Ekonomi

Harga Pangan Sabtu 25 Oktober: Beras SPHP Turun, Premium Justru Naik

Jakarta — Pemerintah mencatat perkembangan harga pangan penting pada Jumat, 25 Oktober 2025, di mana terjadi penurunan harga beras jenis Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), namun di sisi lain harga beras premium justru mengalami kenaikan.

Rincian Pergerakan Harga

Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh lembaga pemantau harga pangan, dua komoditas utama — beras SPHP dan beras premium — menunjukkan tren berlawanan:

Hal ini menunjukkan intervensi pemerintah melalui skema stabilisasi mulai memberikan hasil nyata dalam menekan harga di segmen yang ditujukan bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Sebaliknya, beras premium mencatat kenaikan harga, yang diduga terkait dengan faktor kualitas, permintaan yang tetap tinggi, serta tekanan biaya produksi dan distribusi yang semakin terasa.

Data dari lembaga independen dan pemantauan pasar menyebut bahwa pada hari tersebut sejumlah wilayah mencatat penurunan hingga beberapa persen untuk beras SPHP — sedangkan beras premium naik dalam kisaran persentase yang cukup untuk membuat pihak otoritas dan pedagang waspada.

Faktor Penyebab Perubahan Harga

Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap pergerakan harga tersebut antara lain:

Program beras SPHP melalui Perum Bulog dan kebijakan stabilisasi stok membuat pasokan untuk segmen ini semakin tersedia, sehingga menekan harga.

Kenaikan biaya produksi dan distribusi Untuk beras premium, peningkatan biaya pupuk, tenaga kerja, dan transportasi telah mendorong biaya pokok. Dengan kualitas yang tinggi dan posisi pasar yang premium, kenaikan harga pun lebih mudah terjadi.

Permintaan berbeda antar segmen: Konsumen yang memilih beras premium cenderung tidak terlalu sensitif terhadap harga dan lebih memperhatikan mutu — kondisi ini memberi ruang kenaikan harga. Sementara beras SPHP diprioritaskan untuk daya beli rendah, sehingga tekanan penurunan harga lebih terasa.

Efisiensi rantai logistik dan ekspor-impor: Dalam beberapa kasus, hambatan logistik atau fluktuasi impor bisa berdampak pada segmentasi premium, sedangkan SPHP memiliki mekanisme pemerintah yang lebih terstruktur.

Dampak bagi Para Konsumen dan Pedagang

Dinamika harga ini membawa implikasi nyata:

Bagi konsumen berpenghasilan rendah, penurunan harga beras SPHP menjadi kabar baik karena bisa meringankan beban pengeluaran rumah tangga di segmen dasar kebutuhan pokok.

Respons Pemerintah Kebijakan yang Diperkuat

Pemerintah melalui lembaga terkait telah merespons pergerakan ini dengan langkah-langkah sebagai berikut:

Memperkuat monitoring harga dan stok beras, terutama segmentasi SPHP agar penurunan harga tetap berkelanjutan dan tidak disalahgunakan.

Menerapkan kebijakan untuk memastikan bahwa kenaikan harga beras premium tidak terjadi akibat praktik spekulasi atau distribusi yang tidak efisien.

Mempertegas bahwa kebijakan HET (Harga Eceran Tertinggi) untuk beras tetap relevan dan akan disosialisasikan ulang ke pedagang daerah agar sesuai ketentuan.

Mendorong bulog dan pemerintah daerah untuk memastikan ketersediaan stok di wilayah terpencil sehingga harga tidak melonjak secara drastis.

Sebagai contoh, survei di beberapa kota besar menunjukkan bahwa tim satgas pangan telah mulai turun ke pasar tradisional untuk memastikan bahwa harga beras medium dan premium bahkan SPHP sesuai dengan ketentuan zonasi wilayah.

Tantangan dan Catatan untuk ke Depan

Meskipun penurunan harga beras SPHP adalah kabar positif, terdapat beberapa catatan penting yang perlu diperhatikan:

Penurunan harga yang hanya terjadi sesaat belum menjamin stabilitas jangka panjang — bisa terjadi rebound ketika permintaan naik atau pasokan terganggu.

Kenaikan harga beras premium harus diwaspadai agar tidak membebani konsumen secara luas dan menciptakan persepsi bahwa harga pangan secara umum makin mahal.

Sistem distribusi nasional yang masih menghadapi hambatan logistik, terutama di wilayah timur Indonesia, bisa memicu ketidakrataan harga antar provinsi.

Keterlibatan sektor swasta dan rantai pasok modern harus terus ditingkatkan agar efisiensi logistik dan transparansi distribusi pangan membaik.

Mengapa Data Harian Penting untuk Stabilitas Pangan?

Perhatikan label dan mutu: Pastikan kualitas beras sesuai label agar tidak rugi membeli premium namun mendapatkan mutu di bawah standar.

Pantau promo dan paket volume: Banyak distributor menjual paket beras SPHP atau medium dalam promo yang bisa meringankan pembelian berkala.

Rencanakan belanja bulanan: Di saat harga sedikit menurun, seperti untuk SPHP, membeli dalam jumlah sedikit lebih banyak bisa membantu memitigasi kenaikan mendadak.

Simpan dengan baik: Pastikan penyimpanan beras benar agar tidak mudah rusak — kualitas rusak bisa membuat harga “murah” jadi kurang sepadan.

Kesimpulan

Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang — tantangan bagi pemerintah agar stabilitas harga tercapai secara menyeluruh, dan peluang bagi konsumen untuk mengambil manfaat dari segmen yang lebih ekonomis.

Ke depan, keberhasilan menjaga harga pangan tidak hanya terletak pada satu jenis beras saja, tetapi pada keseluruhan sistem pasokan, distribusi dan kebijakan yang responsif. Karena ketika harga pangan terutama beras stabil dan terjangkau, maka beban rumah tangga berkurang — dan kesejahteraan nasional meningkat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *