Tekanan Maksimum Diluncurkan: Trump dan Netanyahu Bidik Ekspor Minyak Iran ke China
WASHINGTON – Gedung Putih kembali menjadi panggung manuver geopolitik. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sepakat menaikkan tensi terhadap Iran. Dalam pertemuan bilateral yang berlangsung pekan ini, kedua pemimpin menegaskan komitmen untuk mengintensifkan kebijakan “tekanan maksimum” terhadap Teheran.
Tak sekadar retorika, langkah ini diarahkan langsung pada jantung ekonomi Iran: ekspor minyak mentahnya ke China.
Trump dan Netanyahu memandang aliran minyak Iran ke Negeri Tirai Bambu sebagai “urat nadi” yang menjaga stabilitas ekonomi Republik Islam tersebut di tengah sanksi internasional. Dengan memperketat pengawasan dan memperluas sanksi, Washington dan Tel Aviv berupaya memutus jalur pendanaan yang dinilai menopang program nuklir dan aktivitas militer Iran di kawasan Timur Tengah.
Pertemuan itu berlangsung dalam suasana yang disebut sumber diplomatik sebagai “tegas dan penuh urgensi”. Kedua pemimpin sepakat bahwa tekanan ekonomi adalah alat paling efektif untuk memaksa Teheran mengubah arah kebijakannya.
Strategi ini diperkirakan akan memperdalam ketegangan di kawasan, sekaligus memperumit dinamika hubungan AS–China. Beijing selama ini menjadi salah satu pembeli utama minyak Iran, sering kali melalui skema yang dirancang untuk menghindari sanksi Barat.
Dengan keputusan ini, Washington dan Tel Aviv mengirim sinyal jelas: tidak ada ruang kompromi bagi Iran. Tekanan akan ditingkatkan, dan jalur pendanaan yang dianggap krusial akan dibidik tanpa ragu.
“Kami sepakat bahwa kami akan menerapkan tekanan maksimum secara penuh terhadap Iran, khususnya terkait penjualan minyak Iran ke China,” ungkap seorang pejabat senior AS kepada Axios dikutip Senin (16/2/2026).
Strategi ini bukan sekadar tekanan—ini adalah manuver ofensif yang dirancang untuk mengguncang fondasi ekonomi Tehran. Pemerintahan Donald Trump mengencangkan sabuk sanksi sembari tetap memainkan kartu diplomasi, membuka jalur negosiasi soal program nuklir Iran tanpa menurunkan intensitas tekanan.
Sasaran utamanya jelas: China.
Beijing menyerap lebih dari 80% ekspor minyak Iran, sebagian besar melalui kilang independen atau “teapot” di Provinsi Shandong. Jalur inilah yang selama bertahun-tahun menjadi napas finansial Tehran di tengah himpitan sanksi Barat. Jika aliran ini tersumbat, dampaknya diprediksi brutal—pukulan langsung ke jantung kas negara Iran.
Trump bahkan telah menandatangani keputusan eksekutif pada Januari yang membuka jalan bagi tarif hingga 25% terhadap negara-negara yang tetap berbisnis dengan Iran. Namun langkah keras terhadap China bukan tanpa risiko. Hubungan Washington–Beijing bisa kembali memanas, terlebih Trump dijadwalkan menghadiri pertemuan puncak di Beijing pada April mendatang. Tekanan ekonomi dan diplomasi tingkat tinggi kini berjalan di atas garis tipis kepentingan strategis global.
Sementara itu, jalur diplomasi terus bergerak. Putaran kedua pembicaraan AS–Iran akan digelar di Jenewa pada Selasa, menyusul diskusi yang disebut produktif di Oman pekan lalu. Delegasi AS akan dipimpin penasihat senior Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner, untuk mencari celah kompromi terkait isu nuklir yang selama ini menjadi sumber ketegangan utama.
Meski sepakat memperkeras tekanan ekonomi, Trump dan Benjamin Netanyahu tidak sepenuhnya seirama soal peluang kesepakatan politik. Netanyahu bersikap skeptis—ia meragukan Tehran akan mematuhi perjanjian apa pun. Trump, sebaliknya, tetap membuka ruang optimisme dan menyebut peluang kesepakatan masih layak diuji.
Pertemuan di Gedung Putih yang berlangsung dua setengah jam itu menjadi pertemuan ketujuh keduanya sejak Trump kembali menjabat tahun lalu. Bagi Israel, memengaruhi arah negosiasi Washington dengan Iran bukan sekadar isu diplomasi—melainkan agenda strategis yang menyangkut keamanan nasional. Program nuklir Tehran dipandang sebagai ancaman eksistensial, dan setiap keputusan di meja perundingan bisa berdampak langsung pada masa depan kawasan.
- Kesimpulan
Langkah Washington dan Tel Aviv menargetkan ekspor minyak Iran ke China menandai babak baru dalam strategi “tekanan maksimum” terhadap Tehran. Dengan membidik jalur pendanaan utama Iran, Trump dan Netanyahu berupaya melemahkan fondasi ekonomi yang menopang program nuklir dan manuver militernya di kawasan.
Namun strategi ini bukan tanpa konsekuensi. Di satu sisi, tekanan ekonomi diperketat secara agresif; di sisi lain, jalur diplomasi tetap dibuka melalui perundingan di Jenewa. Pendekatan dua arah ini menunjukkan bahwa Washington ingin memaksa perubahan perilaku Iran tanpa sepenuhnya menutup pintu kesepakatan.
Ke depan, efektivitas kebijakan ini akan sangat bergantung pada respons Tehran dan Beijing. Jika ekspor minyak benar-benar tersumbat, dampaknya bisa signifikan bagi stabilitas ekonomi Iran. Tetapi jika China tetap menjadi pembeli utama, tekanan tersebut berpotensi memicu ketegangan geopolitik yang lebih luas.

