Pria Pemeran Video Porno dengan Lisa Mariana Ikut Jadi Tersangka
Jakarta — Polisi menetapkan pria berinisial F (alias “Tato”) sebagai tersangka dalam kasus penyebaran video pornografi yang melibatkan selebgram Lisa Mariana. Polres dan Polda Jawa Barat menyatakan bahwa F bersama Lisa secara sadar merekam adegan intim mereka, kemudian video itu beredar luas di media sosial.
Kronologi & Penetapan Tersangka
Polda Jawa Barat mengumumkan bahwa selain Lisa Mariana, pria berinisial F telah resmi ditetapkan sebagai tersangka pada Selasa, 11 November 2025. “F ini pemeran prianya… keduanya sadar merekam atas kejadian tersebut,” ujar Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol. Hendra Rochmawan.
Lisa sendiri telah ditetapkan sebagai tersangka sehari sebelumnya terkait kasus yang sama.
Dalam penyidikan, polisi menemukan bahwa rekaman dibuat secara sukarela oleh keduanya dan tidak ditemukannya indikasi bahwa video itu direkam diam-diam.
Fakta Penting
Beberapa fakta kunci yang terungkap dalam kasus ini:
- Pria berinisial F dikenali melalui tato-tato di tubuhnya — yang menjadi salah satu petunjuk identifikasi.
- Polisi menyebut bahwa adegan intim direkam oleh keduanya sendiri, dan kemudian video tersebut menyebar melalui platform daring.
- Hingga kini, penyidikan masih berjalan — termasuk pemeriksaan saksi, penelusuran jalur distribusi video, dan analisis forensik digital.
Aspek Hukum
Kasus ini diproses berdasarkan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dan Undang-Undang Pornografi, yang melarang pembuatan, penyebaran dan pertunjukan pornografi. Dengan rekaman dilakukan secara sadar, unsur kesengajaan menjadi faktor.
Polisi juga mempertimbangkan status sosial dan usia pelaku serta korban (jika ada unsur minor) dalam proses pemeriksaan—meskipun hingga saat ini belum ada indikasi publik bahwa korban adalah di bawah umur.
Dampak Sosial & Publik
Kasus ini mendapat sorotan luas karena melibatkan figur publik (selebgram) dan isu penyebaran konten pornografi di era digital. Beberapa dampak yang muncul:
- Kecemasan publik tentang mudahnya rekaman intim menjadi konten tersebar di internet, serta perlunya literasi digital dan privasi yang lebih kuat.
- Isu moral dan budaya: bagaimana selebritas mem-produksi konten untuk publik, dan apakah pengaruhnya terhadap norma sosial.
- Risiko reputasi: bagi Lisa Mariana dan F, penetapan tersangka membawa dampak karier, citra sosial dan kemungkinan hukuman yang mengikutinya.
Reaksi dari Pihak Terkait
Lisa Mariana melalui kuasa hukumnya menyatakan akan kooperatif dengan penyidikan. Namun ia juga menyatakan bahwa penyebaran video tersebut merupakan pelanggaran terhadap hak pribadinya. Sementara itu, polisi menegaskan bahwa proses akan dilakukan tanpa pandang bulu.
Publik dan media meminta transparansi dari penegak hukum—termasuk kejelasan siapa yang menyebarluaskan video tersebut, bagaimana pihak yang membuat video mendapat akses distribusi dan apakah ada jaringan yang lebih besar.
Pelajaran dan Implikasi ke Depan
Kasus ini mengingatkan beberapa hal penting yang relevan di era digital:
- Pentingnya menjaga privasi dan kesadaran bahwa merekam dan menyebarkan konten intim membawa risiko hukum serius.
- Kewaspadaan terhadap penyebaran konten melalui platform daring: sekali konten viral, sulit ditarik kembali dan dapat menimbulkan kerugian besar bagi individu.
- Regulasi dan penegakan hukum harus berjalan seiring dengan edukasi publik tentang digital ethics dan literasi media.
- Bagi selebritas atau figur publik: tanggung jawab lebih besar terkait konten yang mereka buat atau terlibat di dalamnya — karena dampaknya tidak hanya pribadi tapi sosial.
Kesimpulan
Penetapan tersangka terhadap pria inisial F dalam kasus video pornografi bersama Lisa Mariana menandakan bahwa pihak berwajib makin tegas menanggapi penyebaran konten asusila di dunia digital. Meski video tersebut dibuat secara sadar oleh kedua pihak, dampak luasnya menyentuh ranah sosial, hukum dan budaya.
Kita berada di era dimana satu rekaman dapat tersebar secara global dalam hitungan jam — dan kasus ini menjadi peringatan bahwa semua pihak harus berhati-hati, sadar hak dan kewajiban digital mereka, serta siap menghadapi konsekuensi jika melanggar norma dan hukum.

