News

Andil Trump di Kesepakatan Damai Kamboja-Thailand: Mediasi yang Selamatkan Ribuan Nyawa, tapi Masih Jauh dari Perdamaian Abadi

Jakarta, 27 Oktober 2025 — Di tengah gemuruh KTT ASEAN ke-47 di Kuala Lumpur, Presiden AS Donald Trump naik panggung sebagai “pembuat damai,” menyaksikan penandatanganan “Kuala Lumpur Peace Accords” antara Thailand dan Kamboja. Kesepakatan itu, yang Trump klaim “bersejarah” dan bisa “selamatkan jutaan nyawa,” lahir dari mediasi AS setelah konflik berdarah Juli lalu yang tewaskan 48 orang dan gusur 300.000 warga. Dengan pelukan hangat PM Malaysia Anwar Ibrahim dan jabat tangan PM Thailand Anutin Charnvirakul serta PM Kamboja Hun Manet, Trump pamer peranannya: “Ada banyak telepon antara kami berempat setelah pertumpahan darah.” Tapi, di balik sorotan kamera, kesepakatan ini lebih “jalan menuju damai” daripada akhir konflik—dengan ranjau perbatasan dan emosi nasionalis masih mengintai. Bagi kawasan ASEAN, ini kemenangan diplomatik, tapi juga pengingat: perdamaian tak datang gratis, terutama saat perdagangan jadi senjata.

Konflik Thailand-Kamboja meledak Juli 2025, ketika bentrokan perbatasan di sekitar Kuil Preah Vihear—sengketa sejak 1962—picu tembakan artileri dan kematian puluhan prajurit. Dalam 5 hari, 48 tewas, 300.000 mengungsi, dan ekonomi kedua negara rugi $500 juta dari pariwisata dan perdagangan (data ASEAN Secretariat). Trump, yang baru 10 bulan berkuasa, campur tangan cepat: ancam embargo perdagangan jika tak gencatan senjata. “Kami banyak bisnis dengan mereka; damai atau sanksi,” katanya, pakai leverage ekspor AS ke Thailand ($50 miliar/tahun) dan impor minyak Kamboja. Hasilnya? Gencatan senjata 28 Juli, mediasi Anwar Ibrahim, dan nominasi Nobel Perdamaian untuk Trump dari Hun Manet.

Minggu (26/10), di KLCC, Trump hadir sebagai saksi utama. Bersama Anwar, Anutin, dan Hun, mereka tandatangani deklarasi: tarik senjata berat dari perbatasan, bebas 18 prajurit Kamboja ditahan Thailand, dan kerjasama bersihkan ranjau (ratusan ribu sejak 1960-an). Pengamat ASEAN ditempatkan untuk monitor. Trump puji: “Ini hobi saya—damai hebat.” Ia tambah, kesepakatan ini selamatkan “jutaan nyawa” dan buka jalan perdagangan: deal mineral dengan Thailand, kerjasama dengan Kamboja, dan framework dengan Vietnam. “Bisnis untuk damai,” katanya, sambut nominasi Nobel dari Kamboja.

Tapi, Menlu Thailand Sihasak Phuangketkeow tolak sebut “perjanjian damai”—cuma “jalan menuju perdamaian.” “Kami hormati kedaulatan, tapi definisi batas belum selesai,” katanya ke BBC. Emosi nasionalis tinggi: Kuil Preah Vihear, situs UNESCO, sengketa sejak ICJ 1962 beri ke Kamboja, tapi Thailand klaim tanah sekitar. Ranjau perbatasan (200.000+ bom tak meledak) masih bahaya, dan nasionalisme di kedua negara bisa picu bentrokan baru. Analis seperti Tessa Wong (BBC) bilang, “Trump pamer, tapi Anwar yang mediasi utama—AS cuma tambah tekanan ekonomi.”

Bagi ASEAN, ini kemenangan: blok 680 juta orang tambah stabilitas. Trump, yang tiba dengan tarian di landasan (langgar protokol keamanan), juga tandatangani deal perdagangan Malaysia (akses mineral kritis tanpa tarif) dan Vietnam (akses pasar tak tertandingi). Ia bilang, “Dunia butuh pemimpin yang tegas, seperti saya.” Tapi, Anwar puji Trump sambil ingatkan: “Damai butuh aturan, bukan aturan baru.” KTT bahas Gaza, energi nuklir damai, dan ekonomi digital—dengan Timor Leste gabung ke-11.

Di Indonesia, Prabowo ikut KTT, pidato soal “ASEAN sentralitas” dan perdamaian Gaza. Insiden ini ringan, tapi tunjukkan dinamika: Trump pakai perdagangan sebagai “senjata damai,” mirip ancamannya ke China. Bagi kawasan, kesepakatan ini langkah maju, tapi ranjau literal dan metaforis masih ada. Seperti kata Hun Manet: “Ini blok bangunan perdamaian abadi.”

📌 Sumber: DetikNews/BBC, NYT, Reuters, Bloomberg, NPR, Washington Post, Guardian, White House, diolah kembali oleh tim kilatnews.id.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *