Viral Penjual Es Kue Jadul, Polda Metro Jaya Minta Maaf dan Tegaskan Tak Anti-UMKM
JAKARTA, kilatnews.id – Gelombang kritik publik yang membanjiri media sosial pasca beredarnya video penertiban seorang pedagang es kue tradisional (es potong jadul) akhirnya direspons cepat oleh Kepolisian Daerah Metro Jaya. Pihak kepolisian secara terbuka menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang timbul akibat insiden tersebut, sekaligus meluruskan narasi yang berkembang liar di masyarakat.
Video yang sebelumnya viral memperlihatkan momen ketika petugas kepolisian menegur seorang pedagang es kue yang sedang berjualan di pinggir jalan. Narasi yang terbangun di publik adalah polisi bertindak arogan dan mematikan rezeki rakyat kecil. Merespons hal ini, Polda Metro Jaya menegaskan bahwa institusi Polri tidak pernah memiliki niat untuk menghambat aktivitas Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Klarifikasi dan Permohonan Maaf
Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Metro Jaya, dalam keterangan persnya, mengakui adanya miskomunikasi dalam penerapan diskresi di lapangan. Ia menyampaikan permohonan maaf jika tindakan anggotanya dinilai melukai perasaan masyarakat atau terkesan tidak humanis.
“Kami meminta maaf atas kejadian tersebut. Pada prinsipnya, kami sangat mendukung UMKM. Tidak ada niat sedikitpun dari anggota kami untuk melarang bapak pedagang tersebut mencari nafkah,” ujar Dirlantas.
Klarifikasi ini menjadi penting untuk meredam sentimen negatif yang menyebut polisi “tajam ke bawah”. Pihak kepolisian menjelaskan bahwa fokus utama petugas saat itu sebenarnya adalah kelancaran arus lalu lintas dan keselamatan pengguna jalan, termasuk keselamatan si pedagang itu sendiri agar tidak terserempet kendaraan.
Dukungan Terhadap Ekonomi Kerakyatan
Lebih lanjut, Polda Metro Jaya menekankan bahwa di tengah pemulihan ekonomi nasional, Polri justru mendapat mandat untuk mengawal dan melindungi para pelaku usaha kecil. Insiden ini dijadikan bahan evaluasi internal agar pendekatan di lapangan lebih mengedepankan sisi persuasif dan edukatif ketimbang tindakan yang represif.
“Pedagang kecil adalah tulang punggung ekonomi. Kami justru ingin mereka aman saat berjualan. Ke depan, anggota di lapangan akan lebih dikedepankan komunikasi yang sejuk. Jika memang lokasi berdagangnya membahayakan, akan diarahkan untuk geser sedikit ke tempat aman, bukan diusir kasar,” tambah pernyataan tersebut.
Respons Netizen dan Pembelajaran Bersama
Kecepatan respons Polda Metro Jaya dalam meminta maaf mendapatkan apresiasi dari sebagian warganet, meskipun kritik tetap ada. Kasus ini menjadi cermin betapa sensitifnya isu sosial-ekonomi di ibu kota. Tindakan aparat terhadap “wong cilik” kini diawasi ketat oleh mata kamera warga (citizen journalism).
Peristiwa penjual es kue jadul ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak. Bagi aparat, ini adalah pengingat tentang pentingnya sense of crisis dan empati dalam bertugas. Bagi masyarakat, ini adalah bukti bahwa kontrol sosial melalui media digital mampu mendorong perbaikan layanan publik secara instan.
Polda Metro Jaya berjanji akan memberikan pembinaan kepada personel yang bersangkutan agar kejadian serupa tidak terulang, dan memastikan slogan “Polri Presisi” benar-benar dirasakan manfaatnya oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk para pedagang kaki lima.
Related Keywords: video viral polisi usir pedagang, dirlantas polda metro jaya, nasib penjual es potong, penertiban pedagang kaki lima jakarta, klarifikasi polda metro.
