Trump Klaim AS Menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro dalam Operasi Militer
WASHINGTON — Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengejutkan dunia dengan mengumumkan bahwa pasukan militer Amerika telah menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan sedang membawanya keluar dari negara itu sebagai bagian dari operasi militer yang besar. Klaim ini disampaikan Trump melalui platform media sosialnya serta konferensi pers di Mar-a-Lago, Florida, pada Sabtu (3/1).
Menurut pernyataan Trump, operasi militer itu berhasil menangkap Maduro dan istrinya — yang juga disebut telah dibawa keluar dari Venezuela — dalam serangan yang menargetkan lokasi aman sang pemimpin Venezuela. Trump menegaskan bahwa operasi tersebut dilakukan oleh pasukan AS dan pihaknya akan membawa Maduro ke Amerika untuk menghadapi proses hukum.
Serangan Militer dan Tanggapan AS
Trump mengatakan AS melancarkan serangan skala besar di wilayah Venezuela pada dini hari Sabtu. Dalam pernyataannya, ia menyebut bahwa hasil dari operasi tersebut menunjukkan efektivitas militer AS dan menandai salah satu tindakan paling langsung di Amerika Latin sejak intervensi yang menyerupai invasi Panama pada 1989.
Menurut beberapa media internasional, termasuk Associated Press dan CBS News, pasukan khusus seperti Delta Force terlibat dalam operasi tersebut, melakukan serangan yang menyebabkan ledakan dan aktivitas militer intens di sekitar ibu kota Caracas. Trump pun mengumumkan bahwa pasangan Maduro akan menghadapi dakwaan di pengadilan AS terkait tuduhan narkoterrorisme dan pelanggaran hukum lain.
Klaim Pengambilalihan Kekuasaan
Trump lebih jauh menyatakan bahwa Amerika Serikat akan mengambil alih pemerintahan Venezuela untuk sementara waktu hingga proses transisi yang “aman dan bijaksana” dapat dilakukan. Dalam pidato resminya, ia tidak menutup kemungkinan untuk “mengirim pasukan darat” jika diperlukan dan berencana mengontrol negara itu sampai pemerintahan baru terwujud.
Pernyataan ini menandai eskalasi besar dalam kebijakan luar negeri AS karena Washington akan terlibat langsung dalam urusan internal Venezuela — sesuatu yang jarang terjadi dalam beberapa dekade terakhir. Trump juga menyebut bahwa kekayaan minyak Venezuela akan dimanfaatkan untuk mendanai operasi tersebut.
Situasi di Venezuela
Sebelum pernyataan Trump, warga Caracas melaporkan ledakan keras dan gejolak militer di beberapa area ibu kota Venezuela, termasuk pemboman fasilitas militer dan wilayah strategis lain. Ada laporan blackout dan kepanikan di jalan-jalan saat serangan berlangsung.
Meski demikian, hingga kini belum ada pengesahan independen yang memverifikasi secara terperinci apakah Maduro benar-benar telah ditangkap dan dibawa keluar. Wakil Presiden Venezuela, Delcy Rodríguez, menyatakan bahwa ia tidak mengetahui keberadaan Maduro dan meminta bukti bahwa pria yang diklaim Trump itu memang ditahan.
Reaksi Politik dan Hukum
Klaim Trump mendapatkan reaksi beragam dari para politisi AS dan komunitas internasional. Beberapa senator Amerika — termasuk dari partai Republik dan Demokrat — mengkritik tindakan ini sebagai langkah yang tidak memiliki dasar kepentingan nasional yang jelas dan terlalu agresif.
Di luar AS, negara seperti Rusia, Kuba, dan Iran dengan tegas mengecam operasi militer tersebut, menyebutnya sebagai pelanggaran kedaulatan dan hukum internasional. Kritikus hukum internasional bahkan menyatakan tindakan ini bisa dianggap sebagai agresi tanpa mandat PBB dan berpotensi melemahkan norma hukum global.
Kekosongan Kekuasaan dan Ketidakpastian
Dengan klaim tangkapan Maduro, muncul pertanyaan besar tentang siapa yang akan memimpin Venezuela selanjutnya. Secara hukum, Wakil Presiden Delcy Rodríguez bisa mengambil alih jabatan, tetapi status kepemimpinan resmi masih belum jelas dan situasi di lapangan tetap penuh ketidakpastian.
Sejumlah pengamat menilai langkah AS itu bisa menciptakan kekosongan kekuasaan yang serius di negara berpenduduk sekitar 28 juta orang tersebut. Kelompok pendukung Maduro juga telah berkumpul di beberapa lokasi untuk menyatakan penolakan terhadap intervensi asing.
Dampak Geopolitik
Operasi militer ini berpotensi mengubah dinamika geopolitik di Amerika Latin, memperburuk hubungan AS dengan sekutu Venezuela seperti Rusia dan Cina, sementara sejumlah negara di kawasan memberikan dukungan beragam terhadap tindakan Trump. Isu ini kini menjadi pusat perdebatan mengenai batasan campur tangan militer dan hukum internasional di abad ke-21.

