Gempa M 7,1 Guncang Melonguane Sulut, Getaran Terasa hingga Ternate dan Bitung
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,1 mengguncang wilayah Melonguane, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, pada Senin (tanggal menyesuaikan waktu kejadian). Getaran gempa dilaporkan terasa kuat di sejumlah daerah, termasuk Kota Bitung, Manado, hingga Ternate di Maluku Utara. Peristiwa ini sempat memicu kepanikan warga yang berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri.
Berdasarkan informasi resmi, gempa terjadi di wilayah laut dan memiliki kedalaman menengah, sehingga guncangannya dirasakan cukup luas. Warga di Melonguane melaporkan getaran berlangsung beberapa detik namun terasa kuat, membuat perabot rumah tangga bergoyang dan sebagian warga memilih menjauhi bangunan.
Di Kota Bitung dan Manado, getaran dirasakan dalam skala ringan hingga sedang. Meski tidak berlangsung lama, gempa tersebut cukup mengejutkan karena terjadi secara tiba-tiba. Sejumlah warga mengaku sempat panik, terutama mereka yang berada di dalam rumah, kantor, maupun pusat perbelanjaan.
Sementara itu, getaran gempa juga dirasakan hingga Ternate, Maluku Utara. Warga di wilayah tersebut melaporkan adanya guncangan ringan yang terasa di dalam bangunan bertingkat. Meski tidak menimbulkan kerusakan, gempa ini menjadi pengingat akan tingginya aktivitas seismik di kawasan timur Indonesia.
Hingga beberapa waktu setelah kejadian, belum ada laporan resmi terkait kerusakan bangunan maupun korban jiwa akibat gempa tersebut. Aparat setempat bersama instansi terkait terus melakukan pemantauan serta pengumpulan data di wilayah yang terdampak getaran paling kuat, khususnya di Kepulauan Talaud.
Pihak berwenang mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah terpancing oleh informasi yang belum terverifikasi. Warga juga diminta untuk selalu mengikuti perkembangan informasi dari sumber resmi serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gempa susulan.
Wilayah Sulawesi Utara dan sekitarnya memang dikenal sebagai salah satu kawasan rawan gempa di Indonesia. Secara geologis, daerah ini berada di pertemuan beberapa lempeng tektonik aktif, sehingga aktivitas gempa bumi relatif sering terjadi. Kondisi ini menuntut kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana alam.
Para ahli kebencanaan mengingatkan pentingnya memahami langkah-langkah keselamatan saat gempa terjadi. Beberapa di antaranya adalah berlindung di bawah meja atau struktur yang kokoh, menjauhi kaca dan benda berat, serta segera menuju area terbuka jika situasi memungkinkan.
Selain itu, masyarakat di wilayah pesisir juga diimbau untuk tetap waspada dan memantau informasi terkait potensi tsunami, meskipun hingga kini tidak ada peringatan tsunami yang dikeluarkan untuk gempa tersebut. Kesiapsiagaan dinilai penting guna menghindari risiko yang tidak diinginkan.
Pemerintah daerah di Sulawesi Utara memastikan akan terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memastikan kondisi wilayah tetap aman. Langkah-langkah antisipatif, termasuk pengecekan infrastruktur vital dan fasilitas umum, dilakukan guna memastikan tidak ada kerusakan tersembunyi yang berpotensi membahayakan masyarakat.
Peristiwa gempa ini kembali menjadi pengingat bahwa Indonesia berada di kawasan Cincin Api Pasifik yang rawan bencana geologi. Edukasi kebencanaan dan kesiapan menghadapi gempa menjadi hal penting agar risiko dapat diminimalkan dan masyarakat mampu bertindak cepat serta tepat saat bencana terjadi.

