NewsTrending

Komet Lemmon C/2025 A6: Puncak Kecerahan 30 Oktober 2025, Kesempatan Langka Pengamatan di Langit Indonesia

Jakarta, 29 Oktober 2025 — Di langit malam yang semakin gelap menjelang akhir Oktober, sebuah pengembara angkasa dari tepi sistem tata surya kita akan mencuri perhatian: Komet Lemmon, atau secara ilmiah C/2025 A6 (Lemmon), yang ditemukan pada 3 Januari 2025 oleh Mount Lemmon Survey di Arizona, AS. Komet non-periodik ini, dengan orbit sekitar 1.350 tahun, kini mendekati puncak kecerahannya pada Kamis malam (30 Oktober 2025), di mana magnitudo diperkirakan mencapai 3,5 hingga 2,5—cukup terang untuk terlihat mata telanjang di lokasi minim polusi cahaya. Perihelion-nya (titik terdekat Matahari) pada 8 November akan membuatnya semakin spektakuler, tapi akhir Oktober adalah momen emas sebelum ia memudar cepat. Dengan koma hijau cerah dan ekor ion panjang hingga 3 derajat, Komet Lemmon bukan hanya benda langit—ia adalah kapsul waktu kosmik yang membawa cerita tentang asal-usul tata surya. Bagi pengamat di Indonesia, yang langitnya sering tertutup awan musim hujan, ini kesempatan langka untuk saksikan “bola salju kotor” ini sebelum ia hilang untuk satu milenium lagi.

Komet Lemmon, yang awalnya terdeteksi sebagai objek asteroid samar magnitudo +21,5 pada 3 Januari 2025 saat berjarak 4,5 AU dari Matahari, mulai menunjukkan aktivitas kometer pada September. Observasi dari Teide Observatory di Canary Islands pada 15 September hingga 12 Oktober mengungkap dua jet spiral besar dari inti komet, yang kemungkinan menghasilkan ekor debu yang memanjang. Spektra dari University Observatory Jena pada 13 dan 18 Oktober menunjukkan emisi C2, [OI], NH2, dan Na yang semakin kuat, dengan garis Na D1 dan D2 melonjak saat komet mendekati Matahari dari 0,79 AU ke 0,71 AU. Perihelion pada 8 November akan membuatnya terdekat Matahari (0,53 AU), tapi kecerahan puncak justru di akhir Oktober, sekitar 30 derajat kiri atas Arcturus (bintang terang di rasi Boötes). Pada 29 Oktober 2025, magnitudo sekitar 4,2, dengan inti dan koma terlihat mata telanjang di langit gelap, dan ekor ion samar di teleskop kecil.

Komet ini, yang orbitnya miring 143,7 derajat dan bergerak retrograde (berlawanan arah planet), mendekati Bumi pada 21 Oktober (jarak 0,60 AU atau 90 juta km), bertepatan dengan bulan baru, membuatnya ideal untuk pengamatan. Periode orbit inbound-nya 1.350 tahun berarti komet ini terakhir lewat sekitar abad ke-7 Masehi, dan tak akan kembali hingga 3175. Di belahan utara, termasuk Indonesia, komet ini circumpolar di lintang 48°N ke atas sejak mid-Oktober, terlihat 30 menit setelah matahari terbenam di ufuk barat laut (30 derajat di atas horizon). Pada 30 Oktober, ia di rasi Serpens, dekat Ursa Major, dengan elongasi 33 derajat dari Matahari—posisi sempurna untuk pengamat malam.

Untuk pengamat di Indonesia, puncak kecerahan pada 30 Oktober berarti waktu terbaik adalah 30-60 menit setelah maghrib (sekitar 18:00 WIB), dari lokasi gelap seperti bukit di Bogor atau pantai Bali. Polusi cahaya di Jakarta bikin sulit mata telanjang, tapi di Gunung Bromo atau Taman Nasional Baluran, magnitudo 3,5 bisa terlihat seperti bintang terang dengan ekor samar. Gunakan binokular 7×50 atau teleskop kecil (8 inci) untuk lihat koma diameter 2,2 arcmin dan ekor 1,6 derajat. Aplikasi seperti Stellarium atau SkySafari tunjukkan posisi: pada 30 Oktober, komet 18° di atas ufuk barat, dekat Rho Boötis. Hindari bulan purnama 28 Oktober yang redupkan cahaya; pilih malam cerah tanpa awan.

Komet Lemmon spesial karena non-periodik: dari Oort Cloud, ia mendekati Matahari sekali dalam ribuan tahun, sublimasi es ciptakan gas dan debu yang bikin koma hijau (dari molekul C2) dan ekor ion panjang. Foto astrofotografer seperti Stuart Atkinson dari Inggris (13 Oktober) tunjukkan koma cerah dan ekor terpisah, sementara Dimitrios Katevaini dari Yunani (17 September) tangkap spiral jet. Di Indonesia, komunitas seperti Himpunan Pengamat Astronomi Amatir Indonesia (HP3I) rencana nobar di Bosscha, Lembang, dengan teleskop 60 cm—siap tangkap detail ekor 3° pada 30 Oktober.

Risiko: komet tak bisa diprediksi—bisa terang melebihi magnitudo 2,5 atau pudar akibat solar wind. Periode 1.350 tahun bikin ini “sekali seumur hidup.” Di 2025, dengan komet lain seperti SWAN25B dan ATLAS, Lemmon potensial jadi yang terang terakhir tahun ini.

Tips praktis: mulai dengan eyepiece rendah untuk lihat keseluruhan, naikkan magnifikasi untuk detail ekor. Cari koma hijau dekat inti; ekor tunjuk anti-Matahari. Catat: apakah ekor terputus? Lebih terang di mana? Gabung COBS untuk update magnitudo real-time. Di Bali atau Lombok, visibilitas lebih baik daripada Jakarta.

Fenomena ini inspirasi: komet ingatkan kerapuhan Bumi, dorong kita hargai langit malam. Jangan lewatkan 30 Oktober—panggilan alam semesta untuk bertanya: apa lagi rahasia kosmos yang menanti?

📌 Sumber: Focus Taiwan, Wikipedia, TheSkyLive, Star Walk, BBC Sky at Night, Astronomy.com, EarthSky, APOD NASA, diolah oleh tim kilatnews.id.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *