Prabowo Akan Umumkan 10 Tokoh Pahlawan Nasional Hari Ini, Termasuk Soeharto
Jakarta — Presiden Indonesia Prabowo Subianto akan mengumumkan 10 nama tokoh yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada hari ini (10 November 2025), bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan. Dalam daftar tersebut dikabarkan termasuk nama mantan Presiden Soeharto. Pengumuman dijadwalkan digelar di Istana Negara, Jakarta.
Proses & Tahapan Penetapan
Menurut Menteri Sosial Saifullah Yusuf (atau Gus Ipul), sebanyak 49 nama telah diajukan dalam proses pengusulan gelar Pahlawan Nasional—terdiri atas 40 nama baru dan 9 nama dari usulan sebelumnya yang belum diumumkan. Daftar tersebut diserahkan ke Presiden melalui Dewan Gelar.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebut bahwa proses “finalisasi” telah terjadi dalam rapat terbatas dengan Presiden Prabowo dan sejumlah pimpinan lembaga Negara. “Kurang lebih 10 nama akan diumumkan, ya termasuk Soeharto,” ujar Prasetyo Hadi.
Nama Kunci yang Masuk Daftar – Soeharto dan Lainnya
Beberapa nama yang secara terbuka disebut masuk dalam daftar usulan adalah:
- Soeharto, mantan Presiden ke-2 Republik Indonesia.
- Abdurrahman Wahid (Gus Dur), mantan Presiden Indonesia yang juga masuk dalam pembicaraan.
- Syekhona Kholil Bangkalan, Kiai Bisri Syansuri, dan Marsinah, aktivis buruh yang juga disebut nama-nya dalam usulan.
Meski demikian, siapa saja “10 nama resmi” belum diumumkan secara publik sebelum acara hari ini.
Alasan Pemilihan & Peran Penting Soeharto
Soeharto dikenal sebagai Presiden Indonesia yang memimpin selama kurun waktu panjang (1967-1998) dan memainkan peran besar dalam pembangunan nasional, stabilisasi politik dan ekonomi setelah masa transisi. Sebutannya dalam daftar usulan gelar pahlawan nasional menunjukkan bahwa pemerintah menilai jasa-nya sebagai cukup signifikan untuk dipertimbangkan secara resmi.
Meski demikian, penetapan gelar Pahlawan Nasional tidak hanya didasarkan pada jabatan atau durasi kepemimpinan, melainkan pada “perbuatan nyata yang dapat dikenang dan diteladani sepanjang masa” sebagaimana diatur dalam regulasi gelar.
Kontroversi dan Sorotan Publik
Penetapan Soeharto sebagai pahlawan nasional juga memunculkan berbagai reaksi dari publik dan lembaga masyarakat sipil:
- Bagi sebagian pihak, Soeharto dianggap berjasa dalam pembangunan infrastruktur dan stabilitas politik jangka panjang.
- Namun ada pula kritikan terhadap catatan hak asasi manusia, pengekangan kebebasan pers dan korupsi yang terjadi semasa rezimnya.
- Dengan demikian, keputusan ini akan menjadi uji publik atas bagaimana pemerintah menyeimbangkan antara jasa pembangunan dan evaluasi sejarah secara menyeluruh.
Selain itu, nama-nama seperti Marsinah (aktivis buruh) juga memberi warna bahwa daftar ini tidak hanya pejabat tinggi tetapi juga pejuang sosial dan buruh, yang menyiratkan upaya memperluas definisi “kepahlawanan”.
Tanggal & Relevansi Pengumuman – Hari Pahlawan
Pemilihan tanggal pengumuman pada 10 November sangatlah simbolis, karena tanggal ini diperingati sebagai Hari Pahlawan di Indonesia untuk mengenang pertempuran di Surabaya tahun 1945. Pengumuman pada hari tersebut diharapkan memberi makna yang lebih kuat bahwa gelar pahlawan bukan sekadar formalitas — tetapi bagian dari narasi nasional tentang jasa dan pengorbanan.
Presiden Prabowo sendiri dalam upacara ziarah nasional menyerukan agar masyarakat “jangan melupakan jasa para pahlawan” sekaligus mengingatkan bahwa generasi sekarang harus meneladani semangat perjuangan.
Proses Formal, Hibah Gelar dan Implementasi
Setelah pengumuman resmi, pemerintah akan menetapkan Keputusan Presiden yang memuat nama-nama penerima gelar, dilanjutkan dengan acara pemberian sertifikat atau plakat gelar. Mereka yang menerima biasanya sudah wafat (beliau menjadi almarhum) dan kemudian diperingati sebagai Pahlawan Nasional secara posthumus.
Pemberian gelar ini memiliki makna simbolis dan edukatif, yakni menyampaikan ke generasi muda bahwa pelayanan negara, pembangunan, sosial dan pengorbanan rakyat biasa adalah unsur-unsur yang dapat dianggap kepahlawanan.
Apa Makna bagi Generasi Kini?
Pengumuman dan penganugerahan gelar Pahlawan Nasional hari ini membawa pesan bagi generasi muda dan masyarakat:
- Kepahlawanan tidak hanya soal medan perang fisik, tetapi juga tentang kontribusi konstruktif dalam pembangunan, pendidikan, kesejahteraan dan integritas publik.
- Pemerintah mengirim sinyal bahwa jasa dari berbagai sektor — mulai dari politik, militer, masyarakat sipil, buruh hingga agama — bisa mendapatkan pengakuan resmi.
- Penetapan nama-nama besar seperti Soeharto memberi pesan bahwa evaluasi terhadap periode sejarah bukan semata propaganda, melainkan pemahaman kompleks tentang tokoh dan konteks.
- Generasi penerus diundang untuk memahami bahwa kemerdekaan dan kemajuan bangsa dibangun oleh banyak pihak, dalam konteks yang beragam.
Catatan Penutup
Pengumuman 10 nama Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo hari ini menjadi salah satu agenda nasional penting yang sekaligus menyentuh isu evaluasi sejarah, penghargaan terhadap jasa bangsa dan arah narasi kepahlawanan di Indonesia. Meski detail nama lengkap belum semua diumumkan, daftar yang bocor—termasuk Soeharto—membuka diskusi luas tentang makna, kriteria dan legitimasi gelar Pahlawan Nasional.
Bagaimanapun hasil akhir, acara hari ini akan menjadi momentum refleksi nasional, tidak hanya untuk mengenang masa lalu, tetapi juga memperkuat semangat persatuan dan kontribusi di masa depan.

