Politik

Dinamit Diplomasi: Trump Tetap Ingin Greenland, PM Denmark Menolak Keras

MUNICH — Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen menegaskan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump masih menunjukkan keseriusan terhadap ambisinya untuk mengambil alih Greenland. Pernyataan itu disampaikan di tengah meredanya retorika Washington terkait kemungkinan penggunaan kekuatan militer atas wilayah otonom Denmark tersebut.

Dalam sejumlah kesempatan sebelumnya, Trump secara terbuka menyatakan keinginannya untuk memperoleh Greenland. Ia beralasan bahwa pulau terbesar di dunia yang terletak di kawasan Arktik itu memiliki nilai strategis tinggi, terutama dalam konteks rivalitas global dengan Rusia dan China. Namun, klaim mengenai ancaman tersebut telah ditolak oleh pemerintah Denmark, Rusia, maupun China.

Meski sempat tidak menutup kemungkinan penggunaan opsi militer untuk menganeksasi wilayah tersebut, Trump bulan lalu mengumumkan adanya kesepakatan “kerangka kerja” bersama Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte. Pernyataan itu dipandang sebagai upaya meredakan kekhawatiran sekutu-sekutu Eropa atas meningkatnya ketegangan diplomatik.

Namun, berbicara dalam forum Munich Security Conference pada Sabtu, Frederiksen menegaskan bahwa ancaman terhadap kedaulatan Greenland belum sepenuhnya sirna. Ia menyebut tekanan yang diarahkan kepada Greenland sebagai “tidak dapat diterima” dan menekankan bahwa integritas teritorial Denmark bukanlah isu yang dapat dinegosiasikan.

Pernyataan Frederiksen memperlihatkan bahwa isu Greenland tetap menjadi sumber ketegangan dalam hubungan transatlantik, sekaligus menyoroti sensitivitas geopolitik kawasan Arktik yang semakin strategis di tengah persaingan kekuatan global.

“Sayangnya, presiden AS masih sangat serius,” katanya. “Rakyat Greenlnd belum pernah diancam oleh siapa pun sebelumnya,” katanya lagi, seperti dikutip dari Russia Today, Minggu (15/2/2026).

  • Denmark Ajukan Kerja Sama Dengan AS

Kopenhagen menegaskan berrsedia bekerja sama dengan Washington untuk memungkinkan perluasan kehadiran militer AS, Frederiksen menekankan;”Tentu saja, ada hal hal yang tidak dapat dikompromikan” seperti kedaulatan dan integritas teritorial.

“Sekarang kami memiliki kelompok kerja. Kami akan mencoba melihat apakah kami menemukan solusi, dan kami akan melakukan apa pun yang kami bisa, tetapi tentu saja, ada garus merah yang tidak akan dilanggar,” katanya, setelah pertemuan 45 menit pada hari Jumat dengan Menteri Luar Negri AS Marco Rubio. Rincian pembicaraan tersebut belum dipublikasikan.

Perdana Menteri Greenland Jens Frederik Nielsen menyuarakan kekhawatiran itu menyebutnya “keterlaluan” bahwasannya warga Greenland diancam oleh anggota NATO sendiri.

Frederiksen memperingatkan bulan lalu kalau ancaman aneksasi dapat merusak “segalanya”, termasuk blok militer pemimipin AS. Presiden Prancis Emmanuel Macron juga mengkritik keras sikap Washington, menyebut “momen Greenland” sebagai bukti bahwa pemerintahan AS secara terbuka anti-eropa.

  • Kesimpulan

Isu Greenland kini menjadi ujian serius bagi hubungan transatlantik. Di satu sisi, Washington menilai kepentingan strategis Arktik sebagai prioritas keamanan. Di sisi lain, Denmark menegaskan bahwa kedaulatan bukanlah komoditas geopolitik yang bisa dinegosiasikan.

Dengan dialog yang masih berlangsung namun tensi belum sepenuhnya reda, polemik Greenland berpotensi menjadi titik api baru dalam dinamika NATO dan persaingan kekuatan global di kawasan Arktik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *