BMKG Deteksi Bibit Siklon 96S, Hujan Lebat dan Gelombang Tinggi Intai Sejumlah Wilayah
Jakarta — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi kemunculan bibit siklon tropis 96S di wilayah Samudera Hindia, sebelah barat daya Indonesia. Sistem ini diperkirakan memicu peningkatan intensitas cuaca ekstrem di sejumlah daerah pada 15 Februari 2026, terutama dalam bentuk hujan lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang.
Dalam keterangan resminya, BMKG menjelaskan bahwa bibit siklon 96S masih berada dalam fase awal pertumbuhan. Meski belum berkembang menjadi siklon tropis penuh, sistem ini memiliki potensi memperkuat pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia bagian barat dan tengah. Pergerakan massa udara lembap yang terakumulasi di sekitar pusat tekanan rendah menjadi faktor utama peningkatan curah hujan.
Beberapa wilayah yang berpotensi terdampak hujan dengan intensitas sedang hingga lebat meliputi sebagian Sumatra, Jawa bagian barat, serta Nusa Tenggara. Selain itu, sejumlah daerah di Kalimantan dan Sulawesi juga diperkirakan mengalami hujan signifikan, meskipun dengan tingkat potensi berbeda-beda. Kondisi ini bisa meningkatkan risiko genangan, banjir lokal, hingga tanah longsor, terutama di daerah dengan kontur perbukitan dan drainase kurang optimal.
Tak hanya hujan, BMKG juga memperingatkan potensi angin kencang yang dapat menyertai sistem cuaca ini. Kecepatan angin yang meningkat berisiko menimbulkan gangguan pada aktivitas masyarakat, seperti pohon tumbang dan gangguan jaringan listrik. Sektor transportasi laut menjadi salah satu yang perlu meningkatkan kewaspadaan, mengingat adanya potensi gelombang tinggi di sejumlah perairan Indonesia.
Perairan Samudera Hindia selatan Jawa hingga Nusa Tenggara Barat diperkirakan mengalami gelombang mencapai 2,5 hingga 4 meter. Kondisi ini berbahaya bagi kapal nelayan dan pelayaran tradisional. BMKG mengimbau pelaku aktivitas laut untuk mempertimbangkan kembali rencana pelayaran dan selalu memantau pembaruan informasi cuaca dari otoritas resmi.
Fenomena bibit siklon tropis seperti 96S umumnya terbentuk akibat pertemuan suhu permukaan laut yang hangat dan tekanan atmosfer yang rendah. Indonesia yang berada di wilayah tropis kerap terdampak sistem ini, meskipun tidak selalu berkembang menjadi siklon besar. Namun dampak tidak langsungnya tetap signifikan, terutama dalam peningkatan curah hujan dan angin kencang.
BMKG menyatakan pemantauan terus dilakukan melalui citra satelit, radar cuaca, dan model prediksi numerik. Perubahan arah atau penguatan sistem dapat terjadi sewaktu-waktu, sehingga masyarakat diminta tidak mengabaikan peringatan dini yang telah dikeluarkan.
Dengan meningkatnya dinamika atmosfer dalam beberapa pekan terakhir, kewaspadaan menjadi kunci. Pemerintah daerah diimbau menyiapkan langkah mitigasi, termasuk memastikan sistem drainase berfungsi baik serta mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi.
