Ahmad Luthfi Ajak Pengusaha Tionghoa Sinergi Bangun Ekonomi Baru di Jawa Tengah
Semarang, Jawa Tengah — Dalam acara pelantikan pengurus Persatuan Pengusaha Indonesia Tionghoa (Perpit) Jawa Tengah periode 2025-2030 yang berlangsung di PO Hotel, Semarang, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengundang pengusaha Tionghoa untuk menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru di provinsi tersebut. Ia menekankan bahwa provinsi ini telah menjadi “episentrum pembangunan nasional” dan memiliki potensi besar bagi investasi dan industri.
“Saya yakin dan percaya, dengan adanya pengurus baru ini, nanti mampu menumbuhkembangkan ekonomi baru, tidak hanya di Kota Semarang tetapi juga seluruh Provinsi Jawa Tengah,” ujar Ahmad Luthfi.
Latar Belakang Peran Perpit
Perpit Jateng merupakan organisasi yang menaungi pengusaha Tionghoa di provinsi tersebut, dengan tujuan memperkuat jaringan usaha, mendorong perdagangan dan investasi baik dalam negeri maupun lintas negara (khususnya Indonesia-Tiongkok). Ahmad Luthfi melihat bahwa peran organisasi seperti ini krusial agar dunia usaha lokal dapat ikut merespons tantangan global, khususnya dalam hal mengimbangi investasi asing masuk ke provinsi ini.
Realitas Investasi di Jawa Tengah
Data menunjukkan bahwa hingga kuartal III 2025, realisasi investasi di Jawa Tengah sudah mencapai sekitar Rp 57 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar 65 % berasal dari Penanaman Modal Asing (PMA). Hal ini menegaskan bahwa provinsi ini tidak hanya menjadi target investasi asing, namun juga harus mampu mengajak pelaku usaha domestik (termasuk pengusaha Tionghoa) untuk turut aktif.
Gubernur menjelaskan sejumlah faktor yang membuat Jawa Tengah menarik bagi investor:
- Tenaga kerja yang kompetitif;
- Jaminan keamanan dan ketertiban;
- Pelayanan perizinan yang semakin mudah;
- Minimnya premanisme atau pungutan liar di lingkungan bisnis;
- Keinginan memperbanyak industri padat karya agar serapan tenaga kerja meningkat.
Harapan dari Kepengurusan Perpit 2025-2030
Dalam sambutannya, Ketua Perpit Jateng periode baru, Siek Siang Yung (akrab disapa Ayung), menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah provinsi, terutama terkait kemudahan perizinan dan iklim usaha yang kondusif. Ia berharap kolaborasi antara Perpit, pemerintah dan pemangku kepentingan dapat berjalan maksimal untuk memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian Jawa Tengah. detiknews+1
Tantangan dan Peluang yang Dihadapi
Peluang:
- Jawa Tengah sebagai hub logistik dan industri di Pulau Jawa, dengan posisi geografi strategis;
- Ketersediaan tenaga kerja yang besar serta potensi pengembangan kawasan industri dan KEK (Kawasan Ekonomi Khusus);
- Kemajuan infrastruktur dan percepatan izin yang makin memanjakan investor lokal maupun asing.
Tantangan:
- Pengusaha lokal harus memperkuat daya saing agar mampu “menjawab” tantangan investasi asing;
- Meningkatkan kontribusi sektor padat karya agar serapan tenaga kerja lokal lebih tinggi;
- Keterlibatan pengusaha Tionghoa maupun pelaku usaha lainnya agar tak hanya menjadi sektor jasa atau perdagangan semata, tetapi juga merambah ke industri pengolahan dan teknologi.
Gubernur menegaskan bahwa Perpit “harus ikut mewarnai pembangunan di Jawa Tengah” dan tidak hanya menjadi pengawas investasi asing, tetapi bagian dari pengembangan ekonomi domestik. detiknews+1
Dampak yang Diharapkan
Kolaborasi antara pemerintah dan komunitas pengusaha Tionghoa — melalui wadah seperti Perpit — diharapkan melahirkan:
- Peningkatan investasi lokal dalam negeri (PMDN) yang berimbang dengan PMA;
- Peningkatan penciptaan lapangan kerja terutama melalui industri berbasis sumber daya lokal;
- Perluasan jejak usaha Tionghoa dari perdagangan ke sektor produksi, teknologi, dan ekspor;
- Penguatan rantai nilai lokal dan sinergi antara pelaku usaha besar, kecil dan menengah.
Komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Tengah
Gubernur dan jajaran Pemprov Jateng menegaskan sejumlah langkah konkret sebagai dukungan:
- Mempermudah perizinan investasi melalui sistem satu pintu;
- Menjamin keamanan dan kondusivitas berusaha tanpa premanisme dan pungutan liar;
- Fasilitas pengembangan kawasan industri serta KEK di beberapa kabupaten/kota;
- Mendorong pelatihan dan peningkatan kompetensi tenaga kerja lokal agar dapat mendukung industri;
- Menjaga agar sistem pemerintahan dan bisnis tetap transparan dan bersih.
Pesan Untuk Para Pengusaha Tionghoa
Bagi pengusaha Tionghoa, baik yang sudah berinvestasi maupun yang baru memasuki pasar Jawa Tengah, beberapa hal menjadi catatan utama:
- Melihat Jawa Tengah bukan hanya sebagai lokasi investasi, tetapi sebagai mitra pembangunan jangka panjang — menyerap tenaga kerja, memberdayakan UMKM, dan mengembangkan teknologi lokal;
- Perlu memperkuat sinergi dengan pemerintah dan pelaku usaha lokal agar manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas;
- Memanfaatkan kemudahan perizinan dan dukungan pemerintah untuk ekspansi usaha ke sektor industri, bukan sekadar jasa atau perdagangan;
- Menjaga reputasi dan tata kelola yang baik agar iklim usaha tetap positif dan investasi yang masuk memberi dampak bagi masyarakat.
Kesimpulan
Pemprov Jawa Tengah di bawah kepemimpinan Ahmad Luthfi mendorong pengusaha Tionghoa melalui Perpit untuk mengambil peran aktif dalam pembangunan ekonomi provinsi. Dengan potensi investasi yang besar serta iklim usaha yang makin memadai, Jawa Tengah menawarkan tantangan dan kesempatan bagi para pelaku usaha untuk menjadi bagian dari “ekonomi baru” di kawasan ini.
Peran komunitas pengusaha Tionghoa yang terorganisir dan terhubung dengan pemangku kebijakan akan menentukan seberapa luas dampak pembangunan ini dapat dirasakan, terutama dalam hal penciptaan lapangan kerja dan pengembangan industri padat karya.

