Prajurit TNI Gugur di Lebanon Bertambah, PBB Desak Israel Hentikan Serangan
Kabar duka kembali datang dari misi perdamaian dunia di Lebanon. Jumlah prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang gugur dalam tugas meningkat setelah satu personel meninggal akibat luka serius yang ia alami dalam serangan beberapa waktu lalu. Kondisi ini mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mendesak penghentian serangan di wilayah konflik tersebut.
Praka Rico Pramudia (31), anggota TNI yang bertugas dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), mengembuskan napas terakhir setelah menjalani perawatan intensif. Ia mengalami luka berat ketika proyektil menghantam posisi pasukan PBB di wilayah Adchit Al Qusayr, Lebanon selatan, pada akhir Maret 2026.
Tim medis sempat merawat Rico di rumah sakit di Beirut. Namun, kondisinya terus memburuk hingga akhirnya ia meninggal dunia. Kepergian Rico menambah daftar panjang prajurit TNI yang gugur dalam misi kemanusiaan tersebut.
Pihak UNIFIL langsung menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban serta pemerintah Indonesia. Mereka menilai kontribusi pasukan Indonesia sangat penting dalam menjaga stabilitas kawasan, sehingga kehilangan ini menjadi pukulan besar bagi misi perdamaian.
Dengan wafatnya Rico, jumlah prajurit TNI yang gugur dalam rangkaian serangan di Lebanon kini mencapai empat orang. Sebelumnya, Praka Farizal Rhomadhon, Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, dan Sertu Muhammad Nur Ikhwan juga lebih dahulu gugur dalam insiden serupa. Selain korban jiwa, sejumlah prajurit lainnya mengalami luka akibat serangan tersebut.
Dalam satu bulan terakhir, konflik di Lebanon telah menewaskan enam personel pasukan penjaga perdamaian PBB. Selain empat prajurit TNI, dua korban lainnya berasal dari militer Prancis. Data ini menunjukkan meningkatnya risiko yang dihadapi pasukan internasional di wilayah tersebut.
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menanggapi situasi ini dengan serius. Ia menyampaikan duka mendalam sekaligus mengecam keras serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian. Menurutnya, pihak mana pun tidak boleh menjadikan personel PBB sebagai target dalam konflik bersenjata.
Guterres juga secara tegas mendesak Israel untuk menghentikan serangan di Lebanon. Ia menilai tindakan tersebut telah membahayakan keselamatan pasukan internasional dan berpotensi melanggar hukum humaniter internasional.
“Serangan seperti ini tidak dapat diterima dan harus segera dihentikan,” tegasnya.
Ketegangan di Lebanon selatan terus meningkat akibat konflik antara militer Israel dan kelompok Hizbullah. Situasi tersebut membuat wilayah operasi UNIFIL semakin tidak aman. Para penjaga perdamaian kini menghadapi ancaman langsung di lapangan, meskipun mereka menjalankan mandat netral.
Berbagai pihak internasional turut mengecam serangan tersebut. Mereka menilai tindakan itu tidak hanya melanggar hukum internasional, tetapi juga mengancam upaya menjaga stabilitas kawasan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Di Indonesia, kabar gugurnya prajurit TNI memicu keprihatinan luas. Sejumlah pihak mendesak PBB untuk meningkatkan sistem perlindungan bagi pasukan perdamaian. Mereka menilai keselamatan personel harus menjadi prioritas utama dalam setiap operasi internasional.
Peristiwa ini kembali mengingatkan bahwa misi perdamaian bukan tanpa risiko. Prajurit yang bertugas di wilayah konflik aktif harus menghadapi ancaman nyata setiap saat. Meski demikian, mereka tetap menjalankan tugas demi menjaga stabilitas dan perdamaian dunia.
Ke depan, komunitas internasional perlu mengambil langkah konkret untuk menjamin keamanan pasukan penjaga perdamaian. Selain itu, penyelidikan transparan terhadap insiden serangan juga harus dilakukan guna memastikan akuntabilitas dan mencegah kejadian serupa terulang.

