Buka Ruang Inklusivitas, Industri Modest Fashion Tak Melulu untuk Wanita Berhijab
Jakarta, Indonesia — Industri modest fashion atau fashion yang menerapkan prinsip kesopanan terus menunjukkan tren pertumbuhan signifikan di Indonesia dan di seluruh dunia. Pergerakan ini tidak lagi semata identik dengan busana untuk perempuan berhijab, tetapi telah berkembang menjadi sebuah gerakan inklusif yang melibatkan berbagai kelompok konsumen dengan kebutuhan estetika dan nilai budaya yang beragam.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Marketing Communication Head Frima Zhellia dari Kami Idea Indonesia dalam ajang Metro TV Sharia Economic Forum: Accelerating Growth and Prosperity: Path to Global Impact yang berlangsung di The Tribrata Hotel, Jakarta, pada Kamis, 12 Februari 2026.
Transformasi Konsep Modest Fashion di Indonesia
Frima menjelaskan bahwa istilah modest fashion kerap disalahpahami sebagai sekadar pakaian tertutup atau busana yang hanya digunakan oleh perempuan berhijab. Menurutnya, definisi yang lebih tepat mencakup busana sopan dan tertutup, namun tetap mengikuti dinamika tren dan estetika modern. Dalam praktiknya, modest fashion dirancang untuk memberikan pilihan busana bagi perempuan yang ingin tampil tertutup namun tetap modis dan up to date.
“Modest fashion bukan hanya soal pakaian tertutup. Ini juga merupakan ruang inklusivitas bagi perempuan Muslim yang sedang dalam masa transisi menuju penggunaan hijab, atau mereka yang belum sepenuhnya berhijab namun ingin berpakaian sopan,” ujar Frima dalam sesi diskusi.
Pendekatan ini menjadikan modest fashion sebagai wadah ekspresi budaya dan gaya hidup yang dinamis, khususnya di tengah pertumbuhan kelas menengah Muslim yang semakin sadar akan estetika dan kualitas produk fashion. Model bisnis seperti ini mendorong perluasan pangsa pasar yang sebelumnya terbatas pada konsumen berhijab.
Pendekatan Urban dan Inovasi Desain
‘Urban’ menjadi salah satu kata kunci dalam strategi desain modest fashion yang dikemukakan oleh Frima Zhellia. Baginya, urban bukan sekadar gambaran lokasi geografis, tetapi representasi dari gaya hidup modern yang adaptif terhadap perubahan zaman. Konsep urban diterjemahkan ke dalam pemilihan teknik menjahit (sewing techniques), bahan, palet warna, dan pola potongan busana yang kontemporer.
Desain kontemporer ini menggabungkan kesan sopan dan fungsional tanpa mengorbankan aspek estetika. Artinya, konsumen dapat tetap memilih busana yang sesuai dengan nilai budaya mereka—seperti kerangka pakaian yang tertutup—tanpa kehilangan rasa percaya diri untuk tampil modis di lingkungan sosial atau profesional mereka.
Industri Modest Fashion: Lebih dari Sekadar Tren Lokal
Pertumbuhan modest fashion bukan fenomena terbatas di Indonesia saja. Secara global, industri ini diperkirakan memiliki nilai pasar puluhan miliaran dolar dan meningkat secara tahunan, menyusul adanya perubahan perilaku konsumen yang semakin menghargai keberagaman gaya berpakaian (global modest fashion market trends).
Menurut sebuah laporan Vogue Arabia, modest fashion telah menjadi bagian dari lifestyle yang semakin populer di banyak negara, tidak hanya di kalangan Muslim, tetapi juga di antara konsumen yang mencari pilihan busana yang lebih konservatif namun tetap estetis. Pertumbuhan tersebut didukung oleh tren global yang semakin menghargai keberagaman budaya dalam dunia fashion.
Konsumen modern kini turut memperhatikan prinsip keberlanjutan (sustainability) dan nilai sosial dalam busana yang mereka pilih, sehingga modest fashion berkembang di luar sekadar pemenuhan kebutuhan religius. Hal ini menunjukkan bahwa ragam desain busana yang sopan, elegan, dan dinamis memiliki daya tarik yang lebih luas, termasuk di pasar internasional yang kian terbuka terhadap model busana inklusif.
Inklusivitas dalam Industri Modest Fashion
Frima menekankan bahwa inklusivitas menjadi elemen penting dalam strategi industri modest fashion di Indonesia. Produk-produk yang dihasilkan tidak hanya dirancang untuk perempuan berhijab, tetapi juga untuk mereka yang berada dalam fase transisi atau yang hanya memilih pakaian yang lebih tertutup dalam keseharian mereka.
Strategi pemasaran ini juga berdampak positif pada penerimaan pasar. Banyak konsumen yang sebelumnya tidak tergolong sebagai hijabi justru merasa desain dan pilihan produk tersebut sesuai dengan kebutuhan mereka. Keberhasilan ini mencerminkan tren pasar yang lebih inklusif, di mana batasan dari segi penampilan tradisional menjadi lebih fleksibel.
Inklusivitas ini juga menunjukkan bahwa industri modest fashion dapat menjadi penghubung antara nilai budaya tradisional dan ekspresi gaya modern, tanpa mengabaikan kebutuhan dan preferensi estetika konsumen dari berbagai latar belakang.
Nilai Ekonomi dan Peluang Pertumbuhan
Pertumbuhan industri modest fashion memberikan kontribusi nyata terhadap perekonomian nasional. Komunitas perancang busana, produsen tekstil, hingga pedagang kecil dan menengah di sektor ini turut mendapatkan manfaat dari perluasan pangsa pasar yang semakin inklusif. Perkembangan ini sejalan dengan potensi industri halal fashion yang terus meningkat di Indonesia, yang menurut beberapa pengamat memiliki prospek besar dalam pasar global.
Perhatian besar terhadap kualitas produk juga menjadi faktor utama dalam mendorong ekspansi pasar. Produsen lokal yang mampu menggabungkan estetika modern dengan kualitas tinggi memiliki peluang yang kuat untuk memasarkan produknya tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga ke pasar internasional—memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat modest fashion dunia di masa depan.
Tantangan dan Kebutuhan Penguatan Industri
Meskipun potensi besar sudah terlihat, modest fashion di Indonesia masih menghadapi beberapa tantangan. Di antaranya adalah kesamaan pemahaman tentang apa itu busana modest—aesthetic yet modest serta cara pemasaran yang efektif untuk segmen pasar yang semakin luas. Hal ini mencakup keterlibatan desain yang lebih inovatif, pendidikan konsumen yang lebih kuat, serta perluasan jaringan distribusi produk.
Selain itu, pelaku industri juga perlu memperkuat sinergi antara perancang lokal dengan pelaku global agar bisa terus bersaing dan mempertahankan relevansi dalam tren fashion internasional. Kolaborasi yang efektif antara desainer, pemasar, dan pelaku industri dapat membuka peluang yang lebih besar untuk memproduksi karya fashion yang tidak hanya relevan secara budaya tetapi juga memiliki nilai komersial tinggi.
Peran Media dan Forum Ekonomi Syariah
Forum-forum seperti Metro TV Sharia Economic Forum turut memberi ruang kepada pelaku industri untuk berdiskusi dan mengevaluasi tren serta strategi yang tepat dalam menghadapi tantangan pasar. Acara-acara ini turut mempertemukan pemangku kepentingan, termasuk perancang, pengusaha, dan pembuat kebijakan, untuk berbagi wawasan tentang bagaimana menjadikan modest fashion sebagai salah satu sektor penting dalam ekonomi syariah Indonesia.
Melalui diskusi dalam forum semacam ini, pelaku industri mendapatkan wawasan baru tentang strategi pemasaran yang inklusif, penguatan kualitas produk, dan pengembangan desain yang sesuai dengan kebutuhan konsumen masa kini. Diskusi-diskusi ini juga membantu memperjelas persepsi publik terhadap konsep modest fashion, sekaligus memperluas pemahaman tentang peluang bisnis yang tersedia.
Membangun Ekosistem Fashion yang Inklusif
Pertumbuhan industri modest fashion di Indonesia menunjukkan bahwa fashion adalah lebih dari sekadar pakaian; ia adalah ekspresi identitas, nilai budaya, dan gaya hidup yang dinamis. Inklusivitas yang diperkenalkan melalui strategi desain dan pemasaran modern mencerminkan kemajuan positif dalam sebuah industri yang terus tumbuh dan berevolusi.
Dengan terus mengembangkan pendekatan yang ramah pasar dan adaptif terhadap perubahan kebutuhan konsumen, Indonesia berpeluang untuk menjadi contoh dalam industri modest fashion yang bukan hanya relevan secara lokal, tetapi juga kuat di arena global.

