Erick Thohir Ungkap Kunci yang Dicari dari Pelatih Baru Timnas Indonesia
Jakarta – Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, secara terbuka membeberkan kriteria yang akan dijadikan tolok-ukur dalam pemilihan pelatih baru untuk Timnas Indonesia. Hal ini disampaikan dalam sebuah konferensi pers di ruang media stadion utama di Jakarta pada Jumat 24 Oktober 2025.
Langkah ini muncul setelah proses pemutusan kontrak dengan pelatih sebelumnya, sebagai bagian dari evaluasi mendalam terhadap performa serta arah strategis pengembangan sepakbola nasional. Erick menegaskan bahwa pencarian pelatih tidak dilakukan secara terburu-buru, melainkan dengan mempertimbangkan beberapa aspek esensial guna memperkuat struktur dan sistem tim nasional.
Latar Belakang Perubahan Pelatih
Sebelum penjelasan kriteria, penting memahami konteks kenapa PSSI kini berada di fase mencari sosok pelatih baru. Pelatih sebelumnya telah mengakhiri kerja sama dengan PSSI melalui kesepakatan bersama (mutual termination) pada pertengahan Oktober 2025.
Erick menegaskan bahwa nama-nama besar yang sempat muncul sebagai calon, seperti Louis van Gaal, Frank de Boer maupun Shin Tae‑yong bukanlah prioritas utama saat ini — karena PSSI masih dalam tahap profiling yang serius dan sistematis.
Kriteria Utama yang Diinginkan
Kapabilitas dan orientasi target
Erick menegaskan bahwa salah satu pertimbangan adalah: “Apakah pelatih ini bisa membawa tim ke target-target seperti masuk 16 besar Piala Asia maupun lolos Piala Dunia?”
Dalam konferensi pers, Erick Thohir menyebut beberapa kriteria utama yang menjadi syarat bagi calon pelatih Timnas Indonesia. Berikut ringkasannya:
Pelatih harus paham bahwa tugasnya bukan sekadar jangka pendek, tetapi juga bagian dari visi jangka menengah dan panjang.
Kemampuan komunikasi dan koordinasi internal
Salah satu hal yang menjadi sorotan adalah kemampuan pelatih untuk bisa berkomunikasi efektif dengan pihak federasi, badan tim nasional (BTN) serta seluruh struktur pembinaan usia muda. Erick menyebut: “Pelatih harus bisa menjalin hubungan yang baik dengan program Dirtek (Direktur Teknik) dan BTN, agar sinkronisasi antar level tim terjaga.”
Koherensi sistem di semua level usia
Ia juga menekankan bahwa pelatih senior tidak bisa berjalan sendiri tanpa sinkron dengan pelatih U-20, U-23, hingga U-17. Hal ini karena dalam pengembangan jangka panjang, sistem, filosofi dan gaya permainan yang sama harus diterapkan secara menyeluruh.
Relasi dengan pemain dan lingkungan tim
Erick menggarisbawahi bahwa hubungan antar elemen (pelatih–pemain, pelatih–pembinaan, pelatih–federasi) sangat menentukan. Pelatih yang terlalu jauh dari komunikasi, atau yang kurang adaptasi dengan kultur tim nasional, dinilai kurang cocok.
Tidak mencari pelatih sempurna, tetapi yang ‘paling cocok’
Ia mengakui bahwa tidak ada “pelatih sempurna”. Namun, PSSI mencari pelatih yang paling cocok dengan kondisi dan tantangan tim nasional Indonesia saat ini — yang mampu memperbaiki kelemahan-kelemahan yang sebelumnya muncul.
Masalah Di Masa Lalu yang Ingin Diperbaiki
Erick juga menyentil beberapa aspek yang pernah menjadi hambatan dalam periode kepelatihan sebelumnya, antara lain: kurangnya sinkronisasi program antara pelatih senior dan pembinaan usia muda, serta komunikasi yang kurang maksimal antara pelatih dengan federasi.
Lebih jauh, Erick menyampaikan keprihatinannya atas aksi-aksi perundungan (bullying) terhadap pelatih dan staf tim nasional yang sebelumnya terjadi, baik melalui media sosial maupun direct message. Ia khawatir bahwa hal itu akan mempersulit PSSI dalam menarik pelatih berkualitas di masa depan. “Jangan sampai persepsi yang terjadi belakangan ini membuat posisi kita sulit mencari pelatih,” tuturnya.
Agenda dan Target ke Depan
Dalam kesempatan sama, Erick menyebut bahwa jeda kompetisi yang akan datang memberikan waktu bagi pelatih baru untuk beradaptasi. Sebagai contoh, di FIFA Matchday November nanti, tim senior dijadwalkan istirahat sementara tim U-23 akan fokus ke persiapan SEA Games 2025.
Target jangka menengah yang disebut adalah keikutsertaan pada Piala AFF 2026 di akhir tahun serta Piala Asia 2027, yang bagi PSSI menjadi tolok ukur sejauh mana tim nasional telah mengalami pembenahan.
Tantangan dan Harapan
Memilih pelatih yang tepat bukanlah hal mudah. Tantangan yang dihadapi PSSI antara lain:
Menemukan pelatih yang bukan hanya memiliki rekam jejak taktik yang baik, tapi juga mampu hidup dalam kultur sepakbola Indonesia yang unik.
Menjaga agar pemilihan pelatih tidak hanya bersifat reaktif, tetapi bagian dari visi jangka panjang pengembangan sepakbola nasional.
Memastikan bahwa pelatih yang akan dipilih benar-benar terintegrasi dengan struktur pembinaan usia muda, agar tidak muncul lagi kesenjangan antara level junior dan senior.
Di sisi lain, harapan yang disampaikan Erick cukup besar:
Pelatih yang akan dipilih mampu membawa Timnas Indonesia ke tempat yang lebih baik di kancah Asia dan dunia.
Sistem sepakbola nasional bisa lebih solid — dari pembinaan usia muda hingga tim senior — dengan satu filosofi permainan yang jelas dan konsisten.
Terjadi perubahan budaya yang lebih positif — baik dari sisi internal tim, federasi, maupun dari publik/penggemar sepakbola Indonesia.
Kesimpulan
Dalam pernyataannya, Erick Thohir menekankan bahwa pemilihan pelatih baru untuk Timnas Indonesia bukanlah sekadar memilih nama besar. Melainkan memilih figur yang cocok dengan kondisi tim, mampu beradaptasi dan berkomunikasi dengan baik, serta terintegrasi dalam struktur pembinaan dan federasi. Kriteria yang disebutkan mencerminkan keinginan PSSI untuk melakukan pembenahan sistemik — bukan hanya hasil jangka pendek — demi mewujudkan target-target besar seperti lolos Piala Dunia atau menembus babak 16 besar Piala Asia.
Dengan jeda kompetisi yang tersedia, PSSI berharap agar pelatih baru dapat mulai bekerja dengan tenang, melakukan adaptasi dan menyiapkan tim menuju tantangan ke depan seperti SEA Games, Piala AFF maupun Piala Asia. Dan bagi penggemar sepakbola Tanah Air, momen ini merupakan titik awal harapan baru: bahwa Timnas Indonesia bisa bangkit dan menatap masa depan yang lebih cerah.

