NASA Targetkan Peluncuran Misi Artemis II Kirim Manusia ke Bulan 8 Februari 2026
Jakarta — Badan Antariksa Amerika Serikat, NASA, bergerak menuju tonggak sejarah eksplorasi luar angkasa dengan menargetkan peluncuran misi Artemis II yang akan membawa empat astronaut mengelilingi Bulan pada 8 Februari 2026. Ini akan menjadi perjalanan berawak pertama ke sekitar satelit alami Bumi sejak program Apollo lebih dari setengah abad lalu.
Peluncuran akan dilakukan dari Kennedy Space Center, Florida, menggunakan roket Space Launch System (SLS) yang dipadukan dengan kapsul Orion — wahana yang dirancang untuk penerbangan bulan berawak. Empat astronaut yang akan ambil bagian terdiri dari Komandan Reid Wiseman, Pilot Victor Glover, Spesialis Misi Christina Koch (semua dari NASA), serta Spesialis Misi Jeremy Hansen dari Badan Antariksa Kanada (CSA).
Penundaan Akibat Cuaca Ekstrem dan Penjadwalan Kembali
Awalnya peluncuran direncanakan lebih awal, namun cuaca ekstrem dan suhu sangat dingin di Cape Canaveral memaksa NASA menunda beberapa uji penting termasuk wet dress rehearsal — pengisian bahan bakar roket saat simulasi hitungan mundur — sehingga tanggal peluncuran disesuaikan menjadi 8 Februari 2026.
Penundaan tersebut membuat NASA hanya memiliki beberapa hari jendela peluncuran di awal Februari sebelum harus mempertimbangkan tanggal di bulan berikutnya. Namun, tim teknis NASA memastikan kesiapan penuh dan melakukan penyesuaian sistem untuk memastikan keselamatan misi.
Misi Artemis II: Orbit Bulan, Bukan Pendaratan
Berbeda dengan misi Apollo era 1960-an dan 1970-an yang mendaratkan manusia di permukaan, Artemis II tidak akan melakukan pendaratan di Bulan. Misi ini bertujuan membawa astronaut pada lintasan mengelilingi Bulan (lunar flyby), menguji kinerja sistem vital seperti Orion spacecraft, life support, dan komunikasi dalam kondisi ruang angkasa yang sesungguhnya.
Nantinya kru akan mengikuti jalur free-return trajectory, yakni lintasan yang memanfaatkan gravitasi Bulan sehingga kapsul dapat kembali ke Bumi tanpa kebutuhan dorongan mesin besar setelah melewati titik terjauh dari orbit Bumi.
Makna Historis & Langkah Menuju Eksplorasi Lebih Jauh
Artemis II menandai tahap penting dalam upaya NASA mengembalikan manusia ke lingkungan Bulan serta mempersiapkan perjalanan berikutnya menuju pendaratan berawak di Artemis III. Misi selanjutnya itu direncanakan untuk menempatkan astronaut — termasuk di antaranya wanita dan astronaut internasional — di permukaan Bulan, khususnya di kawasan Selatan Bulan yang belum pernah dijelajahi sebelumnya.
Kembalinya manusia pada misi berawak ke Bulan lebih dari 50 tahun setelah Apollo 17 bukan hanya simbol revitalisasi kemampuan eksplorasi, tetapi juga momentum bagi pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi ruang angkasa, dan kolaborasi internasional.
Kru & Persiapan Akhir Sebelum Peluncuran
Sejumlah persiapan kunci telah dilakukan para astronaut, termasuk fase karantina kesehatan di Houston untuk memastikan kondisi fisik optimal sebelum peluncuran, serta latihan lanjutan menghadapi kondisi ruang angkasa. Crew Artemis II dipilih untuk memiliki kombinasi pengalaman teknis dan keterampilan kerja sama tinggi, penting untuk menjalankan misi berisiko tinggi ini.
NASA juga terus menyiapkan sistem pendukung di ground control untuk memantau dan menangani setiap aspek yang muncul selama peluncuran dan misi. Misi ini diperkirakan berdurasi sekitar 10 hari, mencakup fase penerbangan dari Bumi, lewat sekitar Bulan, hingga kembali ke planet asal.
Kesiapan Global Mengawasi Misi Artemis II
Antusiasme terhadap Artemis II tidak hanya terasa di Amerika Serikat, tetapi juga di belahan dunia lain, termasuk komunitas ilmuwan dan penggemar antariksa internasional. Peluncuran ini akan disiarkan secara global melalui platform NASA dan mitra media, memungkinkan publik menyaksikan langsung saat manusia kembali menjelajah ruang angkasa di luar orbit Bumi.
Misi Artemis II menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk menjadikan Bulan sebagai pijakan awal bagi ekspedisi lebih jauh — termasuk misi berawak ke Mars di masa depan — dengan tujuan memperluas pemahaman umat manusia tentang ruang antarbintang.
