Berita MalamTrending

Israel Langgar Gencatan, AS Tekan Netanyahu Lewat Kunjungan Wapres Vance

Jakarta — Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak. Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, tiba di Israel membawa pesan tegas dari Gedung Putih: gencatan senjata antara Benjamin Netanyahu dan Hamas harus benar-benar ditegakkan. Kunjungan ini menyusul gelombang kritik di AS dan dunia, setelah laporan tentang pelanggaran gencatan yang semakin masif muncul beberapa hari terakhir.

Vance mendatangi Israel di tengah atmosfer penuh keraguan. Ia diutus Presiden Donald Trump yang berulang kali menegaskan keseriusan Amerika Serikat dalam mengawasi jalannya perdamaian. “Apa yang kita saksikan pekan lalu memberi saya optimisme besar bahwa gencatan senjata akan berhasil,” kata Vance pada konferensi pers di Yerusalem. Meski tetap optimistis, Vance tak menampik risiko kegagalan tetap terbuka, terutama saat dinamika di lapangan begitu cair dan penuh tekanan dari berbagai pihak.

Sejumlah pejabat AS, bahkan di lingkaran pemerintahan sendiri, menilai gencatan senjata yang disepakati hanya berpotensi bertahan dalam jangka pendek. Keberangkatan Vance ke Israel, dilakukan setelah kunjungan Presiden Trump sepekan sebelumnya, menjadi sinyal khusus: Gedung Putih tidak ingin sekadar berharap — mereka ingin memastikan perdamaian berjalan sesuai rencana, tanpa kompromi yang berisiko.

Di hadapan parlemen Israel, PM Netanyahu justru memamerkan aksi militer. Ia menyebut puluhan serangan udara yang telah dijatuhkan ke Gaza — total 153 ton bom sejak perjanjian gencatan berlaku. Netanyahu menegaskan bahwa respon militer tersebut adalah jawaban atas “pelanggaran Hamas”, sebuah klaim yang justru memicu kecaman dan saling tuding antara kedua pihak.

Di sisi lain, laporan dari kantor media Gaza menyatakan Israel telah lebih dari 50 kali melanggar perjanjian gencatan senjata. Berbagai serangan tersebut dituding telah menewaskan hampir 100 warga sipil sejak 10 Oktober. Data inilah yang menjadi amunisi bagi pegiat HAM internasional untuk menekan pemerintah Israel, seraya mendesak pengawasan lebih ketat dari dunia terhadap penerapan gencatan yang baru berumur hitungan minggu.

Vance sendiri membawa pendekatan berbeda dibanding rekan-rekannya di Washington. Ia menolak memberi tenggat pengembalian sisa sandera atau detil pelucutan senjata. “Upaya ini akan memakan waktu, tidak bisa disederhanakan dalam tenggat jelas,” ujar Vance. Sikap ini dilihat sebagai strategi untuk menjaga ruang diplomasi tetap terbuka, tanpa kehilangan tekanan politis ke Netanyahu.

Salah satu pejabat Gedung Putih menggambarkan situasi ini sebagai aksi “Bibisitting” — istilah satir untuk menggambarkan strategi AS yang mengawasi langsung, bahkan menekan Netanyahu agar patuh pada komitmen damai. Langkah diplomatik ini ditujukan untuk menegaskan posisi Amerika Serikat: gencatan senjata harus lebih kuat dari pertempuran yang tak terelakkan, dan perdamaian mesti dijaga dengan pengawasan ketat serta sanksi nyata bagi pelanggaran apapun.

Konflik Israel-Hamas masih jauh dari kata selesai. Perebutan narasi soal siapa yang melanggar, siapa yang berhak membalas, kerap jadi pangkal trending di berbagai media internasional. Namun, kunjungan Vance kali ini menegaskan posisi Amerika Serikat di persimpangan: sekaligus penegak perdamaian dan pemain kekuatan di salah satu wilayah paling genting dunia.

Keberlangsungan gencatan senjata menjadi taruhan besar, tidak hanya bagi Netanyahu dan Hamas, namun juga bagi stabilitas regional hingga ke meja diplomasi PBB. Tekanan dari Washington lewat kunjungan tingkat tinggi seperti ini diharapkan mampu menahan eskalasi, serta membuka ruang dialog yang menjamin perdamaian lebih nyata bagi warga Gaza dan Israel.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *