Sabrina Alatas: Chef Muda Indonesia Lulusan Le Cordon Bleu Paris yang Mendunia
Jakarta — Di tengah hiruk-pikuk dunia kuliner Indonesia, nama Sabrina Alatas muncul sebagai salah satu chef muda yang menarik perhatian — bukan hanya karena posisinya sebagai chef lulusan Le Cordon Bleu Paris, tetapi juga kiprahnya yang kini melesat ke kancah internasional. Lahir dari keluarga pebisnis dan artis, Sabrina memilih jalannya sendiri lewat dapur profesional, bisnis kuliner, dan brand personal yang sudah ia bangun.
Latar Belakang & Pendidikan
Sabrina Alatas adalah anak dari pengusaha sekaligus penyanyi jazz, Jay Alatas, dan Vitha Rusdi. Meski besar dalam lingkungan keluarga yang punya akses luas—termasuk ke dunia hiburan—Sabrina memilih jalur berbeda: memasak. Dia menempuh pendidikan kuliner di Le Cordon Bleu Paris, salah satu institusi gastronomi ternama di dunia.
Sebelum memutuskan kuliner sebagai profesi, Sabrina sempat mempertimbangkan karier sebagai arsitek atau insinyur sipil. Namun kecintaannya pada memasak di rumah kemudian menjadi gerbang ke dapur profesional.
Perjalanan Karier & Pencapaian
Setelah lulus, Sabrina memulai kariernya di dunia kuliner — termasuk bekerja di restoran di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Ia kemudian mendirikan restoran bernama Manje – Bowls, Baos, Brews yang berlokasi di Pejaten, tapi kemudian tutup. Saat ini, Sabrina aktif sebagai chef di restoran ternama di Paris, Ze Kitchen Galerie Paris, dimana ia mendapatkan pengalaman internasional yang sangat berarti.
Tak hanya itu, ia juga membangun brand personal bernama The Grumpy Chef, yang berfokus pada pengalaman kuliner intim dan personal — menegaskan bahwa ia tak hanya chef di dapur, tetapi juga pengusaha kreatif di bidang gastronomi.
Keunikan & Filosofi Kerja
Sabrina menegaskan bahwa kunci suksesnya ialah disiplin, keingintahuan tinggi, dan keberanian untuk mengeksplorasi—termasuk meninggalkan zona nyaman. Ia mengatakan bahwa suasana dapur profesional “seperti militer” karena tekanan fisik dan mental yang tinggi.
Keunikan gaya memasaknya? Sabrina membaurkan teknik masakan Eropa dengan cita rasa pan-Asia—menghasilkan sajian yang elegan namun tetap akrab di lidah Indonesia. Liputan6 Ia juga menolak pandangan bahwa dapur profesional hanya untuk pria: “Yang menentukan bukan gender, tapi skill,” ujarnya.
Tantangan & Pelajaran
Meski kariernya telah cemerlang, perjalanan Sabrina tak tanpa rintangan. Misalnya, saat pandemi COVID-19, restoran yang ia kelola mengalami penurunan omzet hingga 80 %. Namun ia memilih adaptasi kreatif: menyediakan menu yang bisa dinikmati di rumah, memperluas pengalaman kuliner lewat platform digital, dan memperkuat brand personalnya.
Pelajaran penting yang ia bagikan: kesuksesan tidak datang dengan sendirinya—konsistensi, kejelasan visi, dan keberanian keluar dari zona nyaman menjadi faktor utama.
Pengaruh & Inspirasi Bagi Generasi Muda
Sabrina Alatas kini menjadi teladan bagi generasi muda Indonesia yang tertarik ke dunia kuliner internasional. Beberapa poin inspirasinya:
- Pendidikan global sebagai modal: menempuh Le Cordon Bleu Paris menegaskan bahwa pendidikan spesialis bisa membuka peluang global.
- Membangun merek sendiri: selain bekerja di restoran top, ia juga menciptakan identitas sendiri lewat The Grumpy Chef.
- Menggabungkan estetika & rasa: kontennya di media sosial menampilkan presentasi makanan yang instagrammable—selaras dengan tren visual era digital.
- Menjaga akar lokal: meski berkarier internasional, Sabrina tetap bangga tanah airnya dan mempertahankan sentuhan rasa Indonesia pada kreasinya.
Proyeksi Ke Depan
Dengan latar belakang yang kuat dan jejak pengalaman yang semakin global, langkah berikutnya untuk Sabrina bisa mencakup: membuka restoran flagship di Jakarta atau kota besar lainnya, menerbitkan buku masak yang mengangkat pan-Asia gourmet, atau bahkan menjadi mentor bagi chef muda Indonesia. Publik tentu menanti inovasi selanjutnya dari dirinya.
Bagi dunia kuliner Indonesia, kehadiran Sabrina mempertegas bahwa talenta lokal bisa bersaing di pentas dunia—dan bahwa identitas kuliner Indonesia bisa dibawa mendunia dengan kualitas, kreativitas, dan keberanian.
Kesimpulan
Sabrina Alatas bukan hanya chef muda biasa: ia adalah representasi potensi besar Indonesia dalam dunia gastronomi internasional. Dari pendidikan di Le Cordon Bleu Paris hingga kiprah di dapur Paris dan brand personal yang ia kembangkan, Sabrina menunjukkan bahwa bakat, kerja keras, dan visi dapat menjembatani dunia lokal dengan global.
Bagi Anda yang bercita-cita masuk dunia kuliner profesional, kisah Sabrina mengingatkan: mulailah dari kemampuan dasar, terus belajar, dan jangan takut mengejar impian. Karena pada akhirnya, identitas dan kualitaslah yang membedakan.

