Kisah Dramatis Dua Kakak Beradik Lolos dari Maut Longsor Cilacap: Merangkak Keluar dari Reruntuhan
Cilacap – Bencana tanah longsor yang melanda Desa Salebu, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, menyisakan cerita heroik tentang perjuangan bertahan hidup. Dua kakak beradik, sebut saja Rina (16) dan Adi (12) — nama disamarkan untuk perlindungan privasi—, berhasil lolos dari maut setelah rumah mereka rata ditimbun material longsoran pada dini hari.
Kejadian nahas ini terjadi saat sebagian besar warga tengah terlelap. Hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut selama berjam-jam menyebabkan kontur tanah di perbukitan sekitar perumahan menjadi labil. Sekitar pukul 03.00 WIB, suara gemuruh hebat mengejutkan warga.
Rumah keluarga Rina dan Adi yang berada tepat di bawah tebing menjadi sasaran utama longsoran. Material tanah, batu, dan pepohonan langsung menerjang dan menimbun bangunan dengan cepat. Orang tua mereka yang berada di kamar terpisah dilaporkan belum ditemukan, menambah pilu tragedi ini.
Merangkak di Balik Puing
Menurut laporan tim SAR di lapangan, Rina menceritakan detik-detik mengerikan saat longsoran menghantam. Ia dan adiknya tertidur di satu kamar. Getaran hebat dan suara dentuman keras adalah hal terakhir yang mereka ingat sebelum kegelapan dan desakan material keras mengimpit.
“Semua gelap dan terasa berat. Saya tidak bisa bergerak, tapi saya dengar Adi menangis di sebelah,” ujar Rina dalam keterangan singkat kepada petugas evakuasi.
Berbekal insting bertahan hidup dan sedikit ruang gerak yang tersisa, Rina mencoba menggapai adiknya. Ia menggunakan kekuatan tangannya untuk menyingkirkan puing-puing ringan di sekitarnya. Dengan kondisi yang masih tertekan material longsor dan lumpur tebal, mereka mulai merangkak perlahan, mencari celah menuju udara terbuka.
Perjuangan tersebut berlangsung lebih dari satu jam. Dalam kondisi penuh luka dan kedinginan, mereka berhasil menemukan celah kecil di antara reruntuhan. Dengan sisa tenaga, Rina mendahulukan adiknya keluar, lalu menyusul merangkak melewati tumpukan kayu dan lumpur.
Mereka ditemukan warga dan tim penolong yang mulai melakukan penyisiran saat pagi menjelang. Kedua remaja tersebut segera dilarikan ke puskesmas terdekat untuk mendapatkan penanganan medis. Meskipun mengalami trauma fisik dan psikologis berat, kondisi keduanya dilaporkan stabil.
Upaya Penanganan dan Evakuasi
Pasca-kejadian, tim gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, dan relawan langsung bergerak menuju lokasi. Fokus utama adalah mencari korban lain yang diduga masih tertimbun, termasuk orang tua Rina dan Adi. Alat berat sudah dikerahkan, namun akses jalan yang licin dan material longsoran yang tebal menghambat proses evakuasi.
Kepala BPBD Cilacap, dalam konferensi pers darurat, menyampaikan bahwa longsor ini dipicu oleh intensitas hujan yang ekstrem. Ia juga mengimbau warga di lereng perbukitan dan daerah rawan untuk segera mengungsi ke tempat yang lebih aman.
“Prioritas kami saat ini adalah menemukan korban lain yang hilang dan memastikan warga di zona merah sudah dievakuasi. Kami imbau masyarakat untuk tidak mendekati lokasi bencana demi keselamatan,” tegasnya.
Pemerintah Kabupaten Cilacap telah menetapkan status tanggap darurat bencana untuk mempercepat penanganan dan penyaluran bantuan logistik. Kisah Rina dan Adi menjadi pengingat pahit akan bahaya bencana hidrometeorologi, sekaligus simbol ketangguhan manusia di tengah situasi paling kritis.
Data Terbaru Korban (Update 09.00 WIB):
- Meninggal Dunia: Belum ada data resmi.
- Hilang/Tertimbun: 2 orang (orang tua korban selamat).
- Luka Ringan: 2 orang (kakak beradik selamat).
- Rumah Rusak Berat: 3 unit.
Proses pencarian dan evakuasi akan terus berlanjut hingga seluruh korban ditemukan dan wilayah dinyatakan aman.
