikonduktor kini berada di persimpangan jalan. Apakah ia akan tetap menjadi industri global yang efisien dan terbuka, atau terfragmentasi menjadi blok-blok kepentingan nasional yang mahal dan lambat? Satu yang pasti, tuntutan 40% dari Washington telah membuka kotak Pandora tentang seberapa jauh sebuah negara adidaya bersedia menekan sekutunya demi keamanan nasionalnya sendiri.

Taiwan kini harus berhitung dengan cermat. Menolak mentah-mentah berarti risiko kehilangan perlindungan politik, namun menerima begitu saja berarti menyerahkan mahkota kedaulatan ekonominya. Di atas kepingan chip yang tipis, masa depan stabilitas dunia sedang dipertaruhkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *