Trump Sanksi Rosneft dan Gazprom: Putin Balas Ancaman Konsekuensi, Harga Minyak Melonjak
Jakarta, 24 Oktober 2025 — Ketegangan geopolitik kembali memanas ketika Presiden AS Donald Trump menjatuhkan sanksi baru terhadap dua raksasa minyak Rusia, Rosneft dan Gazprom, sebagai pukulan telak untuk melemahkan pendanaan perang Moskow di Ukraina. Langkah ini, yang diumumkan Rabu (22/10), langsung memicu lonjakan harga minyak global hampir 5 persen pada Kamis (23/10), dan bahkan membuat India mempertimbangkan pengurangan impor dari Rusia. Tak lama, Presiden Rusia Vladimir Putin merespons dengan tegas: Rusia tak akan tunduk, dan sanksi itu akan punya “konsekuensi” yang membuat AS menyesal. Di tengah ancaman eskalasi, dunia energi kembali bergoyang, mengingatkan bahwa perang di Ukraina bukan hanya soal senjata, tapi juga aliran minyak yang menentukan harga bensin di pompa seluruh dunia.
Trump, yang baru saja kembali ke Gedung Putih setelah kemenangan pemilu 2024, mengubah arah kebijakan AS terhadap Rusia dengan cepat. Sanksi ini menargetkan aset dan transaksi Rosneft—produsen minyak terbesar Rusia dengan cadangan 18 miliar barel—dan Gazprom, raksasa gas alam yang menguasai 16% ekspor gas global. “Ini untuk memaksa Kremlin kembali ke meja negosiasi damai di Ukraina,” tegas Trump dalam pernyataan resminya, menambahkan bahwa sanksi akan membekukan aset perusahaan Rusia di AS dan melarang transaksi dengan bank-bank Barat. Langkah ini datang setelah laporan intelijen AS mengklaim bahwa pendapatan minyak Rusia mencapai $180 miliar pada 2024, sebagian besar digunakan untuk membiayai perang.
Efeknya langsung terasa. Harga minyak Brent melonjak dari $72 ke $75,50 per barel pada Kamis pagi, memicu kekhawatiran inflasi di AS dan Eropa. Di India, impor minyak Rusia yang murah—sekitar 1,5 juta barel per hari—kini dipertimbangkan dikurangi hingga 20%, menurut Menteri Minyak Hardeep Singh Puri. “Kami tak mau terjebak di tengah perang dagang,” katanya, menunjukkan bagaimana sanksi Trump bisa memukul sekutu AS sendiri. Di pasar Asia, harga bensin naik 2-3% di Singapura dan Tokyo, sementara di Indonesia, Pertamina memperingatkan potensi kenaikan Rp 500 per liter jika tren berlanjut.
Putin, dari Moskow, tak buang waktu merespons. Saat berbicara dengan wartawan pada Kamis (23/10), ia menyebut sanksi itu “tindakan tidak bersahabat” yang tak akan memengaruhi ekonomi Rusia secara signifikan. “Itu akan punya konsekuensi tertentu, tapi Rusia tak akan tunduk pada tekanan asing,” tegas Putin, mengingatkan bahwa Trump pernah sanksi Rusia pada masa jabatannya pertama (2017-2021), tapi Moskow tetap bertahan. Ia memperingatkan bahwa mengganggu ekspor minyak Rusia—pengekspor terbesar kedua dunia setelah Saudi—akan memicu lonjakan harga minyak global, termasuk di pompa bensin AS. “Itu akan jadi masalah politik besar bagi Washington, dengan pemilu midterm mendekat,” tambahnya, menyiratkan bahwa Trump bisa kehilangan dukungan di negara bagian produsen minyak seperti Texas.
Putin juga menyinggung pertemuan puncak yang dibatalkan di Budapest, yang diusulkan Trump sendiri. “Dialog lebih baik daripada konfrontasi atau perang,” katanya, tapi menolak eskalasi lebih lanjut. Namun, ia tak ragu mengancam: jika AS izinkan Ukraina gunakan rudal jarak jauh (seperti ATACMS) untuk serang Rusia, “responsnya akan sangat serius, mungkin overwhelming.” Ini merujuk laporan Wall Street Journal bahwa Trump cabut pembatasan senjata untuk Kyiv, langkah yang bisa perpanjang konflik.
Kronologi sanksi ini cepat: Rabu pagi, Departemen Keuangan AS umumkan pembekuan aset Rosneft dan Gazprom senilai $50 miliar di bank AS dan Eropa. Rosneft, yang ekspor 2 juta barel per hari ke India dan Cina, langsung kehilangan akses ke SWIFT untuk transaksi minyak. Gazprom, yang pipa gasnya ke Eropa sudah terputus sejak 2022, kini terhambat ekspor LNG ke Asia. Rusia, yang pendapatannya 40% dari energi, klaim sanksi ini “tak efektif” karena mereka sudah alihkan ekspor ke Cina dan India, tapi analis seperti Igor Yushkov dari Rusia bilang, “Ini akan tekan anggaran perang hingga 15%.”
Di AS, Trump hadapi kritik dari kedua partai. Demokrat sebut sanksi ini “terlambat dan tak konsisten,” mengingat Trump pernah puji Putin sebagai “jenius.” Republik garis keras, seperti Senator Lindsey Graham, dukung, tapi khawatir harga bensin naik jadi $4 per galon, memukul pemilih kelas menengah. Di Ukraina, Presiden Zelenskyy sambut baik: “Ini langkah kuat untuk hentikan pendanaan terorisme Rusia.” Tapi di Rusia, oligarki seperti Igor Sechin (CEO Rosneft) marah, sebut sanksi ini “perang ekonomi yang gagal.”
Lebih luas, sanksi ini bisa picu efek domino. India, pembeli 35% minyak Rusia, mungkin tingkatkan impor dari OPEC, naikkan harga global. Cina, mitra utama Rusia, bisa balas dengan batasi ekspor rare earth ke AS, seperti ancaman 2024. Di Eropa, gas Rusia sudah diganti LNG AS, tapi kenaikan harga minyak bisa tambah inflasi 2-3%. Putin, yang ekonomi Rusia tumbuh 3,6% pada 2024 berkat minyak murah, klaim “kami siap,” tapi sanksi ini tekan rubel 2% pada Kamis.
Bagi Indonesia, dampaknya campur aduk. Sebagai importir minyak, kenaikan harga bisa tekan subsidi BBM Rp 5 triliun per bulan, menurut ESDM. Tapi ekspor nikel dan batubara ke Cina bisa untung jika BRI perkuat hubungan Rusia-Cina. “Kita pantau, tapi diversifikasi sumber energi kunci,” kata Menteri ESDM Arifin Tasrif.
Sementara itu, Putin tetap tenang, tapi ancamannya jelas: konsekuensi bisa berupa serangan siber atau gangguan pasokan gas ke Eropa musim dingin. Trump, di sisi lain, tweet: “Rusia harus damai sekarang, atau lebih sakit lagi.” Di tengah ancaman ini, dunia tahan napas—apakah sanksi ini paksa damai, atau justru eskalasi baru?
