Perjuangan Menembus Kemacetan Usai Banjir di Kemang
Jakarta – Hujan deras yang mengguyur kawasan Kemang, Jakarta Selatan, memicu banjir setinggi hampir satu meter dan menyebabkan kemacetan panjang yang menyulitkan warga.
Peristiwa terjadi pada Rabu hingga Kamis lalu, tepatnya di ruas jalan utama kawasan tersebut. Banjir tidak hanya menggenangi jalan – melainkan juga membuat arus lalu lintas merambat secara massif.
Titik Banjir dan Dampaknya
Menurut informasi dari Polda Metro Jaya, genangan air di Jalan Kemang Raya mencapai ketinggian sekitar satu meter. Direktur Lalu Lintas Kombes Komarudin menyampaikan bahwa genangan berasal dari luapan Kali Krukut yang terdampak keretakan tanggul.
Akibatnya, ruas jalan penting seperti Jalan Kemang Raya sempat ditutup untuk sementara dari kendaraan roda dua dan empat. Kondisi ini memaksa para pengguna jalan melakukan “perjuangan ekstra” untuk menembus antrean panjang yang nyaris tak bergerak.
Warga & Pedagang: Kisah di Balik Angka
Tidak hanya pengendara kendaraan bermotor yang terdampak. Seorang pedagang gerobak bernama Wahyu mengisahkan bahwa ketika banjir mulai naik sekitar pukul 17.00 WIB, akses untuk mendorong gerobak sangat tersendat. Ia bahkan baru bisa pulang sekitar pukul 21.00 WIB. Padahal lokasi kontrakannya berada tak jauh dari tempat berdagangnya. Normalnya perjalanan pulang hanya sekitar 20–30 menit; pada malam itu ia menghabiskan satu jam penuh dan mengalami kelelahan fisik karena menahan dorongan gerobak saat macet.
Sementara itu, petugas parkir bernama Idan juga mengungkap bahwa banyak pengendara yang terjebak kemacetan memilih menepi di area parkir minimarket tempat ia bekerja. Dua titik banjir utama yang tercatat berada di pertigaan menuju Jalan Kemang Selatan VII dan di depan gerai kemchicks di Kemang Raya. Kemacetan bahkan berlangsung hingga tengah malam.
Penyebab: Tanggul Retak dan Aliran Sungai yang Tidak Terkendali
Gubernur Pramono Anung mengungkap bahwa keretakan tanggul yang dimiliki kawasan Kemang Village memicu luapan aliran Kali Krukut ke jalan dan permukiman di sekitarnya. Ia menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan menangani masalah banjir mulai dari hulu hingga hilir.
“Kami harus bergerak cepat memperbaiki tanggul-tanggul yang jebol supaya kejadian seperti di Kemang tidak terus berulang,” tutur Pramono.
Kondisi Normal Kembali, Tapi Kisah Masih Tertinggal
Pada Sabtu (1/11) pagi, pantauan menunjukkan bahwa Jalan Kemang Raya telah kembali bisa dilintasi tanpa genangan. Petugas dari Suku Dinas Sumber Daya Air Kota Jakarta Selatan tampak membersihkan sampah-sampah yang tersangkut di Kali Krukut—yang selama banjir menimbulkan penyumbatan.
Bagi sebagian warga, proses keringnya jalan adalah pertanda baik. Namun, bagi yang mengalami sendiri kemacetan panjang dan perjuangan malam hari itu, kisah ini belum sepenuhnya berlalu. Mereka masih menyimpan pengalaman bahwa ketika kecepatan bergerak di jalan menurun drastis, rutinitas sehari-hari bisa berubah menjadi ujian fisik dan mental.
Pelajaran dan Harapan ke Depan
Kejadian di Kemang menjadi pengingat bahwa infrastruktur penanganan banjir (termasuk tanggul, aliran sungai, dan sistem drainase) harus selalu dioptimalkan. Bila satu elemen lemah — seperti tanggul yang retak — maka dampaknya bisa meluas hingga mengganggu mobilitas dan aktivitas warga.
Bagi pengendara dan pedagang di kawasan rawan banjir seperti Kemang, penting untuk selalu mempersiapkan alternatif rute atau waktu perjalanan yang fleksibel. Sementara itu, pemerintah daerah diharapkan menjadikan insiden ini sebagai batu loncatan untuk melakukan langkah preventif yang terstruktur.

