FashionHiburan

Ketika Underwear Jadi Statement Fashion: Dari Celana Dalam Berbulu SKIMS hingga Balenciaga yang Bikin Geger

Jakarta — Tren “underwear sebagai pakaian luar” kini semakin nyata dalam kancah mode global. Apa yang dulu dianggap sebagai pakaian dalam tersembunyi, kini dipakai terbuka, dengan desain mencolok, logomania, dan bahkan bulu-bulu mewah. Tulisan Fimela mengangkat bagaimana merek seperti SKIMS dan Balenciaga memicu perhatian publik lewat koleksi celana dalam atau underwear yang sengaja ditampilkan sebagai bagian dari outfit—membuka kembali diskusi tentang batasan busana, eksposur tubuh dan identitas

Underwear Bisa Jadi Fashion Statement

Namun dalam dekade terakhir, tren “underwear as outerwear” (pakaian dalam dipakai sebagai pakaian luar) menguat, dibantu oleh selebritas, media sosial dan merek mode.
Harper’s Bazaar Australia

Dalam artikel Fimela, fenomena ini muncul dalam beberapa bentuk:

Celana dalam atau bikini underwear yang sengaja dibuat dengan desain hebat—warna mencolok, bulu-bulu, logomania besar—kemudian dipakai terbuka atau ditonjolkan.

Gaya layering di mana underwear muncul di bawah atasan transparan atau atasan terbuka, sehingga menjadi bagian estetika outfit.

Makna di Balik Tren

Mengapa banyak orang menyukai tren ini? Artikel Fimela dan berbagai analisis mode menyebut beberapa alasannya:

Ekspresi identitas & rasa percaya diri
Saat underwear tampil, ia menyiratkan keberanian untuk tampil beda, menolak norma bahwa pakaian dalam harus “tersembunyi”, dan justru dirayakan sebagai bagian outfit—mencerminkan rasa percaya diri dan identitas yang tak malu.

Gaya hidup yang berubah
Dengan kerja dari rumah, pakaian santai dan Instagram-able, konsumen populer mencari elemen busana yang unik, foto-friendly dan statement—underwear yang didesain mewah atau mencolok memenuhi kebutuhan tersebut.

Mode sebagai medium pemberontakan atau transformasi
Pakaian dalam yang muncul sebagai luar busana mengajak kita mempertanyakan norma-norma: apa yang boleh tampil di luar, bagaimana tubuh diekspos, dan siapa yang mengatur batasan tersebut. Seperti artikel di The Guardian menyebut bahwa underwear sebagai pakaian luar menjadi “statement” dalam runway maupun budaya populer.
The Guardian

Bisnis dan pemasaran mode
Merek menyadari bahwa konsumen mencari lebih dari fungsi—mereka mencari cerita, estetika, keunikan. Mengangkat underwear ke level fashion memberi peluang bagi inovasi desain dan pemasaran.

Respon Industri Mode & Konsumen

Respon terhadap tren ini sangat beragam:

Merek besar melihat peluang: koleksi underwear yang tampil terbuka, eksplorasi tekstur (seperti bulu), warna serta branding besar menjadi bagian dari koleksi season.

Konsumen muda menyambut karena memberi kesempatan untuk tampil lebih ekspresif—media sosial dan foto outfit jadi arena penting.

Kritik & kontroversi muncul: bagi sebagian pihak, underwear yang tampil terbuka dianggap vulgar atau melanggar norma budaya. Di Indonesia khususnya, sensitivitas budaya dan lingkungan sosial jadi pertimbangan penting.

Adaptasi lokal: merek lokal pun mengambil tren ini sebagai inspirasi—menawarkan underwear sebagai loungewear atau outerwear, atau layer dengan atasan transparan untuk gaya kota besar.

Keseimbangan gaya: Jika underwear jadi fokus, atasan atau luaran mungkin perlu simple supaya gaya tidak berlebihan.

Fungsionalitas & kenyamanan: Meskipun jadi statement, pakaian dalam tetap harus nyaman dipakai—desain unik tidak boleh mengorbankan kenyamanan atau struktur tubuh.

Perawatan & bahan: Underwear khusus yang didesain sebagai outerwear sering memakai bahan spesial—pastikan perawatan sesuai agar keindahan desain tetap terjaga.

Keberlanjutan mode: Tren cepat seperti ini bisa cepat berakhir—pilih desain yang bisa dipakai berulang atau layer yang fleksibel untuk masa depan.

Implikasi untuk Industri Mode Indonesia

Tren ini membuka peluang dan tantangan bagi industri fashion lokal di Indonesia:

Peluang desain local: Merek dalam negeri bisa menciptakan koleksi underwear yang memang dimaksudkan untuk tampil terbuka atau sebagai outerwear—menjawab pasar muda yang ekspresif.

Pemasaran digital & media sosial: Foto‐friendly underwear sebagai outerwear cocok untuk strategi sosial media—menjangkau konsumen Gen Z yang aktif di platform.

Label premium vs fast-fashion: Hanya bikin desain unik belum cukup—kualitas, bahan, ukuran dan brand story menjadi penting untuk membangun nilai.

Sensitivitas budaya: Indonesia dengan keragaman budaya perlu mempertimbangkan norma lokal—merek harus bisa menyeimbangkan inovasi dan penerimaan pasar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *