Kesehatan

Menuju 2030, Indonesia Bidik Nol Kematian Akibat DBD

Jakarta — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan keyakinannya bahwa Indonesia kini berada di jalur yang tepat untuk mencapai target besar di bidang kesehatan masyarakat. Target tersebut bukan main-main: nol kematian akibat demam berdarah dengue (DBD) pada tahun 2030.

Optimisme ini didorong oleh berbagai langkah strategis yang terus diperkuat, mulai dari pencegahan dini, pengendalian vektor nyamuk, hingga peningkatan respons layanan kesehatan di daerah. Pemerintah menilai kombinasi kebijakan, teknologi, dan partisipasi masyarakat menjadi kunci penting dalam menekan angka kematian akibat DBD yang selama ini menjadi momok tahunan.

Dengan waktu kurang dari satu dekade, Kemenkes menegaskan bahwa upaya menuju Indonesia bebas kematian akibat DBD bukan sekadar target di atas kertas, melainkan komitmen nyata untuk melindungi keselamatan masyarakat di seluruh pelosok negeri.

“Indonesia kini mantap melangka untuk mencapai tujuan utama kita yaitu Nol kematian Dengue pada tahun 2030.,” kata kepala Badan kebijakan pembangunan Kesehatan Kemenkes, Asnawi Abdullah, dalam keterangannya dikutip dari Media Indonesia, Selasa 10 Februari 2026.

Keyakinan tersebut diperkuat oleh capaian signifikan dalam menekan angka fatalitas atau Case Fatality Rate (CFR) DBD yang pada 2025 berhasil turun hingga menyentuh rekor terendah, yakni 0,4 persen. Pencapaian ini bahkan melampaui target nasional yang ditetapkan sebesar 0,5 persen, sekaligus menjadi indikator kuat bahwa upaya pengendalian DBD di Indonesia mulai menunjukkan hasil nyata.

“Tren ini menunjukakn bahwa meskipun dengue masih menyebar di komunitas kita, semakin sedikit orang yang meninggal karenanya,” ujar Asnawi.

Asnawi menegaskan bahwa ketangguhan manajemen klinis, yang berjalan beriringan dengan peran aktif masyarakat melalui program Juru Pemantau Jentik (Jumantik), menjadi fondasi utama keberhasilan menekan angka fatalitas DBD.

Meski sempat diterpa lonjakan kasus pada 2024 akibat dampak fenomena El Nino, Indonesia mampu bangkit dengan cepat.

Pemulihan tersebut didorong oleh pemanfaatan teknologi kesehatan terkini serta penguatan aksi pencegahan hingga ke tingkat akar rumput.

Sinergi antara tenaga medis dan relawan pemantau jentik pun dinilai efektif memutus rantai penularan langsung dari sumbernya.

“Keberhasilan ini menunjukkan kekuatan layanan kesehatan kita dan dahsyatnya aksi komunias, terutama melalui program Jumantik, relawan pemantau jentik kita yang bekerja dari pintu ke pintu untuk menghentikan dengue langsung dari sumbernya,” jelas Asnawi.

  • Kesimpulan

Dengan capaian penurunan angka kematian DBD hingga rekor terendah dan strategi penanggulangan yang semakin terintegrasi, Indonesia menunjukkan kemajuan nyata dalam pengendalian demam berdarah. Komitmen pemerintah yang didukung penguatan layanan kesehatan, pemanfaatan teknologi, serta partisipasi aktif masyarakat melalui program Jumantik menjadi fondasi utama menuju target nol kematian DBD pada 2030. Meski tantangan seperti perubahan iklim masih ada, sinergi lintas sektor yang konsisten memberi optimisme kuat bahwa Indonesia mampu mewujudkan perlindungan kesehatan masyarakat yang lebih aman dan berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *